Semoga ini merupakan ujian naik kelas dan saya bisa berhasil menyelesaikannya dengan baik, Amin.
2014 adalah tahun yang sangat kompleks bagi saya.
2014 adalah tahun yang sangat kompleks bagi saya.
Januari adalah bulan ketika saya berhasil
menyelesaikan kuliah tepat tiga tahun empat bulan sepuluh hari. Februari
merupakan bulan ketika saya bisa berkesempatan untuk bertadzabur alam ke salah
satu pasak bumi, Gunung Lawu, dan tepat seminggu setelah itu erupsi Kelud pun
terjadi, Allah menyelamatkan saya. Bagaimana kalau seandainya saya naik gunung
ketika erupsi Kelud, entah apa yang terjadi?
April adalah gerbang baru menuju fase ‘the real life’
dalam kehidupan saya, 5 April 2014 adalah hari ketika orangtua saya
menyunggingkan senyum lebarnya ketika melihat anak semata wayang yang mereka
besarkan, didik, dan sekolahkan ini bisa mengenakan toga dan berkumandanglah
nama bapak saya disertai predikat cumlaude (lulus dengan pujian) setelah
itu. Saya yakin, orangtua saya sangat bersyukur ketika anak gadisnya yang
sekian lama jauh terpisah dari mereka, berhasil menyelesaikan sekolah tinggi,
hasil dari do’a, keringat, dan darah perjuangan mereka. Orangtua yang banyak
menginspirasi para tetangga karena kegigihan mereka melakukan usaha positif
apapun hanya agar anaknya dapat bersekolah. Walaupun tak jarang banyak cibiran
dan keraguan-keraguan yang selalu muncul, “apakah mampu mereka menyekolahkan
anaknya tinggi? SPP-nya mau dibayar pake apa?”. Betul bapak saya seorang
petani, sering sakit-sakitan, dan terlihat jauh lebih tua daripada usia
aslinya, tapi apatah Allah menutup mata dari do’a dan usahanya? Tentu tidak!!
Sayalah hasilnya, Allah menunjukkan betapa manusia itu hanya butuh yakin terhadap
janji-Nya. Al-Anfal: 53 “Sesungguhnya Allah sekali-kali
tidak akan merubah sesuatu ni'mat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu
kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan
sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Satu bulan penantian mencari bekal
untuk cita-cita saya masa depan, Allah memberikan nikmat kembali di akhir Mei
ketika menjadi salahsatu bagian dari Bank Mandiri. Setelah sebelumnya maag saya
kambuh. Lalu satu minggu berjalan di masa training, saya terkena batuk flu, flu
selesai saya terkena cacar air, setelah sembuh cacar air saya kembali terkena
flu. Dan akhirnya semua itu bisa terlewati, mungkin ada kalanya saya mengeluh,
mengapa nikmat sehat saya berkurang beberapa waktu itu, tapi toh saya berhasil
melewatinya.
Nikmat Allah dalam bentuk lain
datang kembali, dan wujudnya berupa kesempatan ketika saya kehilangan tas tepat
ketika sedang melaksanakan salat magrib berjama’ah di salahsatu masjid di
Wirobrajan. Jadi begini ceritanya, sore itu 23 Juli 2014 saya menemani seorang
teman yang hendak mencari kerudung, dan saya rekomendasikan untuk hunting di
daerah Ahmad Dahlan dan dari beberapa toko belum ada yang jilbab yang sesuai,
akhirnya Sakola pun jadi pelabuhan hunting
terakhir, setelah selesai hunting, karena waktu berbuka puasa sudah
hampir tiba, saya merekomendasikan untuk makan di daerah Wirobrajan, kebetulan
memang saya pernah beberapa kali makan di tempat itu. Setelah selesai makan,
saya dan Heni (teman saya) salat magrib di mesjid sebrang dan setelah mukena
selesai dilipat tiba-tiba Heni memekik dan bertanya “ Tita, tasmu dimana?”,
saya belum sadar saat itu, baru beberapa waktu kemudian saya langsung lunglai
tak percaya dan sibuk bertanya pada orang-orang di mesjid itu mengenai
