tita

Jumat, 05 Agustus 2016

Variant of Belajar

Belajar itu melelahkan. Buktinya setelah belajar, saya perlu makan, minum dan seringnya mengantuk hehe.. belajar itu kadang membosankan, apalagi bagi saya versi kecil. Semakin besar, belajar itu semakin berat, tapi untuk versi saya yang seperempat abad sekarang, belajar itu dibutuhkan.
Ada masanya, belajar itu adalah tuntutan dari orang tua, beralih pada orientasi pengumpulan nilai, dan ada masanya belajar itu keharusan demi kelangsungan hidup.  

Teringat pada masa awal saya belajar mengucapkan huruf “R”, mamah secara telaten mengulangi terus kata-kata yang banyak huruf “R”-nya, lalu saya menirukan. Madrasah terbaik buat saya.
Tak selayaknya anak zaman sekarang, yang dari usia 0 tahun pun sudah sekolah, saya baru bisa mencicipi bangku sekolah (bukan berarti njilat-njilat kursi loh) ketika usia saya 6,5 tahun, kelas 1 SD. Karena rumah saya jauh dari peradaban (sengaja dibuat dramatis) TK pada masa itu belum lazim. Baru ketika saya kelas 3 SD, berdirilah TK Al-Qur’an yang tidak jauh dari SD.
Setiap hari jalan kaki bersama teman-teman, jarak dari rumah ke sekolah kira-kira 2 km. Waktu itu, hampir tidak ada anak yang diantar jemput dengan kendaraan. Dan saya lebih suka jalan bersama teman laki-laki karena mereka cepat ketika berjalan, beda sama teteh-teteh sepanjang jalan ngobrolnya terlalu banyak. Kadang saya lebih suka menculat sendiri, biar cepat sampai rumah.
Pulang sekolah sekitar dzuhur, ganti baju lalu makan, shalat dzuhur dan berangkat kembali ke madrasah (TPQ/ Taman Pendidikan Al-Qur’an). Jarang saya berangkat bersama teman-teman, karena kebanyakan dari teman seusia saya mengajinya setelah magrib di masjid (kadang malah nggak ngaji sama sekali). Saya ikut dengan anak-anak yang usianya di bawah saya, mengaji Qiro’ati dan Alhamdulillah kelas 5 sudah mendapat syahadah.
Banyak komentar dari saudara atau tetangga, yang bilang “kasihan”, “capek” baru pulang sekolah kok langsung ngaji? Mainnya kapan? Mungkin, bagi kebanyakan orang tua pada saat itu melihat saya mondar-mandir berangkat sekolah-pulang-berangkat ngaji-pulang, berpikir “kok tega?” orang tua saya sering dicap terlalu streng. Alhamdulillah mau hujan, tak ada teman, mamah atau bapak secara bergiliran mengantar atau menjemput saya ke madrasah. Saya di madrasah juga main kok, saya juga tidak kehilangan masa-masa bahagia ketika itu. Di madrasah,  belajar membaca Al-Qur’an dengan metode Qiro’ati, hafalan juz ‘Amma, ngaji lagam, khot, sedikit bahasa Arab, Shiroh, belajar kitab kuning, dan bersosial bersama teman. Saya juga kadang main karet, main petasan pletokan -mentol istilahnya- yang bunyi ketika dipukul batu, kadang saya main ke sawah dekat madrasah, main air, cari ikan kecil –berenyit. Kayaknya full day school juga deh saya tuh sebenernya hehe, jam setengah 7 sekolah SD negeri lanjut belajar agama di madrasah, pulang ke rumah jam 4. Saya belajar umum, belajar agama, main, dan saya bahagia.

Atas izin Allah, ilmu yang saya dapatkan dari berbagai sumber itu, bisa dirasakan manfaatnya sampai sekarang. Kalau saya setoran hafalan atau tes baca Al-Qur’an, pertanyaan default mondok di mana? Hmmm saya pesantren kilat aja sih. Mondok mah nggak pernah. Sekolah aja negeri semua.
Istiqomahnya orangtua saya untuk mengantarkan, mendukung saya untuk tetap belajar itu sangat terasa sampai sekarang. Dari kecil saya ingin jadi guru, sampai-sampai mamah membelikan white board dan membiarkan saya seharian mengajar beliau. Alhamdulillah, saya sekarang diberi jalan untuk mengamanahkan ilmu saya bersama anak-anak di sekolah.
Melihat fenomena teman-teman saya yang rata-rata menjadi pendidik di sekolah negeri, waktu libur Ramadhan plus kenaikan kelas ini sangatlah panjang, seluruhnya satu bulan. Saya yang notabene-nya menjadi bagian dari sekolah swasta, mendapat libur satu minggu dan itu amat berharga. Memang terlihat kontras, tetapi saya sangat bersyukur, libur dipergunakan dengan target-target tertentu yang harus benar-benar bermanfaat, 1) mudik dan berkumpul dengan keluarga (perjalanan Jogja-Ciamis seharian, belum kalau kena macet), 2) silaturahmi keluarga dan tetangga, 3) memperbaiki kualitas diri, 4) lain-lain. Setelah anak-anak libur, kami tidak langsung ikut libur, tapi banyak kegiatan yang harus diikuti, ada pembinaan, menyusun program, dan segala hal yang mendukung proses KBM di sekolah. Menjadi bagian dari sekolah Tauhid adalah kebanggaan tersendiri, kami tidak pernah berhenti belajar, diajak terus menerus untuk memperbaiki kualitas dan yang masuk ke dalam relung hati yang terdalam adalah diajak menuju syurga berjama’ah. Siapa yang tidak ngiler dengan itu semua? Ketika saya tersadar, Allah memang adil ya? Laa haula walaa quwwata illaa billaah.
Saya memang tidak sekolah Batita-Play group maupun TK. Tapi pelajaran di rumah (Home Schooling biar lebih keren) bersama mamah dan bapak sangat membekas hingga sekarang. Itulah gunanya ada integrasi antara belajar di sekolah dan di rumah. Karena waktu anak, lebih banyak dihabiskan di rumah. Ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya, mamah memang bukan guru sekolah, bukan pegawai, tapi beliau madrasah bagi saya sampai kapan pun, tidak akan pernah pensiun.

Ciamis, 28 Ramadhan 1437 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar