tita

Jumat, 08 Maret 2013

Ilmu Alamiah Dasar

Hubungan Antara Puasa Dengan Sakit Maag
Oleh:
Tita Prawesti (10411034) 5-PAI A
A.      Latar Belakang Masalah
Puasa di bulan Ramadhan merupakan rukun Islam yang ketiga, wajib dilaksanakan  oleh setiap muslim yang baligh. Namun puasa seringkali dijauhi oleh para penderita maag. Padahal untuk beberapa jenis maag, puasa justru dianjurkan untuk menyehatkan dan menyembuhkan penyakit maag itu sendiri. Ditambah dengan faktor psikis yakni keyakinan yang kuat di dalam diri untuk berniat melakukan puasa, ibadah menahan lapar dan dahaga ini akan terasa lebih ringan.

B.       Teori
Maag dalam istilah kedokteran adalah dyspeptia, dengan dua jenis yakni dyspeptia organik, yang lebih jarang diderita, disebabkan oleh kelainan di kerongkongan, lambung atau usus dua belas jari dan dyspeptia fungsional disebabkan oleh tidak normalnya kerja otot atau saraf yang mengendalikan organ-organ pencernaan. Saraf yang mengendalikan organ pencernaan meliputi tidak hanya saraf yang terletak di usus tetapi juga jaringan saraf tulang belakang dan otak. Gejala dari penyakit maag biasanya nyerinya ulu hati, mual, muntah, kembung, cepat kenyang, sendawa, dan mulut terasa pahit. Serangan maag ini biasanya terjadi secara tiba-tiba namun tidak berlangsung lama.
Dyspeptia fungsional biasanya terjadi karena pola makan yang tidak teratur, kebiasaan makan kudapan berlemak atau berminyak, terlalu banyak minum-minuman bersoda atau berkafein, maupun stres. Bagi penderita maag jenis ini, puasa merupakan solusi terbaik untuk menyelesaikan masalahnya. Ketika berpuasa, pola makan seseorang menjadi teratur (setidaknya di siang hari), mengurangi mengudap makanan berlemak dan minuman bersoda atau berkafein, serta cenderung bersabar dan mengurangi stres. Semua hal itu berdampak positif terhadap penyakit maagnya[1].
Nabi SAW sangat menganjurkan pada umatnya untuk makan setelah lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Inilah resep paling utama untuk menjaga kesehatan. Menurut penelitian ahli kesehatan, puasa dapat menjadi obat berbagai penyakit. Dengan pola makan yang teratur manusia akan mampu mengontrol daya emosi, nafsu dan ambisinya[2].
C.      Pembahasan
Tidak semata-mata Allah SWT memerintahkan makhluknya untuk melakukan suatu ibadah, pasti ada manfaat di balik semua perintah dan larangan-Nya. Seperti ibadah puasa, bukan hanya sekadar bentuk ketundukan makhluk kepada Sang Pencipta melainkan banyak manfaat yang bisa dirasakan oleh makhluk yang melaksanakan puasa tersebut. Hal ini penulis rasakan secara langsung. Dalam seminggu ini banyak sekali tugas yang harus dikerjakan dan terkadang itu membuat pola makan menjadi tidak teratur. Pada hari Sabtu tanggal 13 Oktober 2012, penulis hanya makan sebanyak dua kali itu pun tidak sesuai porsi yang cukup. Akibatnya ketika malam tiba, perut terasa perih, kembung dan tidak nyaman. Diputuskanlah untuk memakan obat maag. Alhamdulillah tidak berapa lama perut terasa hangat dan kembali normal. Dengan kejadian sabtu malam itu, keesokan harinya penulis makan dengan teratur sebanyak tiga kali dalam sehari.
Pada hari Senin tanggal 20 Oktober 2012 penulis berniat untuk berpuasa Qodlo, mengganti puasa Ramadhan yang batal karena menstruasi. Alarm sudah disiapkan sekitar pukul 03.30 WIB, dengan pertimbangan bahwa mengakhirkan makan sahur adalah sunnah. Alarm pun berbunyi tepat yang dijadwalkan, tetapi ketika penulis membuka mata, ternyata lampu padam. Mungkin sedang ada pemadaman bergilir, listrik padam dan akhirnya penulis tidak bisa memasak apapun, diputuskanlah hanya sahur dengan segelas air putih. Sedikit ada rasa khawatir tidak kuat melaksanakan puasa, tetapi keyakinan untuk berpuasa masih kuat. Alhamdulillah akhirnya tamat puasa hingga adzan maghrib berkumandang dan tidak ada kendala yang berarti. Faktor niat yang kuat untuk berpuasa merupakan salahsatu motivasi, sakit maag pun tidak lantas kambuh. Berbuka dengan segelas teh manis hangat untuk memulihkan gula darah yang berkurang selama seharian berpuasa dan makan dengan porsi secukupnya.
Pada hari Selasa 21 Oktober 2012, penulis tidak sempat sarapan karena jadwal kuliah pagi dan kebetulan Ibu penjual lauk yang biasa berjualan di depan kost tidak berjualan. Hasilnya sepanjang 100 menit perkuliahan, perut ini tidak bisa diajak kompromi, rasa perih dan kembung kembali terasa. Setelah perkuliahan selesai pada pukul 10.25 WIB penulis baru bisa menyantap hidangan. Dengan pertimbangan ingin cepat-cepat diisi diputuskanlah untuk makan di kantin parkiran Tarbiyah dan memesan lotek. Beberapa menit berselang setelah menghabiskan seporsi lotek tersebut, perut kembali terasa tidak nyaman. Penulis baru menyadari bahwa sambal kacang yang menjadi bumbu lotek tersebut penyebabnya, terasa mual seperti dipenuhi gas dan perut ini segera akan meledak. Faktor kesalahan berlipat, selain sudah telat makan, begitu diisi makanan dengan tekstur yang kasar.
Pada hari Kamis tanggal 18 Oktober 2012 penulis kembali berpuasa Qodlo, lancar dan tidak ada keluhan. Puasa tidak menyebabkan sakit maag penulis semakin parah, terbukti selama berpuasa tidak ada gejala maag sama sekali, malah ketika tidak berpuasa dan pola makan sembarangan sakit maag tersebut kambuh.
Hal ini semakin meyakinkan diri penulis bahwa dengan berpuasa pola makan menjadi teratur dan cenderung memilih makanan yang ‘aman’, menahan lapar dan dahaga selama seharian tidak membuat kekurangan gizi. [3]Karena berpuasa berarti memberikan kesempatan kepada organ-organ pencernaan seperti lambung, usus dan lever serta oragan-organ lain seperti ginjal. Selama ini tubuh tidak menerima masukan makanan maupun minuman, sehingga menimbulkan efek berupa rangsangan terhadap seluruh sel, jaringan dan organ-organ tubuh. Efek rangsangan ini menghasilkan, memulihkan dan meningkatkan fungsi-fungsi organ sesuai dengan fungsi biologisnya.
Puasa juga mendorong tubuh agar memblokir pertumbuhan parasit-parasit merugikan, karena mereka menghabiskan suplai makanan. Dengan menghentikan suplai makanan, kuman-kuman penyakit, bakteri-bakteri dan sel-sel kanker tidak dapat bertahan hidup. Mereka akan keluar melalui cairan tubuh bersama sel-sel yang telah mati.
Demikianlah, puasa ternyata sangat bermanfaat bagi siapapun yang melakukannya dengan keikhlasan, yakni dengan sepenuh jiwa dan raganya. Nilai-nilai puasa yang sangat dalam harus benar-benar diinternalisasikan di dalam diri kita agar puasa tidak hanya mendatangkan lapar dan dahaga saja, akan tetapi juga mendatangkan ridha-Nya dan juga manfaat yang lain termasuk manfaat kesehatan, utamanya terhadap sistem kekebalan tubuh kita.
Sakit maag tidak menjadi halangan untuk berpuasa selama kita bisa mengatur dengan bijak pola makan dan asupan nutrisi ketika berbuka dan sahur. Tidak makan dan minum berlebihan, serta memakan makanan empat sehat lima sempurna yang sesuai dengan anjuran para ahli kesehatan.
D.      Kesimpulan
Tidak semata-mata Allah SWT memerintahkan makhluknya untuk melakukan suatu ibadah, pasti ada manfaat di balik semua perintah dan larangan-Nya. Seperti halnya ibadah puasa tetapi puasa seringkali dijauhi oleh para penderita maag. Karena gejala penyakit maag terkadang muncul ketika berpuasa seperti nyeri ulu hati, mual, muntah, kembung, cepat kenyang, sendawa, dan mulut terasa pahit. Serangan maag ini biasanya terjadi secara tiba-tiba namun tidak berlangsung lama.
Berpuasa berarti memberikan kesempatan kepada organ-organ pencernaan untuk beristirahat. Jadi sakit maag tidak menjadi halangan untuk berpuasa selama kita bisa mengatur dengan bijak pola makan dan asupan nutrisi ketika berbuka dan sahur. Tidak makan dan minum berlebihan, serta memakan makanan empat sehat lima sempurna yang sesuai dengan anjuran para ahli kesehatan. Malah dengan berpuasa kita mendapatkan begitu banyak manfaat kesehatan, utamanya terhadap sistem kekebalan tubuh kita,  mampu mengontrol daya emosi, nafsu dan ambisi sehingga kita bisa mendapat ridha Allah SWT.
E.       Daftar Bacaan



                [1]http://www.jawaban.com/index.php/health/detail/id/65/news/120712170221/limit/0 diakses pada hari Kamis 18 Oktober 2012 pukul  19.59 WIB
                [2] Suyadi,  Keajaiban Puasa Senin Kamis, (Yogyakarta:Mitra Pustaka, 2007), hal 176
            [3]Mustamir, Rahasia Energi Ibadah untuk Penyembuhan: penyembuhan Islami dengan Metode Religiopsikoneuroimunologi, (Yogyakarta: Lingkaran, 2007), hal 239-240

Tidak ada komentar:

Posting Komentar