tita

Minggu, 23 Juli 2017

Urip Kudu Ngaji Part 1

Kajian sesi pergaulan putra-putri bersama Ust. Umi Siti Ma’rifah, Lc.
*Ada anjuran nabi, wanita yang baik itu yang tidak memberatkan dalam hal mahar. Tapi pada prakteknya nabi sendiri apakah pernah memberikan mahar sedikit? Nabi hidupnya sederhana, tidak pernah menumpuk-numpuk harta, tetapi ketika menikah dia memberikan yang terbaik. Begitu juga para sahabat-sahabat yang lain.

Bahkan awal kisah tentang gugat cerai -perceraian yang datang dari perempuan- itu disarankan oleh nabi suruh mengembalikan maharnya. Maharnya dulu itu kebun yang terbaik, yang dimiliki yang terbaik yaitu kebun, kebun itulah yang dijadikan mahar ketika menikah dan ketika istrinya menggugat cerai oleh nabi dianjurkan untuk mengembalikan apa yang sudah menjadi maharnya itu. Jadi yang terbaik itu kebun, itupun dimaharkan, diberikan kepada calon istrinya. Yang kayak gini-gini itu jarang dibahas di Indonesia, yang dibahas itu yang jadi minimalis gitu walau dengan cincin dari besi, itu yang popular di Indonesia. Jadi nikah yang barokah itu yang semurah-murahnya mahar, itu yang dibesar-besarkan. Padahal prakteknya termasuk juga dalam Al-Qur’an surat An-Nisa kalau seorang suami akan mengganti kedudukan seorang istrinya mau menceraikan dan menikah dengan yang lain dan ia sudah memberikan mahar berupa kinthor, harta yang sangat banyak. Ada juga yang mengibaratkan kinthor sebagai gunung emas. 

Itulah ibarat-ibarat bahwa mahar itu tidak harus sedikit. Mahar itu banyak, dari zaman Umar bin Khattab, ketika Umar melihat fenomena para wanita memahal-mahalkan, meninggi-ninggikan urusan mahar, kemudian Umar ingin membatasi bahwa mahar itu nggak boleh banyak-banyak, bahwa mahar itu maksimal segini. Kemudian ada seorang wanita berdiri yang mengingatkan apa yang dilakukan Umar. "Bagaimana kamu membatasi, sementara Allah saja tidak membatasi". Kata umar apa? "Umar salah, wanita itu benar". Sehingga nggak jadi memberikan batasan mahar itu seberapa baiknya. Karena memang tidak ada batasan. terserah berarti kalian diberi pilihan, manfaatnya sebaik-baiknya.. huaaa… (putri: tertawa antagonis. putra: tertawa miris). Lha iya kan? di-SOP-nya ada pilihan, ya kalau nggak mau milih, itu nanti salah sendiri. Kan bagaimanapun yang namanya harta itu penting juga, walaupun itu bukan yang utama, tapi itu sangat mendukung dalam kehidupan. Kan banyak keluarga yang bercerai-berai karena masalah harta, itulah resikonya kalau kekurangan. Nanti kalau ada kelebihan harta beda lagi masalahnya, seleranya juga tinggi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar