Belajar itu
melelahkan. Buktinya setelah belajar, saya perlu makan, minum dan seringnya
mengantuk hehe.. belajar itu kadang membosankan, apalagi bagi saya versi kecil.
Semakin besar, belajar itu semakin berat, tapi untuk versi saya yang seperempat
abad sekarang, belajar itu dibutuhkan.
Ada masanya,
belajar itu adalah tuntutan dari orang tua, beralih pada orientasi pengumpulan
nilai, dan ada masanya belajar itu keharusan demi kelangsungan hidup.
Teringat pada masa
awal saya belajar mengucapkan huruf “R”, mamah secara telaten mengulangi terus
kata-kata yang banyak huruf “R”-nya, lalu saya menirukan. Madrasah terbaik buat
saya.
Tak selayaknya
anak zaman sekarang, yang dari usia 0 tahun pun sudah sekolah, saya baru bisa
mencicipi bangku sekolah (bukan berarti njilat-njilat kursi loh) ketika usia
saya 6,5 tahun, kelas 1 SD. Karena rumah saya jauh dari peradaban (sengaja
dibuat dramatis) TK pada masa itu belum lazim. Baru ketika saya kelas 3 SD,
berdirilah TK Al-Qur’an yang tidak jauh dari SD.
Setiap hari jalan
kaki bersama teman-teman, jarak dari rumah ke sekolah kira-kira 2 km. Waktu
itu, hampir tidak ada anak yang diantar jemput dengan kendaraan. Dan saya lebih
suka jalan bersama teman laki-laki karena mereka cepat ketika berjalan, beda
sama teteh-teteh sepanjang jalan ngobrolnya terlalu banyak. Kadang saya lebih
suka menculat sendiri, biar cepat sampai rumah.
Pulang sekolah
sekitar dzuhur, ganti baju lalu makan, shalat dzuhur dan berangkat kembali ke
madrasah (TPQ/ Taman Pendidikan Al-Qur’an). Jarang saya berangkat bersama
teman-teman, karena kebanyakan dari teman seusia saya mengajinya setelah magrib
di masjid (kadang malah nggak ngaji sama sekali). Saya ikut dengan anak-anak
yang usianya di bawah saya, mengaji Qiro’ati dan Alhamdulillah kelas 5 sudah
mendapat syahadah.
Banyak komentar
dari saudara atau tetangga, yang bilang “kasihan”, “capek” baru pulang sekolah kok
langsung ngaji? Mainnya kapan? Mungkin, bagi kebanyakan orang tua pada saat itu
melihat saya mondar-mandir berangkat sekolah-pulang-berangkat ngaji-pulang,
berpikir “kok tega?” orang tua saya sering dicap terlalu streng. Alhamdulillah
mau hujan, tak ada teman, mamah atau bapak secara bergiliran mengantar atau
menjemput saya ke madrasah. Saya di madrasah juga main kok, saya juga tidak
kehilangan masa-masa bahagia ketika itu. Di madrasah, belajar membaca Al-Qur’an dengan metode
Qiro’ati, hafalan juz ‘Amma, ngaji lagam, khot, sedikit bahasa Arab, Shiroh,
belajar kitab kuning, dan bersosial bersama teman. Saya juga kadang main karet,
main petasan pletokan -mentol istilahnya- yang bunyi ketika dipukul batu,
kadang saya main ke sawah dekat madrasah, main air, cari ikan kecil –berenyit. Kayaknya
full day school juga deh saya tuh sebenernya hehe, jam setengah 7 sekolah SD
negeri lanjut belajar agama di madrasah, pulang ke rumah jam 4. Saya belajar umum,
belajar agama, main, dan saya bahagia.
Atas izin Allah,
ilmu yang saya dapatkan dari berbagai sumber itu, bisa dirasakan manfaatnya
sampai sekarang. Kalau saya setoran hafalan atau tes baca Al-Qur’an, pertanyaan
default mondok di mana? Hmmm saya pesantren kilat aja sih. Mondok mah nggak
pernah. Sekolah aja negeri semua.
Istiqomahnya
orangtua saya untuk mengantarkan, mendukung saya untuk tetap belajar itu sangat
terasa sampai sekarang. Dari kecil saya ingin jadi guru, sampai-sampai mamah
membelikan white board dan membiarkan saya seharian mengajar beliau. Alhamdulillah,
saya sekarang diberi jalan untuk mengamanahkan ilmu saya bersama anak-anak di
sekolah.
Melihat fenomena
teman-teman saya yang rata-rata menjadi pendidik di sekolah negeri, waktu libur
Ramadhan plus kenaikan kelas ini sangatlah panjang, seluruhnya satu bulan. Saya
yang notabene-nya menjadi bagian dari sekolah swasta, mendapat libur satu
minggu dan itu amat berharga. Memang terlihat kontras, tetapi saya sangat
bersyukur, libur dipergunakan dengan target-target tertentu yang harus
benar-benar bermanfaat, 1) mudik dan berkumpul dengan keluarga (perjalanan
Jogja-Ciamis seharian, belum kalau kena macet), 2) silaturahmi keluarga dan
tetangga, 3) memperbaiki kualitas diri, 4) lain-lain. Setelah anak-anak libur,
kami tidak langsung ikut libur, tapi banyak kegiatan yang harus diikuti, ada
pembinaan, menyusun program, dan segala hal yang mendukung proses KBM di
sekolah. Menjadi bagian dari sekolah Tauhid adalah kebanggaan tersendiri, kami
tidak pernah berhenti belajar, diajak terus menerus untuk memperbaiki kualitas
dan yang masuk ke dalam relung hati yang terdalam adalah diajak menuju syurga
berjama’ah. Siapa yang tidak ngiler dengan itu semua? Ketika saya tersadar,
Allah memang adil ya? Laa haula walaa quwwata illaa billaah.
Saya memang tidak
sekolah Batita-Play group maupun TK. Tapi pelajaran di rumah (Home Schooling
biar lebih keren) bersama mamah dan bapak sangat membekas hingga sekarang. Itulah
gunanya ada integrasi antara belajar di sekolah dan di rumah. Karena waktu
anak, lebih banyak dihabiskan di rumah. Ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya,
mamah memang bukan guru sekolah, bukan pegawai, tapi beliau madrasah bagi saya
sampai kapan pun, tidak akan pernah pensiun.
Ciamis,
28 Ramadhan 1437 H
Tidak ada komentar:
Posting Komentar