tita

Kamis, 07 Maret 2013

Ibu Sebagai Wanita

Ibu Sebagai Wanita
Tak ‘kan habis kata untuk menjabarkan betapa bermaknanya ibu dalam perjalanan hidup kita. Ada kalanya kita sering merasa terganggu akan perlakuannya pada kita. Tapi di balik itu banyak pesan yang beliau hendak sampaikan yang terkadang baru kita mengerti beberapa waktu kemudian. Asam garam kehidupan telah beliau kecap, tapi kenapa kita yang nyatanya baru memulai merintis diri menjadi seorang calon “manusia” terkadang merasa lebih “pintar” dan mengerti daripada beliau, Astagfirullah. Padahal  Beliau paling tahu apa yang kita mau walaupun tak ada sepatah kata pun terluncur dari lisan kita, itulah kontak batin. Bagaimana tidak, selama kurang lebih 270 hari kita menumpang hidup di rahimnya,seperti seekor lintah menyedot sari-sari makanan lewat plasenta. Dan tatkala kita sudah diizinkan Allah berkenalan dengan dunia yang menakutkan ini, tangisan pertama kitalah yang mereka harapkan, padahal rasa sakit pasca melahirkan masih menggerogoti tubuh lemasnya. Seakan terobati semua sakit, bersama tangis melengking kita, ibu merasakan kelegaan luar biasa. Beliau telah menjadi manusia yang nyaris sempurna karena Allah telah menitipkan amanah kepadanya untuk menjaga manusia mungil yang kelak akan menjadi tumpuan harapan dan kebanggan baginya. Menjadi aset dunia akhirat.
Saya pernah membaca 19 hadist mengenai wanita, satu diantara sabda baginda Rasulullah SAW adalah seperti ini, “Apabila seorang perempuan mulai sakit hendak bersalin,maka Allah mencatat baginya pahala berjihad di jalan Allah”. Subhanallah! Betapa besar perjuangan ibu melahirkan kita ke dunia sampai-sampai Allah menyetarakan derajat pahalanya seperti orang-orang yang berjihad di jalan-Nya. 
Ibu seperti perempuan pada umumnya, diberikan kelebihan yakni memiliki sifat penyayang yang lebih kuat daripada seorang laki-laki. Dan do’a seorang perempuan lebih makbul daripada lelaki karena sifat penyayangnya itu. Ketika Rasulullah SAW ditanya akan hal tersebut, baginda menjawab, “ Ibu lebih penyayang daripada bapak dan do’a orang yang penyayang tidak akan sia-sia”.
Bicara mengenai rasa sayang, sebenarnya laki-laki pun memiliki rasa sayang yang besar, salahsatunya menyayangi wanita karena kecantikannya, disini cantik menurut versi yang berbeda, yakni mengukur kecantikan perempuan berdasarkan nafsu, akal dan hati:

Nafsu mengukur wanita itu cantik atas dasar rupanya
Akal menilai wanita itu cantik atas dasar kepintarannya
Hati menobatkan wanita itu cantik atas dasar keteguhan imannya

 Agaknya semuanya faham akan pernyataan tadi. Satu lagi...saya pernah juga menonton slide megenai “cantik” dari sisi yang lain.
Di suatu pagi yang cerah, seorang gadis berkata kepada ibunya, “Ibu...engkau selalu terlihat cantik. Aku ingin sepertimu, beritahulah aku sesuatu”
Dengan tatapan dan senyuman haru sang ibu pun menjawab, “Untuk bibir nan menarik ucapkan perkataan yang baik. Untuk pipi nan lesung, tebarkan senyum keikhlasanmu di muka bumi. Untuk mata indah menawan, lihatlah selalu kebaikan orang lain. Untuk tubuh yang langsing, sisihkan makananmu bagi fakir miskin. Untuk jemari tangan nan lentik manawan, hitunglah do’a dan pujianmu dengannya. Untuk wajah putih bercahaya, basuhlah muka di setiap pergantian waktu. Anakku...kecantikan fisik akan pudar oleh waktu, tapi kecantikan perilaku tak pudar meski oleh kematian”   
   Dan Allah menjelaskan secara anatomi dan simbol-simbol terhadap penciptaan seorang wanita. Yakni wanita tidak dijadikan dari ubun-ubun lelaki untuk dipuja dan dipuji. Tidak juga dari telapak kaki untuk dihina dan dikeji. Tetapi dari rusuk kiri yang dekat dengan tangan untuk dilindungi dan dekat dengan hati untuk disayangi. *daleeeeuum*
Sobat, saya seperti kalian juga selalu ingin menjadi seorang anak yang berbakti pada orangtuanya, tapi nyatanya selembar kertas pun mungkin belum cukup penuh untuk menuliskan bakti kita pada mereka. Tapi saya kemudian teringat ucapan salahsatu teman baik saya, lewat pesan seluler dia menanggapi rengekan saya, mengatakan bahwa orangtua tidak pernah meminta balasan budi, melihat anaknya bahagia saja mereka akan merasakan kebahagiaan yang lebih besar. Sampai sekarang saya sangat berusaha merealisasikan pesan itu, terima kasih telah mengingatkan^^. Dimulai dari hal kecil kita berusaha membuat mereka senantiasa bangga dan bersyukur memiliki kita. Saya akan selalu merindukan kebersamaan di tengah-tengah mereka berdua. Saatnya bangkit dan berlari mengejar mimpi, menjaga amanah dan kepercayaan orangtua untuk berjuang meniti jalan-Nya lewat pencarian ilmu. Semoga semua perjuangan kita ini berbuah ridho-Nya dan senantiasa merekahkan senyum syukur buat mereka. Amin ya Robbal’alamin. Jikalau kita berusaha menjadi lebih baik, segala sesuatu di sekitar kita akan ikut menjadi lebih baik. Wallahu ‘alam bishawab. [at Baiti Jannati-Lembur Singkur,28 Ramadhan 1431 H]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar