tita

Minggu, 23 Juli 2017

Best agent. Do the best, be the best. (Urip Kudu Ngaji Part 2)

Tugas menjadi wali kelas itu sama “sangar-nya” bahkan bisa lebih daripada menjadi call center kartu kredit.
Dua tahun yang lalu, ketika saya bekerja di daerah tugu untuk sebuah bank kenamaan di Indonesia. Saya berhadapan dengan Card Holder (CH) yang bermacam-macam. Bermodal pengetahuan yang sudah ditransfer selama training 1 bulan. Modal saya adalah mengolah keluarnya suara seramah mungkin, karena informasi yang dibutuhkan disampaikan via suara. Saya pernah berpikir, akan lebih mudah jika informasi itu disampaikan dengan bertatap muka langsung karena akan bisa dibantu dengan ekspresi wajah serta gesture tubuh kita.
LDR itu lebih menantang.. haha dan akhirnya kandas juga (ups).

Kembali kepada CH yang macam-macam, suatu ketika saya pernah menerima kasus fraud (penyelahgunaan kartu oleh orang yang tidak bertanggungjawab) sebagai anak baru, itu cukup membuat hati saya cenut-cenut, urusannya sama duit broo… Tapi selama prosedur sudah dilakukan sebagaimana mestinya, Allah akan mengizinkan masalah itu terselesaikan kok.
Saya melongo jika tetiba sadar, kami para Agent dituntut untuk cepat berfikir demi memberikan solusi, jemari harus singkron menari-nari di atas keyboard mengisikan informasi ke dalam 7 windows yang terbuka. Laporan harus sampai kepada divisi penanganannya masing-masing.
Time flies, kini mode itu masih terpakai dan banyak dimodifikasi karena “nasabah” saya adalah generasi emas 2030 beserta orang tua yang punya keistimewaan masing-masing. Saya sudah memilih menjadi “kami” para ustadz/ah, menjalani tempaan pelatihan selama 5 bulan, mengenal karakter stakeholder, kekhasan sekolah tauhid kami, berkunjung dan menetap di beberapa daerah. Kali ini servis excellent yang dulu pernah saya dapatkan di pekerjaan sebelumnya masih terus dikembangkan di sini. Selalu harus terus belajar menjadi best agent, menjaga adab dan akhlaq ketika berkomunikasi. Dilatih menjadi insan kamil, ber-ahsanu amalan, orientasi dunia-akhirat. (hiiiy merinding saya, ternyata tatanan kita ber-hablumminannas sangatlah indah. Kitanya aja yang kadang belum connect).

Seperti jargonnya klub bola di luar negeri sana: “You will never walk alone".
Walaupun terkadang hati ini cenut-cenut, tapi selama kita berada dalam rel kesemestian,
Innalloha ma’ana. Allah akan selalu sediakan orang-orang yang berkompeten di sekitar kita untuk membersamai kita menyelesaikan persoalan. Apalagi tujuannya mendakwahkan betapa istimewanya Islam itu. Semoga Allah berkehendak merealisasikan cita-cita kita. Aamiin.

Jika ada yang belum berkenan mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Jazakumulloh telah memberikan kepercayaan kepada kami untuk membersamai putra/i Anda dalam menjalani usianya sesuai fitrah yang Allah anugerahkan. “Mari bersinergi antara rumah dan sekolah”.


Sejuta bulir lope-lope dari asrama ustadzah Kaliurang. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar