tita

Selasa, 22 Agustus 2017

Membangun pada masa dan cara sendiri-sendiri.

Dibangun tanpa mitos dan pamali. Keluarga kecil kami tumbuh dengan perjuangan yang menakjubkan. Atas izin Allah, di suasana hingarnya ibu kota, Bapak yang orang Sunda dipertemukan dengan mamah yang orang Jawa. Berbeda itu keharusan, tidak untuk saling melengkapi, tapi untuk menjadi kuat dan saling menguatkan. Apapun yang orang lain coba korek dalam setiap celah kesalahan kita, Allah bantu dengan mendatangkan kekuatan yang berlipat ganda. Kita patut Ge-er dan percaya diri bahwa Allah sangat sayang dan masih menutupi aib kita. sehingga banyak ruang yang harus kita tata semakin rapi.
Allah yang membuat kita berbeda, tidak akan sulit untuk Allah membuat kita memiliki banyak kesamaan.

Bisa saja, kita pernah bertemu sebelumnya. Saat saling menyapa dalam do’a.

Minggu, 13 Agustus 2017

Idhar pada Waktunya

Shaf pertama jama’ah shubuh di hari Ahad
Menggariskan satu persatu titik-titik yang baru dimulai
Walau masih ikhfa tapi tentulah akan idhar pada waktunya
Seperti motif mukena yang kupakai

Begitulah kiranya suasanaku akhir-akhir ini.

Minggu, 23 Juli 2017

Urip Kudu Ngaji Part 3

Case discussion, Ponsya 1438 H

*Aisyah Sang Primadona*

Bagaimana tidak? di usianya lepas bangku kuliah, dia energik, senyum selalu mengembang seolah hidup tanpa beban, dilakoni setiap aktivitas dengan semangat dan penuh optimis, Meskipun usia sudah menginjak 25 tahun, terlihat tenang saja bergaul baik dengan sesama jenis maupun degan lawan jenis, dan dia nampakkan sikap tegas ketika khususnya berkomunikasi dengan lawan jenis.
Ketika disinggung, “ Kapan Mbak Aisyah nikah?” dia senyum simpul sambil berujar. “ Saya ini perempuan, tinggal menunggu siapa yang didatangkan Allah padaku”. “ Sudah ada calon Mbak?”.  “Wow, buaaanyak.... buaanyak bener, setiap laki-laki sholeh Insyaallah calon potensial gue, hehehe”.

Sambil terus bergerak, khususnya di medan dakwah, seolah tidak pernah kering dari ide brilian beliau, sehingga tentu saja banyak teman, sahabatnya baik putra maupun putri dekat dengannya, dan Aisyah pun bergaul dengan mereka dengan biasa saja, dan khususnya dengan lawan jenis selalu dijaga jarak, dan ketegasannya.

Best agent. Do the best, be the best. (Urip Kudu Ngaji Part 2)

Tugas menjadi wali kelas itu sama “sangar-nya” bahkan bisa lebih daripada menjadi call center kartu kredit.
Dua tahun yang lalu, ketika saya bekerja di daerah tugu untuk sebuah bank kenamaan di Indonesia. Saya berhadapan dengan Card Holder (CH) yang bermacam-macam. Bermodal pengetahuan yang sudah ditransfer selama training 1 bulan. Modal saya adalah mengolah keluarnya suara seramah mungkin, karena informasi yang dibutuhkan disampaikan via suara. Saya pernah berpikir, akan lebih mudah jika informasi itu disampaikan dengan bertatap muka langsung karena akan bisa dibantu dengan ekspresi wajah serta gesture tubuh kita.
LDR itu lebih menantang.. haha dan akhirnya kandas juga (ups).

Urip Kudu Ngaji Part 1

Kajian sesi pergaulan putra-putri bersama Ust. Umi Siti Ma’rifah, Lc.
*Ada anjuran nabi, wanita yang baik itu yang tidak memberatkan dalam hal mahar. Tapi pada prakteknya nabi sendiri apakah pernah memberikan mahar sedikit? Nabi hidupnya sederhana, tidak pernah menumpuk-numpuk harta, tetapi ketika menikah dia memberikan yang terbaik. Begitu juga para sahabat-sahabat yang lain.

Bahkan awal kisah tentang gugat cerai -perceraian yang datang dari perempuan- itu disarankan oleh nabi suruh mengembalikan maharnya. Maharnya dulu itu kebun yang terbaik, yang dimiliki yang terbaik yaitu kebun, kebun itulah yang dijadikan mahar ketika menikah dan ketika istrinya menggugat cerai oleh nabi dianjurkan untuk mengembalikan apa yang sudah menjadi maharnya itu. Jadi yang terbaik itu kebun, itupun dimaharkan, diberikan kepada calon istrinya. Yang kayak gini-gini itu jarang dibahas di Indonesia, yang dibahas itu yang jadi minimalis gitu walau dengan cincin dari besi, itu yang popular di Indonesia. Jadi nikah yang barokah itu yang semurah-murahnya mahar, itu yang dibesar-besarkan. Padahal prakteknya termasuk juga dalam Al-Qur’an surat An-Nisa kalau seorang suami akan mengganti kedudukan seorang istrinya mau menceraikan dan menikah dengan yang lain dan ia sudah memberikan mahar berupa kinthor, harta yang sangat banyak. Ada juga yang mengibaratkan kinthor sebagai gunung emas. 

Sabtu, 01 April 2017

–Setelah kesulitan ada kemudahan-

Malam ini saya kembali membuka buku catatan warna merah muda yang covernya saya sensor dan ditulisi kata mutiara favorit penuh inspirasi yaitu surat Al Insyiroh ayat 5-6 tanpa syakal (fathah-kasroh-dhomah).
Pemahaman Islam saya masih dalam ranah ooh iya saya tau, saya pernah belajar itu. hiks kok begitu ya? Saya gelisah, makanya saya menulis ini. Biar gelisah saya dibagi-bagi hehe. Catatan lama saya ditulis bulan Desember 2015 masih anak baru banget di lembaga tempat saya berjihad ini. Waktu itu divisi personalia yayasan kami menjelaskan tata kerja, hak, dan kewajiban kami sebagai bagian dari lembaga pendidikan ini dalam menjalankan amanah. Di dalamnya dibahas perijinan/meninggalkan amanah seperti MENIKAH (sengaja di caps lock bukan karena jebol tapi bagian dari doa disegerakan siapnya hhe), melahirkan, sakit, dan meninggal. Bukan yang caps lock yang akan saya bahas tapi yang terakhir, yaitu apabila ada yang meninggal yang menjadi bagian dari keluarga, tepatnya saya mau membahas tentang meninggalnya suami.
Masa ihdad atau berkabung dan masa ‘iddah (masa tunggu).

Jumat, 05 Agustus 2016

Belajar Mikir

Kadang kalau lagi nggak sholeh, pernah mikir kayak gini nggak? Ngapain ya Allah nyiptain hewan yang kayakanya nggak berguna? Di tempat terpencil sekalipun Allah tetap nyiptain laba-laba atau hewan apapun itu bahkan nggak ada satu manusia yang tahu bahkan peduli. Padahal kalau Allah nggak mengizinkan ilmuwan buat neliti amoeba, mungkin sampe sekarang, nggak ada tuh dalam pikiran kita kenal makhluk bersel satu yang bisa membelah diri yang namanya amoeba itu.
Pas kita lagi sholeh: Allah menciptakan segala sesuatu pasti ada gunanya, bukan sekadar untuk pengakuan –emangnya kita?

Related to: “Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, Maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?." dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik” (Al-Baqarah: 26).
“dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (Al-An’am: 59).

Sedih deh, kadang kita masih “jail” dengan ketentuan Allah. Semoga kita menjadi orang yang selalu diberi-Nya pentunjuk. Yaudah, pilihan kita cuma tinggal satu, MOVE ON dari kejahiliyahan menuju hari esok yang lebih terang yeaay!