Ibu
Sebagai Wanita
Tak ‘kan habis kata
untuk menjabarkan betapa bermaknanya ibu dalam perjalanan hidup kita. Ada
kalanya kita sering merasa terganggu akan perlakuannya pada kita. Tapi di balik
itu banyak pesan yang beliau hendak sampaikan yang terkadang baru kita mengerti
beberapa waktu kemudian. Asam garam kehidupan telah beliau kecap, tapi kenapa
kita yang nyatanya baru memulai merintis diri menjadi seorang calon “manusia”
terkadang merasa lebih “pintar” dan mengerti daripada beliau, Astagfirullah.
Padahal Beliau paling tahu apa yang kita
mau walaupun tak ada sepatah kata pun terluncur dari lisan kita, itulah kontak
batin. Bagaimana tidak, selama kurang lebih 270 hari kita menumpang hidup di
rahimnya,seperti seekor lintah menyedot sari-sari makanan lewat plasenta. Dan
tatkala kita sudah diizinkan Allah berkenalan dengan dunia yang menakutkan ini,
tangisan pertama kitalah yang mereka harapkan, padahal rasa sakit pasca
melahirkan masih menggerogoti tubuh lemasnya. Seakan terobati semua sakit,
bersama tangis melengking kita, ibu merasakan kelegaan luar biasa. Beliau telah
menjadi manusia yang nyaris sempurna karena Allah telah menitipkan amanah
kepadanya untuk menjaga manusia mungil yang kelak akan menjadi tumpuan harapan
dan kebanggan baginya. Menjadi aset dunia akhirat.
Ibu seperti perempuan
pada umumnya, diberikan kelebihan yakni memiliki sifat penyayang yang lebih
kuat daripada seorang laki-laki. Dan do’a seorang perempuan lebih makbul
daripada lelaki karena sifat penyayangnya itu. Ketika Rasulullah SAW ditanya
akan hal tersebut, baginda menjawab, “ Ibu
lebih penyayang daripada bapak dan do’a orang yang penyayang tidak akan sia-sia”.
Bicara mengenai rasa
sayang, sebenarnya laki-laki pun memiliki rasa sayang yang besar, salahsatunya
menyayangi wanita karena kecantikannya, disini cantik menurut versi yang
berbeda, yakni mengukur kecantikan perempuan berdasarkan nafsu, akal dan hati:
Nafsu
mengukur
wanita itu cantik atas dasar rupanya
Akal
menilai
wanita itu cantik atas dasar kepintarannya
Hati
menobatkan wanita itu cantik atas dasar keteguhan imannya
Agaknya semuanya
faham akan pernyataan tadi. Satu lagi...saya pernah juga menonton slide megenai
“cantik” dari sisi yang lain.
Di suatu pagi yang cerah, seorang gadis berkata kepada
ibunya, “Ibu...engkau selalu terlihat cantik. Aku ingin sepertimu, beritahulah
aku sesuatu”
Dengan tatapan dan senyuman haru sang ibu pun menjawab,
“Untuk bibir nan menarik ucapkan perkataan yang baik. Untuk pipi nan lesung,
tebarkan senyum keikhlasanmu di muka bumi. Untuk mata indah menawan, lihatlah
selalu kebaikan orang lain. Untuk tubuh yang langsing, sisihkan makananmu bagi
fakir miskin. Untuk jemari tangan nan lentik manawan, hitunglah do’a dan
pujianmu dengannya. Untuk wajah putih bercahaya, basuhlah muka di setiap
pergantian waktu. Anakku...kecantikan fisik akan pudar oleh waktu, tapi kecantikan perilaku tak pudar meski
oleh kematian”
Dan
Allah menjelaskan secara anatomi dan simbol-simbol terhadap penciptaan seorang
wanita. Yakni wanita tidak dijadikan dari ubun-ubun lelaki untuk dipuja dan
dipuji. Tidak juga dari telapak kaki untuk dihina dan dikeji. Tetapi dari rusuk
kiri yang dekat dengan tangan untuk dilindungi dan dekat dengan hati untuk
disayangi. *daleeeeuum*
Sobat, saya seperti
kalian juga selalu ingin menjadi seorang anak yang berbakti pada orangtuanya,
tapi nyatanya selembar kertas pun mungkin belum cukup penuh untuk menuliskan
bakti kita pada mereka. Tapi saya kemudian teringat ucapan salahsatu teman baik
saya, lewat pesan seluler dia menanggapi rengekan saya, mengatakan bahwa
orangtua tidak pernah meminta balasan budi, melihat anaknya bahagia saja mereka
akan merasakan kebahagiaan yang lebih besar. Sampai sekarang saya sangat
berusaha merealisasikan pesan itu, terima kasih telah mengingatkan^^. Dimulai
dari hal kecil kita berusaha membuat mereka senantiasa bangga dan bersyukur
memiliki kita. Saya akan selalu merindukan kebersamaan di tengah-tengah mereka
berdua. Saatnya bangkit dan berlari mengejar mimpi, menjaga amanah dan
kepercayaan orangtua untuk berjuang meniti jalan-Nya lewat pencarian ilmu. Semoga
semua perjuangan kita ini berbuah ridho-Nya dan senantiasa merekahkan senyum
syukur buat mereka. Amin ya Robbal’alamin. Jikalau kita berusaha menjadi lebih
baik, segala sesuatu di sekitar kita akan ikut menjadi lebih baik. Wallahu
‘alam bishawab. [at Baiti Jannati-Lembur Singkur,28 Ramadhan 1431 H]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar