Case discussion, Ponsya 1438 H
*Aisyah Sang
Primadona*
Bagaimana tidak? di usianya lepas bangku kuliah, dia
energik, senyum selalu mengembang seolah hidup tanpa beban, dilakoni setiap
aktivitas dengan semangat dan penuh optimis, Meskipun usia sudah menginjak 25
tahun, terlihat tenang saja bergaul baik dengan sesama jenis maupun degan lawan
jenis, dan dia nampakkan sikap tegas ketika khususnya berkomunikasi dengan
lawan jenis.
Ketika disinggung, “ Kapan Mbak Aisyah nikah?” dia senyum
simpul sambil berujar. “ Saya ini perempuan, tinggal menunggu siapa yang
didatangkan Allah padaku”. “ Sudah ada calon Mbak?”. “Wow, buaaanyak.... buaanyak bener, setiap
laki-laki sholeh Insyaallah calon potensial gue, hehehe”.
Sambil terus bergerak, khususnya di medan dakwah, seolah
tidak pernah kering dari ide brilian beliau, sehingga tentu saja banyak teman,
sahabatnya baik putra maupun putri dekat dengannya, dan Aisyah pun bergaul
dengan mereka dengan biasa saja, dan khususnya dengan lawan jenis selalu dijaga
jarak, dan ketegasannya.
..................................................................**..........................................................................................
Cuplikan kata yang lumayan bagus buat jadi pengingat
Saka: “Yaa orang sih beda-beda yaa.. tapi kalau saya sih
nggak nyari perempuan yang bisa melengkapi saya”.
Ayu: “Bukannya justru hubungan yang bagus itu yang saling
melengkapi?”
Saka: “Jadi melengkapi diri saya itu tugas saya, bukan orang
lain. Contoh: saya nggak sholat maka saya cari istri yang alim, sama aja, nanti
yang jadi imamnya siapa? contoh lain: saya boros, lantas cari istri yang pinter
nabung.. ya nanti tabungannya habis sama saya dong?
Menjalin suatu hubungan itu butuh dua orang yang kuat, dan
untuk menjadi kuat, itu adalah tanggungjawab masing-masing.“
Sabtu Bersama
Bapak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar