tita

Minggu, 23 Juli 2017

Urip Kudu Ngaji Part 3

Case discussion, Ponsya 1438 H

*Aisyah Sang Primadona*

Bagaimana tidak? di usianya lepas bangku kuliah, dia energik, senyum selalu mengembang seolah hidup tanpa beban, dilakoni setiap aktivitas dengan semangat dan penuh optimis, Meskipun usia sudah menginjak 25 tahun, terlihat tenang saja bergaul baik dengan sesama jenis maupun degan lawan jenis, dan dia nampakkan sikap tegas ketika khususnya berkomunikasi dengan lawan jenis.
Ketika disinggung, “ Kapan Mbak Aisyah nikah?” dia senyum simpul sambil berujar. “ Saya ini perempuan, tinggal menunggu siapa yang didatangkan Allah padaku”. “ Sudah ada calon Mbak?”.  “Wow, buaaanyak.... buaanyak bener, setiap laki-laki sholeh Insyaallah calon potensial gue, hehehe”.

Sambil terus bergerak, khususnya di medan dakwah, seolah tidak pernah kering dari ide brilian beliau, sehingga tentu saja banyak teman, sahabatnya baik putra maupun putri dekat dengannya, dan Aisyah pun bergaul dengan mereka dengan biasa saja, dan khususnya dengan lawan jenis selalu dijaga jarak, dan ketegasannya.

Best agent. Do the best, be the best. (Urip Kudu Ngaji Part 2)

Tugas menjadi wali kelas itu sama “sangar-nya” bahkan bisa lebih daripada menjadi call center kartu kredit.
Dua tahun yang lalu, ketika saya bekerja di daerah tugu untuk sebuah bank kenamaan di Indonesia. Saya berhadapan dengan Card Holder (CH) yang bermacam-macam. Bermodal pengetahuan yang sudah ditransfer selama training 1 bulan. Modal saya adalah mengolah keluarnya suara seramah mungkin, karena informasi yang dibutuhkan disampaikan via suara. Saya pernah berpikir, akan lebih mudah jika informasi itu disampaikan dengan bertatap muka langsung karena akan bisa dibantu dengan ekspresi wajah serta gesture tubuh kita.
LDR itu lebih menantang.. haha dan akhirnya kandas juga (ups).

Urip Kudu Ngaji Part 1

Kajian sesi pergaulan putra-putri bersama Ust. Umi Siti Ma’rifah, Lc.
*Ada anjuran nabi, wanita yang baik itu yang tidak memberatkan dalam hal mahar. Tapi pada prakteknya nabi sendiri apakah pernah memberikan mahar sedikit? Nabi hidupnya sederhana, tidak pernah menumpuk-numpuk harta, tetapi ketika menikah dia memberikan yang terbaik. Begitu juga para sahabat-sahabat yang lain.

Bahkan awal kisah tentang gugat cerai -perceraian yang datang dari perempuan- itu disarankan oleh nabi suruh mengembalikan maharnya. Maharnya dulu itu kebun yang terbaik, yang dimiliki yang terbaik yaitu kebun, kebun itulah yang dijadikan mahar ketika menikah dan ketika istrinya menggugat cerai oleh nabi dianjurkan untuk mengembalikan apa yang sudah menjadi maharnya itu. Jadi yang terbaik itu kebun, itupun dimaharkan, diberikan kepada calon istrinya. Yang kayak gini-gini itu jarang dibahas di Indonesia, yang dibahas itu yang jadi minimalis gitu walau dengan cincin dari besi, itu yang popular di Indonesia. Jadi nikah yang barokah itu yang semurah-murahnya mahar, itu yang dibesar-besarkan. Padahal prakteknya termasuk juga dalam Al-Qur’an surat An-Nisa kalau seorang suami akan mengganti kedudukan seorang istrinya mau menceraikan dan menikah dengan yang lain dan ia sudah memberikan mahar berupa kinthor, harta yang sangat banyak. Ada juga yang mengibaratkan kinthor sebagai gunung emas.