Oleh:
Tita Prawesti (10411034) 5-PAI A
A.
Latar Belakang Masalah
Puasa di bulan Ramadhan merupakan rukun Islam yang
ketiga, wajib dilaksanakan oleh setiap
muslim yang baligh. Namun puasa seringkali dijauhi oleh para penderita maag.
Padahal untuk beberapa jenis maag, puasa justru dianjurkan untuk
menyehatkan dan menyembuhkan penyakit maag itu sendiri. Ditambah
dengan faktor psikis yakni keyakinan yang kuat di dalam diri untuk berniat
melakukan puasa, ibadah menahan lapar dan dahaga ini akan terasa lebih ringan.
B.
Teori
Maag dalam
istilah kedokteran adalah dyspeptia, dengan dua jenis yakni dyspeptia organik,
yang lebih jarang diderita, disebabkan oleh kelainan di kerongkongan, lambung
atau usus dua belas jari dan dyspeptia fungsional disebabkan
oleh tidak normalnya kerja otot atau saraf yang mengendalikan organ-organ
pencernaan. Saraf yang mengendalikan organ pencernaan meliputi tidak hanya
saraf yang terletak di usus tetapi juga jaringan saraf tulang belakang dan otak.
Gejala dari penyakit maag biasanya nyerinya ulu hati, mual, muntah,
kembung, cepat kenyang, sendawa, dan mulut terasa pahit.
Serangan maag ini biasanya terjadi secara tiba-tiba namun tidak
berlangsung lama.
Dyspeptia fungsional biasanya terjadi karena
pola makan yang tidak teratur, kebiasaan makan kudapan berlemak
atau berminyak, terlalu banyak minum-minuman bersoda atau berkafein,
maupun stres. Bagi penderita maag jenis
ini, puasa merupakan solusi terbaik untuk menyelesaikan masalahnya.
Ketika berpuasa, pola makan seseorang menjadi teratur (setidaknya di
siang hari), mengurangi mengudap makanan berlemak dan minuman bersoda
atau berkafein, serta cenderung bersabar dan mengurangi stres. Semua hal itu
berdampak positif terhadap penyakit maagnya[1].
Nabi SAW sangat
menganjurkan pada umatnya untuk makan setelah lapar dan berhenti makan sebelum
kenyang. Inilah resep paling utama untuk menjaga kesehatan. Menurut penelitian
ahli kesehatan, puasa dapat menjadi obat berbagai penyakit. Dengan pola makan
yang teratur manusia akan mampu mengontrol daya emosi, nafsu dan ambisinya[2].
C.
Pembahasan
Tidak semata-mata
Allah SWT memerintahkan makhluknya untuk melakukan suatu ibadah, pasti ada
manfaat di balik semua perintah dan larangan-Nya. Seperti ibadah puasa, bukan
hanya sekadar bentuk ketundukan makhluk kepada Sang Pencipta melainkan banyak
manfaat yang bisa dirasakan oleh makhluk yang melaksanakan puasa tersebut. Hal
ini penulis rasakan secara langsung. Dalam seminggu ini banyak sekali tugas
yang harus dikerjakan dan terkadang itu membuat pola makan menjadi tidak
teratur. Pada hari Sabtu tanggal 13 Oktober 2012, penulis hanya makan sebanyak
dua kali itu pun tidak sesuai porsi yang cukup. Akibatnya ketika malam tiba,
perut terasa perih, kembung dan tidak nyaman. Diputuskanlah untuk memakan obat
maag. Alhamdulillah tidak berapa lama perut terasa hangat dan kembali normal.
Dengan kejadian sabtu malam itu, keesokan harinya penulis makan dengan teratur
sebanyak tiga kali dalam sehari.
Pada hari Senin
tanggal 20 Oktober 2012 penulis berniat untuk berpuasa Qodlo, mengganti puasa
Ramadhan yang batal karena menstruasi. Alarm sudah disiapkan sekitar pukul
03.30 WIB, dengan pertimbangan bahwa mengakhirkan makan sahur adalah sunnah.
Alarm pun berbunyi tepat yang dijadwalkan, tetapi ketika penulis membuka mata,
ternyata lampu padam. Mungkin sedang ada pemadaman bergilir, listrik padam dan
akhirnya penulis tidak bisa memasak apapun, diputuskanlah hanya sahur dengan
segelas air putih. Sedikit ada rasa khawatir tidak kuat melaksanakan puasa,
tetapi keyakinan untuk berpuasa masih kuat. Alhamdulillah akhirnya tamat puasa
hingga adzan maghrib berkumandang dan tidak ada kendala yang berarti. Faktor
niat yang kuat untuk berpuasa merupakan salahsatu motivasi, sakit maag pun
tidak lantas kambuh. Berbuka dengan segelas teh manis hangat untuk memulihkan
gula darah yang berkurang selama seharian berpuasa dan makan dengan porsi
secukupnya.
Pada hari
Selasa 21 Oktober 2012, penulis tidak sempat sarapan karena jadwal kuliah pagi
dan kebetulan Ibu penjual lauk yang biasa berjualan di depan kost tidak
berjualan. Hasilnya sepanjang 100 menit perkuliahan, perut ini tidak bisa
diajak kompromi, rasa perih dan kembung kembali terasa. Setelah perkuliahan
selesai pada pukul 10.25 WIB penulis baru bisa menyantap hidangan. Dengan pertimbangan
ingin cepat-cepat diisi diputuskanlah untuk makan di kantin parkiran Tarbiyah
dan memesan lotek. Beberapa menit berselang setelah menghabiskan seporsi lotek
tersebut, perut kembali terasa tidak nyaman. Penulis baru menyadari bahwa
sambal kacang yang menjadi bumbu lotek tersebut penyebabnya, terasa mual
seperti dipenuhi gas dan perut ini segera akan meledak. Faktor kesalahan
berlipat, selain sudah telat makan, begitu diisi makanan dengan tekstur yang
kasar.
Pada hari Kamis
tanggal 18 Oktober 2012 penulis kembali berpuasa Qodlo, lancar dan tidak ada
keluhan. Puasa tidak menyebabkan sakit maag penulis semakin parah, terbukti
selama berpuasa tidak ada gejala maag sama sekali, malah ketika tidak berpuasa dan
pola makan sembarangan sakit maag tersebut kambuh.
Hal ini semakin
meyakinkan diri penulis bahwa dengan berpuasa pola makan menjadi teratur dan
cenderung memilih makanan yang ‘aman’, menahan lapar dan dahaga selama seharian
tidak membuat kekurangan gizi. [3]Karena
berpuasa berarti memberikan kesempatan kepada organ-organ pencernaan seperti
lambung, usus dan lever serta oragan-organ lain seperti ginjal. Selama ini
tubuh tidak menerima masukan makanan maupun minuman, sehingga menimbulkan efek
berupa rangsangan terhadap seluruh sel, jaringan dan organ-organ tubuh. Efek
rangsangan ini menghasilkan, memulihkan dan meningkatkan fungsi-fungsi organ
sesuai dengan fungsi biologisnya.
Puasa juga
mendorong tubuh agar memblokir pertumbuhan parasit-parasit merugikan, karena
mereka menghabiskan suplai makanan. Dengan menghentikan suplai makanan,
kuman-kuman penyakit, bakteri-bakteri dan sel-sel kanker tidak dapat bertahan
hidup. Mereka akan keluar melalui cairan tubuh bersama sel-sel yang telah mati.
Demikianlah,
puasa ternyata sangat bermanfaat bagi siapapun yang melakukannya dengan
keikhlasan, yakni dengan sepenuh jiwa dan raganya. Nilai-nilai puasa yang
sangat dalam harus benar-benar diinternalisasikan di dalam diri kita agar puasa
tidak hanya mendatangkan lapar dan dahaga saja, akan tetapi juga mendatangkan
ridha-Nya dan juga manfaat yang lain termasuk manfaat kesehatan, utamanya terhadap
sistem kekebalan tubuh kita.
Sakit maag
tidak menjadi halangan untuk berpuasa selama kita bisa mengatur dengan bijak
pola makan dan asupan nutrisi ketika berbuka dan sahur. Tidak makan dan minum
berlebihan, serta memakan makanan empat sehat lima sempurna yang sesuai dengan
anjuran para ahli kesehatan.
D.
Kesimpulan
Tidak
semata-mata Allah SWT memerintahkan makhluknya untuk melakukan suatu ibadah,
pasti ada manfaat di balik semua perintah dan larangan-Nya. Seperti halnya
ibadah puasa tetapi puasa seringkali dijauhi oleh
para penderita maag. Karena gejala penyakit maag terkadang muncul ketika
berpuasa seperti nyeri ulu hati, mual, muntah, kembung, cepat kenyang, sendawa,
dan mulut terasa pahit. Serangan maag ini biasanya terjadi secara
tiba-tiba namun tidak berlangsung lama.
Berpuasa berarti
memberikan kesempatan kepada organ-organ pencernaan untuk beristirahat. Jadi
sakit maag tidak menjadi halangan untuk berpuasa selama kita bisa mengatur
dengan bijak pola makan dan asupan nutrisi ketika berbuka dan sahur. Tidak
makan dan minum berlebihan, serta memakan makanan empat sehat lima sempurna
yang sesuai dengan anjuran para ahli kesehatan. Malah dengan berpuasa kita mendapatkan
begitu banyak manfaat kesehatan, utamanya terhadap sistem kekebalan tubuh kita,
mampu mengontrol daya emosi, nafsu dan
ambisi sehingga kita bisa mendapat ridha Allah SWT.
E.
Daftar Bacaan
[1]http://www.jawaban.com/index.php/health/detail/id/65/news/120712170221/limit/0 diakses pada hari Kamis 18 Oktober 2012 pukul 19.59 WIB

Tidak ada komentar:
Posting Komentar