keberadaan tas saya, tapi nihil tak seorang pun tahu. Yang anehnya, setiap saya
salat di masjid, barang-barang bawaan saya pasti disimpan di depan, tapi kok
waktu itu saya simpan di belakang? Saya husnudzan saja, karena posisi bulan
ramadhan dan kebetulan tas Heni pun tepat di samping tas saya. Tapi ternyata
saya memang harus lebih berhati-hati lagi, kejahatan itu memang tergantung
kesempatannya. Tas Heni baik-baik saja dan utuh tanpa kurang suatu apapun, lha
tas saya yang notabene-nya tas ransel dan bentuknya seperti tas pria mungkin
terlihat lebih mudah untuk diambil. Tas
itu terlalu banyak history-nya, dan yang saya sangat sesalkan lagi, ada
beberapa barang berharga dan vital didalamnya. Catatan training saya mengenai
produk Bank Mandiri, Flesdis toshiba pink 8GB, flesdis kingston buluk 1GB yang
sudah pernah nyemplung di kuah lodeh, Handphone nokia dan samsung galaxy
young (edisi wanita-la fleur), e-ktp, ATM Mandiri (rekening gajian) dan BRI,
buku tabungan mandiri yang kok bisa-bisanya saya bawa? Padahal biasanya saya
simpan di kamar. Uang memang tidak terlalu banyak tapi Rp.105.000 bagi saya
bisa menyambung hidup saya sebagai anak kos di akhir bulan. Tapi saya sangat
bersyukur, untungnya gajian masih tanggal 25, masih ada waktu untuk mengurus
lagi dokumen-dokumen saya.
Yang paling penting, Saya masih
sangat bersyukur, yang hilang bukanlah keimanan saya. bagaimana tidak? Malah
menurut saya, dengan hilangnya barang-barang ini, saya semakin percaya bahwa
Allah selalu menyertakan hal-hal yang jauh lebih baik setelah Allah menempatkan
saya pada situasi yang buruk. Ketika saya dengan pucat pasi, lemas, dan syok
tidak tau apa yang akan saya lakukan. Allah menyertakan ‘orang-orang-Nya’ untuk
membantu saya. Allah mendampingkan saya dengan seorang teman yang tenang dan
mampu meredam kekalutan saya, thanks Heni J. Allah pun menyentuh
hati mas-mas, mbak-mbak, dan bapak-bapak yang kebetulan berada di mesjid itu.
Merreka dengan mudahnya memberikan saya bantuan berupa solusi, dan
handphone-nya untuk terlebih dahulu saya blokir ATM Mandiri saya. beberapa handphone
sudah saya gunakan untuk telpon ke 14000 tetapi masih “kiwing” istilah untuk
seluruh staff sedang sibuk melayani nasabah lain, dan akhirnya pulsa habis,
saya pun tidak enak pada mereka. Tetapi pertolongan Allah tidak berhenti sampai
disitu, datang beberapa jama’ah yang akan melaksanakan salat tarawih, dan
seorang bapak menawarkan hp-nya untuk saya gunakan, dan akhirnya saya berhasil
tersambung dengan Mandiri Call Staff (yang saya lupa nama CS-nya) bagian
pemblokiran debit, dan ATM saya akhirnya terblokir, Alhamdulillah.
Dengan kondisi saya tak punya uang
sepeserpun, teman saya dengan ikhlas membantu semua keperluan sementara saya. saya
yakin, Allah telah menyiapkan saya rezeki yang lebih besar setelah ini. Semoga
105.000 dan semua isi tas itu bisa menjadi manfaat bagi si-pencuri, tapi saya
percaya tidak akan menjadi barokah ketika itu adalah hasil curian, wuft. Semoga
yang nyuri bisa sadar, saya korban terakhirnya dan jangan sampai terulang lagi
kasus serupa.
Beberapa
pelajaran berharga:
1.
Selalu back-up data-data dari hp-mu
2.
Simpanlah beberapa peser uang di kamar untuk cadangan
3.
For safety, hapalkan no telepon yang bisa dihubungi saat
urgent
4.
Jagalah barang bawaan Anda agar tidak hilang dan
tertinggal
5.
Bertawakal dan belajar ikhlas walaupun tak mudah
6.
Percayalah! Selalu percaya! Allah akan selalu menyertakan
kemudahan setelah datangnya kesulitan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar