Tugas menjadi wali kelas itu sama “sangar-nya” bahkan bisa
lebih daripada menjadi call center kartu kredit.
Dua tahun yang lalu, ketika saya bekerja di daerah tugu
untuk sebuah bank kenamaan di Indonesia. Saya berhadapan dengan Card Holder
(CH) yang bermacam-macam. Bermodal pengetahuan yang sudah ditransfer selama
training 1 bulan. Modal saya adalah mengolah keluarnya suara seramah mungkin,
karena informasi yang dibutuhkan disampaikan via suara. Saya pernah berpikir,
akan lebih mudah jika informasi itu disampaikan dengan bertatap muka langsung
karena akan bisa dibantu dengan ekspresi wajah serta gesture tubuh kita.
LDR itu lebih menantang.. haha dan akhirnya kandas juga
(ups).
Kembali kepada CH yang macam-macam, suatu ketika saya pernah
menerima kasus fraud (penyelahgunaan kartu oleh orang yang tidak
bertanggungjawab) sebagai anak baru, itu cukup membuat hati saya cenut-cenut,
urusannya sama duit broo… Tapi selama prosedur sudah dilakukan sebagaimana
mestinya, Allah akan mengizinkan masalah itu terselesaikan kok.
Saya melongo jika tetiba sadar, kami para Agent dituntut
untuk cepat berfikir demi memberikan solusi, jemari harus singkron menari-nari
di atas keyboard mengisikan informasi ke dalam 7 windows yang terbuka. Laporan
harus sampai kepada divisi penanganannya masing-masing.
Time flies, kini mode itu masih terpakai dan banyak
dimodifikasi karena “nasabah” saya adalah generasi emas 2030 beserta orang tua
yang punya keistimewaan masing-masing. Saya sudah memilih menjadi “kami” para ustadz/ah,
menjalani tempaan pelatihan selama 5 bulan, mengenal karakter stakeholder, kekhasan
sekolah tauhid kami, berkunjung dan menetap di beberapa daerah. Kali ini servis
excellent yang dulu pernah saya dapatkan di pekerjaan sebelumnya masih terus
dikembangkan di sini. Selalu harus terus belajar menjadi best agent, menjaga
adab dan akhlaq ketika berkomunikasi. Dilatih menjadi insan kamil, ber-ahsanu
amalan, orientasi dunia-akhirat. (hiiiy merinding saya, ternyata tatanan kita ber-hablumminannas sangatlah indah. Kitanya aja yang kadang belum connect).
Seperti jargonnya klub bola di luar negeri sana: “You will never walk alone".
Walaupun terkadang hati ini cenut-cenut, tapi selama kita
berada dalam rel kesemestian,
Innalloha ma’ana. Allah akan selalu sediakan orang-orang yang
berkompeten di sekitar kita untuk membersamai kita menyelesaikan persoalan.
Apalagi tujuannya mendakwahkan betapa istimewanya Islam itu. Semoga Allah
berkehendak merealisasikan cita-cita kita. Aamiin.
Jika ada yang belum berkenan mohon maaf atas ketidaknyamanannya.
Jazakumulloh telah memberikan kepercayaan kepada kami untuk membersamai putra/i
Anda dalam menjalani usianya sesuai fitrah yang Allah anugerahkan. “Mari
bersinergi antara rumah dan sekolah”.
Sejuta bulir lope-lope dari asrama ustadzah Kaliurang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar