Kajian sesi pergaulan putra-putri
bersama Ust. Umi Siti Ma’rifah, Lc.
*Ada anjuran nabi, wanita yang
baik itu yang tidak memberatkan dalam hal mahar. Tapi pada prakteknya nabi
sendiri apakah pernah memberikan mahar sedikit? Nabi hidupnya sederhana, tidak
pernah menumpuk-numpuk harta, tetapi ketika menikah dia memberikan yang terbaik.
Begitu juga para sahabat-sahabat yang lain.
Bahkan awal kisah tentang gugat
cerai -perceraian yang datang dari perempuan- itu disarankan oleh nabi suruh
mengembalikan maharnya. Maharnya dulu itu kebun yang terbaik, yang dimiliki
yang terbaik yaitu kebun, kebun itulah yang dijadikan mahar ketika menikah dan
ketika istrinya menggugat cerai oleh nabi dianjurkan untuk mengembalikan apa
yang sudah menjadi maharnya itu. Jadi yang terbaik itu kebun, itupun
dimaharkan, diberikan kepada calon istrinya. Yang kayak gini-gini itu jarang
dibahas di Indonesia, yang dibahas itu yang jadi minimalis gitu walau dengan
cincin dari besi, itu yang popular di Indonesia. Jadi nikah yang barokah itu
yang semurah-murahnya mahar, itu yang dibesar-besarkan. Padahal prakteknya
termasuk juga dalam Al-Qur’an surat An-Nisa kalau seorang suami akan mengganti
kedudukan seorang istrinya mau menceraikan dan menikah dengan yang lain dan ia
sudah memberikan mahar berupa kinthor, harta yang sangat banyak. Ada juga yang
mengibaratkan kinthor sebagai gunung emas.
Itulah ibarat-ibarat bahwa mahar itu
tidak harus sedikit. Mahar itu banyak, dari zaman Umar bin Khattab, ketika Umar
melihat fenomena para wanita memahal-mahalkan, meninggi-ninggikan urusan mahar, kemudian Umar ingin membatasi bahwa mahar itu nggak boleh banyak-banyak, bahwa
mahar itu maksimal segini. Kemudian ada seorang wanita berdiri yang mengingatkan apa yang dilakukan Umar. "Bagaimana kamu membatasi, sementara Allah saja tidak membatasi". Kata umar apa? "Umar salah, wanita itu benar". Sehingga nggak jadi memberikan batasan mahar itu
seberapa baiknya. Karena memang tidak ada batasan. terserah berarti kalian
diberi pilihan, manfaatnya sebaik-baiknya.. huaaa… (putri: tertawa antagonis.
putra: tertawa miris). Lha iya kan?
di-SOP-nya ada pilihan, ya kalau nggak mau milih, itu nanti salah sendiri. Kan
bagaimanapun yang namanya harta itu penting juga, walaupun itu bukan yang utama, tapi itu sangat mendukung dalam kehidupan. Kan banyak keluarga yang bercerai-berai karena masalah harta, itulah resikonya kalau kekurangan. Nanti kalau ada
kelebihan harta beda lagi masalahnya, seleranya juga tinggi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar