tita

Jumat, 08 Maret 2013

Segitiga Sama Sisi


Sisi satu : Sendiri lagi di sini, menikmati kedamaian tanpa teman.
Sisi dua : Memangnya tak pernahkah kau anggap aku ada bersamamu?
Sisi satu : Tidak, bukan itu maksudku.
Sisi dua : Sudahlah, aku menggerti. Padahal aku selalu rela untuk berbagi denganmu.
Sisi satu : Maafkan aku, tapi kau sebenarnya belum benar-benar paham apa yang tadi kurasakan.
Sisi dua : Menurutmu begitu? Baiklah, lalu seperti apa kebenarannya itu?
Sisi satu : Kawan, aku ini sering mimbang. Apakah kau benar-benar bagian dariku?

Sisi dua : Kau masih meragukannya?
Sisi satu : fhuiih...aku butuh kepastianmu. Aku selalu merasakan ketidakpuasan atas pernyataanmu padaku. Seolah-olah masih ada yang mengambang dan membuatku menjadi letih mencari sosokmu.
Sisi dua : Lalu apa maumu?
Sisi satu : Aku ingin kau utuh menjadi bagian dariku.
Sisi dua : Aku merasa kau telah jadi bagian dariku. Kenapa kau masih mempertanyakannya? Apakah kau masih perlu bukti?
Sisi satu : Maaf kawan, sepertinya aku masih meragu akan hal itu.
Sisi dua: Ya aku tahu itu, karena jawabku tak seiring inginmu? Begini kawan, jika kau menginginkanku jadi bagian darimu mengapa kau ingin memiliki diriku?
Sisi satu : Karena yang lain pun begitu. Itu hal yang wajar.
Sisi dua : Kenapa syaratnya begitu?
Sisi satu : Itu bukan syarat kawan, tapi konsekuensi.
Sisi dua : Konsekuensi? Aku rasa itu pamrih, karena menurutku jika menginginkan sesuatu kita  tak mesti wajib memilikinya. Karena toh dengan sendirinya ketidakterpaksaan dimiliki malah membuatnya merasa telah saling memiliki.
Sisi satu : Aku tahu kawan, kau lihat perkara dari sudut yang berbeda. Dan kuakui aku belum sampai ke taraf itu, kau terlalu baik bagiku. Tapi apakah kau merasa terpaksa dengan pertanyaanku itu?
Sisi dua : Sebenarnya aku tak merasa terpaksa, sungguh sama sekali tidak. Malah aku berterima kasih padamu. Tapi kawan, tak semua pendapat dapat kita terima seutuhnya, aku sangat menghargai semua itu dan terima kasih sekali lagi atas penghargaan itu padaku. Tapi sepertinya pendapatmu itu terlalu berat untukku terima.
Sisi satu : Mengapa kawan? Kau merasa keberatan?
Sisi dua : Aku ingin caramu menjadi bagian dariku biarlah dengan cara yang berbeda dari kebanyakan orang. Ini lebih nyaman bagiku, karena aku tak cukup percaya diri untuk hal itu. Suatu waktu kau ‘kan mengerti dengan sendirinya tanpa perlu kujabarkan dengan rinci. Karena sesuatu yang kau temukan sendiri akan lebih kau kenang daripada sesuatu hal yang kau dapat dari pemahaman orang lain.
Sisi satu : Ya sudahlah, aku akan mencoba mengertimu.
Sisi dua : Kau jangan terlalu memaksa diri untuk mengerti aku, karena aku sangatlah sulit untuk dimengerti, cukuplah kau menghargaiku dan aku pun akan lebih menghargai segala keputusanmu, walaupun aku tahu semua itu tak ‘kan mudah. Tapi aku punya niat dan niat tak semudah itu digoyahkan.
Sisi tiga : Sebenarnya tak ada yang benar-benar bisa saling menghargai bila mereka tak mencoba untuk saling mencocokkan diri. Karena tak ada yang benar-benar ideal di dunia ini. Cobalah kalian tengok, kedua muda-mudi itu, yang muda sebelum mengenal si mudi masih sangat jarang berpakaian rapi, tapi kehadiran si mudi membuatnya mengubah penampilan, sekarang dia terlihat sangat necis. Itu perubahan menjadi lebih baik. Mencoba membuka hati dan menerima saran sejauh itu membuahkan manfaat. Mencocokkan diri dan mau menerima kekurangan.
Sisi satu : Bagaimana caranya?
Sisi tiga : Menjalani aliran waktu dengan melapangkan hatimu, itu yang aku tahu.
Sisi dua : Tapi kita tak bisa melulu searah aliran, sewaktu-waktu kita mesti melawan arus.
Sisi tiga : Iya kau pun benar, tapi fitrahmu menyalahkan itu.
Sisi dua : Maksudmu?
Sisi tiga : Lebih tepatnya, kau mesti mengikuti aliran dan bertahan saat arus tinggi hendak membawamu. Kau harus punya antibodi bukan malah memaksakan untuk berbeda arah, coba kau nikmati setiap debit aliran itu. Disana ada makna yang Dia titipkan buatmu.
Sisi satu : Aku punya pertanyaan bagimu.
Sisi tiga : Apa itu kawan?
Sisi satu : Menghargai keinginan oranglain yang tak sependapat denganmu memang terkadang sulit apalagi pendapatmu itu sudah mengakar jauh di dalam hatimu. Bagaimana caranya agar kita bisa menerimanya serela mungkin.
Sisi tiga : Kau tak mesti menerima itu seutuhnya, mungkin saja pendapatmu justru lebih baik darinya. Tapi yang kau fokuskan bukan mana pendapat yang paling benar, tapi bagaimana menyatukan kedua pemikiran itu agar bertemu titiknya.
Sisi satu : Caranya?
Sisi tiga : Kau luangkan waktumu bersamanya, seperti kataku tadi kalian coba saling buka diri dan bicara dari hati kehati, jika itu tak ampuh, Tuhan punya banyak alternatif cara yang diilhamkan-Nya padamu, dan mungkin aku pun tak pernah tahu caranya. Yang pasti tak ada masalah yang tak terselesaikan. Tenanglah.
Sisi dua : Oh, begitu? Aku terkadang berfikir A, namun ternyata aku berkata B, Bukan karena kesengajaan, tapi lebih karena aku merasa grogi.
Sisi tiga : cobalah selesaikan masalah kalian dengan baik. Nyamankan dulu hati masing-masing, jangan memburu keadaan, tak apa diskusi berjalan alot. Dan jangan lupa kau sertakan aku bersama keputusan-keputusan kalian.
Sisi dua : Seberapa pentingkah kamu?
Sisi tiga : Hahaha...tak apa kau menganggapku tak begitu penting, tapi asal kau tahu aku sangatlah berarti buat kalian.
Sisi satu : Kalau boleh tahu, kamu ini sebenarnya siapa dan darimana?
Sisi tiga : Aku adalah perasaan kalian yang berasal dari hati kalian.
Sisi satu : Benarkah?
Sisi tiga : Ya! Aku adalah sebuah sisi dari kalian, aku menggenapi kalian untuk membentuk suatu bangun. Aku adalah kalian, dan kalian adalah aku, aku dan kalian adalah kita. Karena kita adalah segitiga. Walau terkadang ada dominasi diantara kita yang kelak diketahui murid-murid sekolah itu sebagai segitiga sama kaki yang membuat salahsatu diantara kita nampak berbeda ukuran. Ataukah segitiga siku-siku yang Pak Phytagoras punyai rumusnya, ada kesenjangan di situ tapi dari setiap hal yang baik pasti ada yang nyatanya lebih baik, kukira segitiga sama sisi terlihat serasi dan selaras membuat kita nampak benar-benar menjadi segitiga.
[at Baiti Jannati 29 Ramadhan 1431 H]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar