tita

Sabtu, 24 November 2012

Inikah Saya?


Yogyakarta, 23 Nopember 2012.
            Saya selalu bercita-cita—disamping  menjadi guru tentunya adalah—ingin menjadi penulis, cerita-cerita pendek telah banyak saya tulis tapi ketika karya itu saya baca kembali ternyata hasilnya tidak begitu baik menurut saya. Sudah mencoba mengikuti selera pasar yang memang kebanyakan menceritakan kisah cinta anak remaja. Saat-saat galau yang memang sedang menjadi trend. Tapi sudah sekuat pikiran pun, tetap saja karya itu tak begitu menarik dan tak ada nyawa saya di sana. Dan majalah mana pun sepertinya tidak mau repot-repot memuat karya saya yang berulang kali dikirim, hanya satu cerpen saya yang termuat itu pun di majalah SMA , judulnya “surga itu mahal” yang saya tulis bersama teman satu kamar kos bernama Dessy Relistia Fauziyah.
            Merambah menulis bait sajak, itu pun sudah saya lakukan sejak saya mulai bisa merangkai kata-kata. Hal itu sangat saya ingat, mulai kelas satu sekolah dasar barisan puisi sederhana yang sangat saya banggakan dan kemudian saya pamerkan pada ibu dan bapak saya. Kata-kata puisi standar tentang guru, petani dan segala hal yang saya temui di sekeliling. Karena memang banyak inspirasi yang bisa digali dari alam dimana saya tinggal, daerah dataran tinggi yang masih sejuk, embun pagi yang menetes menghitung langkah kecil-kecil kami yang sejak subuh telah siap dengan seragam merah putih untuk berangkat ke sekolah yang letaknya lumayan jauh. Satu sekolah dasar yang rata-rata perkelas berjumlah 20-an anak. Itu pun sudah dari beberapa dusun, memang daerah kami termasuk daerah yang berhasil menerapkan program keluarga berencana.  Walaupun demikian, ramai teriakan khas anak SD tetap bergema. Guru terbaik sepanjang saya mengenyam pendidikan ada di sana. Saya terlalu banyak terinsprirasi olehnya, dari hal itu pula saya tetap tidak akan mengubah impian saya sebagai seorang guru yang menginspirasi layaknya guru saya itu. Ia adalah sosok yang selalu memberikan dorongan semangat kepada murid-muridnya, memuji jawaban kami atas pertanyaan yang ia berikan walaupun itu ternyata salah. Karena itu pula tekad saya menjadi guru idola semakin kuat, saya ingin menjadi sosok  seperti dia, ibu Wiwin namanya, seorang guru yang senyumnya menjadikan saya percaya akan sebuah mimpi dan cita-cita, wali kelas satu yang sangat saya hormati hingga saat ini. Dari pelajaran bahasa Indonesia yang beliau ajarkan, saya bisa menulis puisi pertama saya beberapa bait yang diawali dengan kata “ooohhh...guru”.
            Menulis puisi adalah hobi saya, beberapa buah buku tulis telah habis saya tulisi dengan rangkaian kata-kata yang semakin hari-semakin bermakna. Saya ingat ketika sekolah dasar kelas pertengahan, saya rajin mengirim puisi ke sebuah buletin sekolah tetangga, saya bisa dengan mudah mengirimnya dengan menitipkannya pada tante saya yang kebetulan mengajar di sekolah tetangga tersebut. Kelas lima SD, saya bisa menyabet juara 3 pembaca puisi terbaik se-kecamatan, dan kelas enam SD saya membacakan sajak sunda di wilayah kabupaten, sungguh pengalaman berharga berada di depan orang banyak sebagai pusat perhatian. Dan berlanjut hingga SMA, beberapa puisi saya berhasil dimuat di majalah sekolah dan ternyata teman-teman pun merespon baik, tetapi makin kesini saya seperti kehilangan nyawa saya pula pada puisi, saya seperti membodohi diri sendiri ketika mencoba menulis puisi tentang cinta, karena mungkin di dalamnya ada ketidakjujuran, saya mungkin berniat untuk diakui pasar tetapi bukan menampilkan diri saya yang sebenarnya, saya ingin kembali membuat puisi yang benar-benar berisikan tentang saya, dan hingga saat ini masih harus mencoba.
            Sepertinya tema cinta selalu menarik untuk digali terutama dalam bentuk cerita, katakanlah cerpen atau sinetron. Ya, cinta di sini teramat terbatas, cinta-cintaan alias cinta monyet. Saya juga pernah berada dalam lingkaran itu, mencoba mengembangkan talenta saya dalam hal menulis, dan saya ingin pula seperti kebanyakan penulis teenlit yang banyak beredar, dengan bebas menari-narikan jemari mereka untuk mengungkap satu macam cerita berbagai versi bertemakan ‘cinta’. Cinta anak sekolah? Sudah saya coba baca, tapi ternyata standar saja. Saya tetap tak bisa berhasil mengikuti kontes cerita pendek manapun. Saya sempat kehilangan hasrat untuk menulis.
            Tapi apakah saya benar-benar berhenti menulis? Seperti itu iya tapi ternyata tanpa disadari, setiap hari ada saja yang saya tulis. Dari mulai menulis SMS kepada orangtua dan teman-teman, menulis status di jejaring sosial dan ternyata tugas-tugas kuliah yang menumpuk ini pun adalah karya saya juga. Dan setelah satu mata kuliah ini ada dan saya ikuti, ternyata saya baru sadar, passion saya di sini. Tugas-tugas makalah saya yang jika dikumpulkan bisa beribu halaman itu, telah menjadi nafas baru agar nyawa saya bisa kembali. Mata kuliah media pembelajaran adalah mata kuliah yang membuka mata saya, akan lembar baru 10 tahun pengejaran cita-cita yang wajib terealisasi yaitu menjadi ‘penulis’. Lalu apa yang saya tulis? Cerita cinta lagi? ataukah puisi yang kehilangan makna? Semoga tebakan ini benar dan menjadi mimpi saya yang akan saya ajukan pada Tuhan malam ini, saya ingin menjadi penulis buku pelajaran untuk anak sekolah. Isinya? Saya ingin menanamkan pelajaran yang tanpa mereka sadari bisa membuat mereka menitipan mimpi-mimpinya pada kerlip bintang di langit, untuk mengubah dunia ini menjadi lebih baik. Saya mungkin terdengar konyol, tapi ini bagian dari ribuan mimpi saya, yang harus saya wujudkan. Ini tentu tidak akan mudah, tapi pasti bisa teratasi apabila saya mau memulai berkarya. Dimulai dari hal kecil dan sederhana, diawali dengan do’a yang tulus agar anak Indonesia tidak terkungkung terus menerus dalam pemahaman teks yang membingungkan tapi pengalaman lah yang dapat membuat mereka mengerti akan suatu pelajaran, apakah itu pelajaran di dalam 4 dinding kelas, atau pun pelajaran sesungguhnya, yaitu kehidupan.
            Tuhan... hari ini, saya Tita Prawesti mengajukan proposal hidup saya, 20 tahun ke depan saya sudah menjadi pengajar idola (dosen) yang paling menginspirasi plus menjadi penulis buku pelajaran—yang terkenal dan di buru  penerbit—untuk anak sekolah yang menarik, mudah dipahami dan sarat akan pembelajaran yang mengedepankan pendekatan mengalami, tujuannya agar saya bisa terus mengembangkan diri, sebagai pembuktian bahwa hinaan yang mereka layangkan pada saya bukan menjadi sebuah duri yang menghalangi langkah saya tapi menjadi pupuk kandang yang walaupun itu bau tetapi bisa menyuburkan tanaman cita-cita dan motivasi saya. Sebagai sarana ibadah saya untuk membantu sesama dan penerus bangsa, dan semua hasil ini akan saya persembahkan untuk kedua orangtua saya yang selalu rela hati bersusah raga untuk menyekolahkan saya hingga saat ini. Semoga mimpi ini bukan hanya saya jadikan sekadar mimpi tapi ketika bangun nanti saya akan kejar sampai dapat. Dan segala proses saya nikmati. Wallahu’alam bisshawab. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar