
Sisi satu : Sendiri
lagi di sini, menikmati kedamaian tanpa teman.
Sisi dua : Memangnya
tak pernahkah kau anggap aku ada bersamamu?
Sisi satu : Tidak,
bukan itu maksudku.
Sisi dua : Sudahlah,
aku menggerti. Padahal aku selalu rela untuk berbagi denganmu.
Sisi satu : Maafkan
aku, tapi kau sebenarnya belum benar-benar paham apa yang tadi kurasakan.
Sisi dua : Menurutmu
begitu? Baiklah, lalu seperti apa kebenarannya itu?
Sisi satu : Kawan, aku
ini sering mimbang. Apakah kau benar-benar bagian dariku?
Sisi dua : Kau masih
meragukannya?
Sisi satu : fhuiih...aku
butuh kepastianmu. Aku selalu merasakan ketidakpuasan atas pernyataanmu padaku.
Seolah-olah masih ada yang mengambang dan membuatku menjadi letih mencari
sosokmu.
Sisi dua : Lalu apa
maumu?
Sisi satu : Aku ingin
kau utuh menjadi bagian dariku.
Sisi dua : Aku merasa
kau telah jadi bagian dariku. Kenapa kau masih mempertanyakannya? Apakah kau
masih perlu bukti?
Sisi satu : Maaf kawan,
sepertinya aku masih meragu akan hal itu.
Sisi dua: Ya aku tahu
itu, karena jawabku tak seiring inginmu? Begini kawan, jika kau menginginkanku
jadi bagian darimu mengapa kau ingin memiliki diriku?
Sisi satu : Karena yang
lain pun begitu. Itu hal yang wajar.
Sisi dua : Kenapa
syaratnya begitu?
Sisi satu : Itu bukan
syarat kawan, tapi konsekuensi.
Sisi dua : Konsekuensi?
Aku rasa itu pamrih, karena menurutku jika menginginkan sesuatu kita tak mesti wajib memilikinya. Karena toh
dengan sendirinya ketidakterpaksaan dimiliki malah membuatnya merasa telah
saling memiliki.
Sisi satu : Aku tahu
kawan, kau lihat perkara dari sudut yang berbeda. Dan kuakui aku belum sampai
ke taraf itu, kau terlalu baik bagiku. Tapi apakah kau merasa terpaksa dengan
pertanyaanku itu?
Sisi dua : Sebenarnya
aku tak merasa terpaksa, sungguh sama sekali tidak. Malah aku berterima kasih
padamu. Tapi kawan, tak semua pendapat dapat kita terima seutuhnya, aku sangat menghargai
semua itu dan terima kasih sekali lagi atas penghargaan itu padaku. Tapi
sepertinya pendapatmu itu terlalu berat untukku terima.
Sisi satu : Mengapa
kawan? Kau merasa keberatan?
Sisi dua : Aku ingin
caramu menjadi bagian dariku biarlah dengan cara yang berbeda dari kebanyakan
orang. Ini lebih nyaman bagiku, karena aku tak cukup percaya diri untuk hal
itu. Suatu waktu kau ‘kan mengerti dengan sendirinya tanpa perlu kujabarkan
dengan rinci. Karena sesuatu yang kau temukan sendiri akan lebih kau kenang
daripada sesuatu hal yang kau dapat dari pemahaman orang lain.
Sisi satu : Ya
sudahlah, aku akan mencoba mengertimu.
Sisi dua : Kau jangan
terlalu memaksa diri untuk mengerti aku, karena aku sangatlah sulit untuk
dimengerti, cukuplah kau menghargaiku dan aku pun akan lebih menghargai segala
keputusanmu, walaupun aku tahu semua itu tak ‘kan mudah. Tapi aku punya niat
dan niat tak semudah itu digoyahkan.
Sisi tiga : Sebenarnya
tak ada yang benar-benar bisa saling menghargai bila mereka tak mencoba untuk saling
mencocokkan diri. Karena tak ada yang benar-benar ideal di dunia ini. Cobalah
kalian tengok, kedua muda-mudi itu, yang muda sebelum mengenal si mudi masih
sangat jarang berpakaian rapi, tapi kehadiran si mudi membuatnya mengubah
penampilan, sekarang dia terlihat sangat necis. Itu perubahan menjadi lebih
baik. Mencoba membuka hati dan menerima saran sejauh itu membuahkan manfaat.
Mencocokkan diri dan mau menerima kekurangan.
Sisi satu : Bagaimana
caranya?
Sisi tiga : Menjalani
aliran waktu dengan melapangkan hatimu, itu yang aku tahu.
Sisi dua : Tapi kita
tak bisa melulu searah aliran, sewaktu-waktu kita mesti melawan arus.
Sisi tiga : Iya kau pun
benar, tapi fitrahmu menyalahkan itu.
Sisi dua : Maksudmu?
Sisi tiga : Lebih
tepatnya, kau mesti mengikuti aliran dan bertahan saat arus tinggi hendak
membawamu. Kau harus punya antibodi bukan malah memaksakan untuk berbeda arah,
coba kau nikmati setiap debit aliran itu. Disana ada makna yang Dia titipkan
buatmu.
Sisi satu : Aku punya
pertanyaan bagimu.
Sisi tiga : Apa itu
kawan?
Sisi satu : Menghargai
keinginan oranglain yang tak sependapat denganmu memang terkadang sulit apalagi
pendapatmu itu sudah mengakar jauh di dalam hatimu. Bagaimana caranya agar kita
bisa menerimanya serela mungkin.
Sisi tiga : Kau tak
mesti menerima itu seutuhnya, mungkin saja pendapatmu justru lebih baik
darinya. Tapi yang kau fokuskan bukan mana pendapat yang paling benar, tapi
bagaimana menyatukan kedua pemikiran itu agar bertemu titiknya.
Sisi satu : Caranya?
Sisi tiga : Kau
luangkan waktumu bersamanya, seperti kataku tadi kalian coba saling buka diri
dan bicara dari hati kehati, jika itu tak ampuh, Tuhan punya banyak alternatif
cara yang diilhamkan-Nya padamu, dan mungkin aku pun tak pernah tahu caranya.
Yang pasti tak ada masalah yang tak terselesaikan. Tenanglah.
Sisi dua : Oh, begitu?
Aku terkadang berfikir A, namun ternyata aku berkata B, Bukan karena
kesengajaan, tapi lebih karena aku merasa grogi.
Sisi tiga : cobalah
selesaikan masalah kalian dengan baik. Nyamankan dulu hati masing-masing,
jangan memburu keadaan, tak apa diskusi berjalan alot. Dan jangan lupa kau
sertakan aku bersama keputusan-keputusan kalian.
Sisi dua : Seberapa
pentingkah kamu?
Sisi tiga :
Hahaha...tak apa kau menganggapku tak begitu penting, tapi asal kau tahu aku
sangatlah berarti buat kalian.
Sisi satu : Kalau boleh
tahu, kamu ini sebenarnya siapa dan darimana?
Sisi tiga : Aku adalah
perasaan kalian yang berasal dari hati kalian.
Sisi satu : Benarkah?
Sisi tiga : Ya! Aku
adalah sebuah sisi dari kalian, aku menggenapi kalian untuk membentuk suatu
bangun. Aku adalah kalian, dan kalian adalah aku, aku dan kalian adalah kita.
Karena kita adalah segitiga. Walau terkadang ada dominasi diantara kita yang
kelak diketahui murid-murid sekolah itu sebagai segitiga sama kaki yang membuat
salahsatu diantara kita nampak berbeda ukuran. Ataukah segitiga siku-siku yang
Pak Phytagoras punyai rumusnya, ada kesenjangan di situ tapi dari setiap hal
yang baik pasti ada yang nyatanya lebih baik, kukira segitiga sama sisi
terlihat serasi dan selaras membuat kita nampak benar-benar menjadi segitiga.
[at Baiti Jannati 29
Ramadhan 1431 H]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar