tita

Selasa, 10 Mei 2016

MENDOAKAN DALAM DIAM

Menjadi muda itu biasa, menikmati muda itu yang harus ditata. Tidaklah sulit mengikuti arah semena-mena, yang perlu perjuangan adalah menjadi diri sendiri, berlari pada target yang masih tertulis di tembok kamar itu, yang dulu setiap sepertiga malam kuajukan. 100 daftar target pencapaian si tunggal yang berjalan saja terengah-engah tanpa bisa bermegah-megah. Dalam kepasifan dan ketidakpastian, pasti ada titik penyerahan tapi bukan berarti menyerah. Saya sepenuhnya sadar, dunia ini realistis, materialistis pula. Tidak ada tempat pengakuan untuk orang yang ‘nama dan uang’ saja tidak punya, saya tahu itu. Cukuplah Rohmaan dan rohiim-Nya menjadi antusias dalam kerendahan diri dari tekanan realita. An-Nisaa ayat 45: “dan Allah lebih mengetahui (dari pada kamu) tentang musuh-musuhmu. dan cukuplah Allah menjadi pelindung (bagimu). dan cukuplah Allah menjadi penolong (bagimu).” 
Kompetisi, merayap-rayap saya merangkak, berbekal tangisan dan cercaan. Cukuplah itu menjadi pupuk kandang bau yang gatal namun menyuburkan. Beda.. antara kesungguhan dan keraguan. Bila berjuang saja malas memulai, bagaimana bisa diajak berperang? mengambil sedikit resiko itu mendebarkan tapi disitulah seninya. Ternyata dalam zona nyaman saja tidaklah cukup untuk bisa membuat perubahan. Sudah mulai terasa jelas sekarang.
Lagi-lagi usia... perempuan selayaknya saya bau-baunya sudah sering ditanyai. Tidaklah perlu sekolah tinggi-tinggi, karena ujungnya dapur juga. Alhamdulillah orangtua selalu demokratis dengan apapun yang menjadi pilihan si tunggal keras kepala ini. Tanpa diminta sudah tersedia, tapi ditanya sudah tau bagaimana menjawabnya. Yang repot mengatur malah orang yang nyatanya dirinya saja tak mampu diatur. Cukuplah sebagai ‘remetuk’ saat maghrib tiba. Mau tak mau, pura-pura tak peduli pun tetap saja mampir di hati. Apalagi semakin sering datang ke resepsi, harapan-harapan semacam itu kadang menyita sebagian pikiran saya. Kembali tersadar pada 100 target di tembok, keputusan akhirnya adalah belum berani saya berjalan ke arah sana. Karena kriteria saya begitu muluk-muluk. Saya perlu orang yang punya pundak yang kokoh, menghargai kesepakatan bersama, berkomitmen mau berbagi menjaga ibu-bapak saya, dan karena bersamanya surga semakin dekat. Siapa pun itu, kelak menjadi orang yang paham dan bukan semata karena melihat saya sebagai pribadi tapi saya dan keluarga besar yang majemuknya minta ampun. Yang ada sekarang adalah dua wajah yang selalu bersiap menanti setiap kepulangan saya dengan penuh kepercayaan dan tumpuan harapan. Setiap jengkal kerinduan mereka semoga menjadi jihad keduanya. Saya yakin, ketika kita mendahulukan kepentingan orang tua, InsyaAllah keberkahan akan bertambah. Ridhollohi fii ridholwalidaiin.
Al-Isra’ (17): 23-25 “(23) dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia. (24) dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (25) Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, Maka Sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat.” 
Hari ini, belajar menjadi netral tanpa keberpihakan. Semoga ditetapkan hati. Cukuplah saling mendoakan dalam diam. Kepadanya yang sudah tertulis di lauhul mahfuudz.. nantikanku di batas waktu. Wallahu a’lam bisshowab. ^^
Al-Insyiroh (94) : 5-6. “karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” 
Yogyakarta, 2 Shaaban 1437 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar