Yogyakarta, 23 Nopember 2012.
Saya selalu
bercita-cita—disamping menjadi guru
tentunya adalah—ingin menjadi penulis, cerita-cerita pendek telah banyak saya
tulis tapi ketika karya itu saya baca kembali ternyata hasilnya tidak begitu
baik menurut saya. Sudah mencoba mengikuti selera pasar yang memang kebanyakan
menceritakan kisah cinta anak remaja. Saat-saat galau yang memang sedang menjadi
trend. Tapi sudah sekuat pikiran pun, tetap saja karya itu tak begitu menarik
dan tak ada nyawa saya di sana. Dan majalah mana pun sepertinya tidak mau
repot-repot memuat karya saya yang berulang kali dikirim, hanya satu cerpen
saya yang termuat itu pun di majalah SMA , judulnya “surga itu mahal” yang saya
tulis bersama teman satu kamar kos bernama Dessy Relistia Fauziyah.
Merambah
menulis bait sajak, itu pun sudah saya lakukan sejak saya mulai bisa merangkai
kata-kata. Hal itu sangat saya ingat, mulai kelas satu sekolah dasar barisan
puisi sederhana yang sangat saya banggakan dan kemudian saya pamerkan pada ibu
dan bapak saya. Kata-kata puisi standar tentang guru, petani dan segala hal
yang saya temui di sekeliling. Karena memang banyak inspirasi yang bisa digali
dari alam dimana saya tinggal, daerah dataran tinggi yang masih sejuk, embun
pagi yang menetes menghitung langkah kecil-kecil kami yang sejak subuh telah
siap dengan seragam merah putih untuk berangkat ke sekolah yang letaknya
lumayan jauh. Satu sekolah dasar yang rata-rata perkelas berjumlah 20-an anak.
Itu pun sudah dari beberapa dusun, memang daerah kami termasuk daerah yang berhasil
menerapkan program keluarga berencana.
Walaupun demikian, ramai teriakan khas anak SD tetap bergema. Guru
terbaik sepanjang saya mengenyam pendidikan ada di sana. Saya terlalu banyak
terinsprirasi olehnya, dari hal itu pula saya tetap tidak akan mengubah impian
saya sebagai seorang guru yang menginspirasi layaknya guru saya itu. Ia adalah
sosok yang selalu memberikan dorongan semangat kepada murid-muridnya, memuji
jawaban kami atas pertanyaan yang ia berikan walaupun itu ternyata salah.
Karena itu pula tekad saya menjadi guru idola semakin kuat, saya ingin menjadi
sosok seperti dia, ibu Wiwin namanya,
seorang guru yang senyumnya menjadikan saya percaya akan sebuah mimpi dan
cita-cita, wali kelas satu yang sangat saya hormati hingga saat ini. Dari pelajaran
bahasa Indonesia yang beliau ajarkan, saya bisa menulis puisi pertama saya
beberapa bait yang diawali dengan kata “ooohhh...guru”.
Menulis
puisi adalah hobi saya, beberapa buah buku tulis telah habis saya tulisi dengan
rangkaian kata-kata yang semakin hari-semakin bermakna. Saya ingat ketika sekolah
dasar kelas pertengahan, saya rajin mengirim puisi ke sebuah buletin sekolah
tetangga, saya bisa dengan mudah mengirimnya dengan menitipkannya pada tante
saya yang kebetulan mengajar di sekolah tetangga tersebut. Kelas lima SD, saya
bisa menyabet juara 3 pembaca puisi terbaik se-kecamatan, dan kelas enam SD
saya membacakan sajak sunda di wilayah kabupaten, sungguh pengalaman berharga
berada di depan orang banyak sebagai pusat perhatian. Dan berlanjut hingga SMA,
beberapa puisi saya berhasil dimuat di majalah sekolah dan ternyata teman-teman
pun merespon baik, tetapi makin kesini saya seperti kehilangan nyawa saya pula
pada puisi, saya seperti membodohi diri sendiri ketika mencoba menulis puisi
tentang cinta, karena mungkin di dalamnya ada ketidakjujuran, saya mungkin
berniat untuk diakui pasar tetapi bukan menampilkan diri saya yang sebenarnya,
saya ingin kembali membuat puisi yang benar-benar berisikan tentang saya, dan
hingga saat ini masih harus mencoba.
Sepertinya
tema cinta selalu menarik untuk digali terutama dalam bentuk cerita, katakanlah
cerpen atau sinetron. Ya, cinta di sini teramat terbatas, cinta-cintaan alias
cinta monyet. Saya juga pernah berada dalam lingkaran itu, mencoba
mengembangkan talenta saya dalam hal menulis, dan saya ingin pula seperti
kebanyakan penulis teenlit yang banyak beredar, dengan bebas menari-narikan
jemari mereka untuk mengungkap satu macam cerita berbagai versi bertemakan
‘cinta’. Cinta anak sekolah? Sudah saya coba baca, tapi ternyata standar saja.
Saya tetap tak bisa berhasil mengikuti kontes cerita pendek manapun. Saya
sempat kehilangan hasrat untuk menulis.
Tapi
apakah saya benar-benar berhenti menulis? Seperti itu iya tapi ternyata tanpa
disadari, setiap hari ada saja yang saya tulis. Dari mulai menulis SMS kepada
orangtua dan teman-teman, menulis status di jejaring sosial dan ternyata tugas-tugas
kuliah yang menumpuk ini pun adalah karya saya juga. Dan setelah satu mata
kuliah ini ada dan saya ikuti, ternyata saya baru sadar, passion saya di
sini. Tugas-tugas makalah saya yang jika dikumpulkan bisa beribu halaman itu,
telah menjadi nafas baru agar nyawa saya bisa kembali. Mata kuliah media
pembelajaran adalah mata kuliah yang membuka mata saya, akan lembar baru 10
tahun pengejaran cita-cita yang wajib terealisasi yaitu menjadi ‘penulis’. Lalu
apa yang saya tulis? Cerita cinta lagi? ataukah puisi yang kehilangan makna?
Semoga tebakan ini benar dan menjadi mimpi saya yang akan saya ajukan pada
Tuhan malam ini, saya ingin menjadi penulis buku pelajaran untuk anak sekolah.
Isinya? Saya ingin menanamkan pelajaran yang tanpa mereka sadari bisa membuat
mereka menitipan mimpi-mimpinya pada kerlip bintang di langit, untuk mengubah
dunia ini menjadi lebih baik. Saya mungkin terdengar konyol, tapi ini bagian
dari ribuan mimpi saya, yang harus saya wujudkan. Ini tentu tidak akan mudah,
tapi pasti bisa teratasi apabila saya mau memulai berkarya. Dimulai dari hal
kecil dan sederhana, diawali dengan do’a yang tulus agar anak Indonesia tidak
terkungkung terus menerus dalam pemahaman teks yang membingungkan tapi
pengalaman lah yang dapat membuat mereka mengerti akan suatu pelajaran, apakah
itu pelajaran di dalam 4 dinding kelas, atau pun pelajaran sesungguhnya, yaitu
kehidupan.
Tuhan...
hari ini, saya Tita Prawesti mengajukan proposal hidup saya, 20 tahun ke depan saya
sudah menjadi pengajar idola (dosen) yang paling menginspirasi plus menjadi
penulis buku pelajaran—yang terkenal dan di buru penerbit—untuk anak sekolah yang menarik,
mudah dipahami dan sarat akan pembelajaran yang mengedepankan pendekatan mengalami,
tujuannya agar saya bisa terus mengembangkan diri, sebagai pembuktian bahwa
hinaan yang mereka layangkan pada saya bukan menjadi sebuah duri yang
menghalangi langkah saya tapi menjadi pupuk kandang yang walaupun itu bau
tetapi bisa menyuburkan tanaman cita-cita dan motivasi saya. Sebagai sarana
ibadah saya untuk membantu sesama dan penerus bangsa, dan semua hasil ini akan
saya persembahkan untuk kedua orangtua saya yang selalu rela hati bersusah raga
untuk menyekolahkan saya hingga saat ini. Semoga mimpi ini bukan hanya saya
jadikan sekadar mimpi tapi ketika bangun nanti saya akan kejar sampai dapat.
Dan segala proses saya nikmati. Wallahu’alam bisshawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar