tita

Selasa, 02 Juli 2013

Perbandingan Pendidikan Korea dan Jepang

Powerpoint 

Makalah


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
                        Setiap negara tentu memiliki sistem pendidikan. Melalui sistem pendidikan itu suatu negara dapat memelihara dan mempertahankan nilai-nilai luhur, serta keunggulan-keunggulan mereka dari generasi ke generasi.
                        Studi perbandingan sistem pendidikan merupakan salah satu cara untuk mengetahui berbagai aspek yang berhubungan dengan sistem pendidikan negara tertentu, terutama yang berhubungan dengan kelebihan yang terjadi pada sistem pendidikan negara tersebut. Untuk itulah pada kesempatan kali ini penulis menguraikan perbandingan pendidikan terhadap negara Jepang dan Korea Selatan. dikarenakan kedua Negara ini memiliki kemajuan yang begitu pesat dalam penguasaan sektor teknologi. Kemajuan ini tentunya tidak terlepas dari kemajuan pendidikannya.
                        Makalah perbandingan pendidikan di Indonesia, Jepang, dan Korea Selatan ini bertujuan untuk mengambil manfaat dan mencoba merekonstruksi pendidikan agar dapat disesuakan apabila diterapkan di Indonesia. Sebagai tambahan pengetahuan dan lebih jauhnya untuk membangun pendidikan Indonesia yang lebih baik lagi. 
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah sistem pendidikan di Jepang?
2.      Bagaimanakah sistem pendidikan di Korea Selatan?
3.      Bagaimanakah perbandingan pendidikan di Indonesia, Jepang, dan Korea Selatan?
C.    Tujuan
1.      Mengetahui sistem pendidikan di Jepang
2.      Mengetahui sistem pendidikan di Korea Selatan
3.      Mengetahui perbandingan pendidikan di Indonesia, Jepang, dan Korea Selatan

BAB II
PENDIDIKAN DI JEPANG
A.      Gambaran Umum Negara Jepang
     Negara yang beribukota di Tokyo ini secara astronomis terletak diantara 30o LU-46oLU dan diantara 128oBT-149oBT. Terletak diwilayah Asia Timur yang terpisah dari daratan Asia. Luas totalnya adalah 377.815 KM persegi. Kepulauan ini terdiri dari empat pulau utama, honshu, hokkaido, kyushu, dan shikoku (berurut dari besar sampai kecil), sejumlah gugusan pulau, dan sekitar 3.900 pulau yang lebih kecil lagi. Jepang mengenal empat musim yaitu musim panas (natsu) Juni, Juli, Agustus. Musim gugur (aki) September, Oktober, dan november. Musim dingin (fuyu) Desember, Januari, dan Februari. Musim semi (haru) bulan Maret, April, dan bulan Mei.[1]
     Batas-batas negara ini adalah sebelah utara : Berbatasan dengan Pulau Sakhalin dan Laut Okhosk. Sebelah timur : Berbatasan dengan Samudera Pasifik. Sebelah selatan : Berbatasan dengan Laut Cina Timur dan Samudera pasifik. Sebelah barat : Berbatasan dengan Laut Jepang (Laut Timur) danselat Korea.
     Berdasarkan data dari kementerian dalam negeri, jumlah keseluruhan penduduk Jepang (belum termasuk warga asing) sekarang mencapai 127,076,183 jiwa. Meningkat sebanyak 10,005 jiwa dibandingkan tahun 2008. Sekitar 76% rakyat Jepang hidup di kota-kota besar. Dari populasi kota ini, hampir 60% memadati empat kawasan metropolitan terbesar Jepang, yang mencakup 16 prefektur yang berpusat pada Tokyo, Osaka, Nagoya, dan Kita Kyushu.
     Jepang termasuk negara industri terbesar di dunia. Oleh karena itu, banyak orang Jepang yang bekerja sebagai karyawan. Para karyawan perusahaan banyak menghabiskan waktu di kantor, dan seringkali banyak yang menempuh jarak yang jauh dari rumah ke tempat kerjanya. Meskipun perindustrian sudah sangat maju, masyarakat Jepang tidak meninggalkan mata pencaharian primer seperti pertanian dan perikanan. Selain itu ada juga banyak bisnis kecil seperti usaha milik keluarga, sanggar seni, restoran kecil, serta toko di lingkungan perumahan.
     Di Jepang, kebebasan agama dijamin bagi semua orang berdasarkan Undang-Undang Dasar. Pasal 20 menyatakan bahwa “tidak satupun organisasi agama dapat menerima hak istimewa dari negara, dan tidak satupun dapat mempunyai wewenang politik apapun. Tidak seorangpun dapat dipaksa mengambil bagian dalam kegiatan, perayaan, upacara, atau praktek agama. Negara dan instansinya harus membatasi diri tidak melakukan pendidikan agama dan kegiatan agama apapun.”
     Agama yang terbesar di Jepang dewasa ini ialah agama Budha, yang pada akhir tahun 1985 mempunyai 92 juta pemeluk. Agama Kristen juga bergiat, pada tahun 1985 di jepang terdapat 1,7 juta orang Kristen (Katolik dan Protestan). Di antara agama-agama lain, orang muslim berjumlah sekitar 155.000, termasuk orang bukan Jepang yang bermukim sementara di negeri ini. Agama asli Jepang ialah Shinto, yang berakar pada kepercayaan animis orang Jepang kuno. Shinto berkembang menjadi agama masyarakat dengan tempat pemujaan setempat untuk dewa-dewa rumah tangga, dan pada dewa-dewa pelindung setempat. Pahlawan dan pemimpin-pemimpin masyarakat yang terkemuka didewakan dari generasi ke generasi, dan arwah nenek moyang juga di sembah.[2]
     Hakko Ichiu (Delapan Penjuru Dunia Di Bawah Satu Atap) merupakan ideologi yang sangat diyakini oleh bangsa Jepang. Menurut ideologi ini, Jepang ditakdirkan untuk menguasai dunia. Ideologi Hakko Ichiu ditanamkan melalui pendidikan di sekolah-sekolah dan pertama kali dimulai melalui proses sosialisasi di kalangan guru. Para guru inilah yang ditugasi untuk menanamkan dan menyebarkan ideologi ini. Proses pelatihan untuk pemahaman Hakko Ichiu ini dilakukan di setiap kabupaten dan berlangsung sekitar 3 bulan secara bergiliran hingga merata.[3]
B.       Sistem Pendidikan
1.      Tujuan Pendidikan
          Tujuan pendidikan di Jepang adalah mengembangkan kepribadian secara penuh dengan berupaya keras membangun manusia yang sehat pikiran dan badan, yang mencintai kebenaran dan keadilan, menghormati perseorangan, menghargai kerja, mempunyai rasa tanggungjawab yang dalam dan memiliki semangat independen sebagai pembangun negara dan masyarakat yang damai.[4]
2.      Sistem Pembelajaran
                       Sistem administrasi pendidikan di Jepang dibangun atas empat tingkat, yaitu: pusat, perfektual (antara Provinsi dan Kabupaten), municipal (antara Kabupaten dan Kecamatan), dan sekolah. Sistem administrasi tersebut menerapkan kombinasi antara sentralisasi, desentralisasi, Manajemen Berbasis Sekolah (School Based Management), dan partisipasi masyarakat. Di samping itu, terdapat asosiasi-asosiasi kepala sekolah, guru, murid, dan orang tua yang mendukung pengembangan sekolah. Dalam sistem tersebut terdapat peran dan hubungan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, asosiasi-asosiasi tersebut, dan masyarakat yang saling mengisi sehingga tercipta sinergi yang memungkinkan sistem tersebut menjadi relatif efisien dan efektif. Hal ini merupakan faktor utama pencapaian mutu pendidikan di Jepang yang relatif tinggi.[5]
                       Tahun ajaran jepang mulai pada bulan April. Ada liburan musim panas  selama beberapa minggu, dan liburan dua minggu waktu tahun baru. Tahun ajaran berakhir pada bulan maret, kemudian sekolah libur selama dua minggu sebelum mulai tahun ajaran baru selanjutnya. Siswa biasanya bersekolah lima atau enam hari dalam satu minggu. Pengajaran memakai metode konvensional ataupun teknik-teknik modern, misalnya pengajaran dengan media komputer. Pelajaran di kelas berlangsung dari pukul 08. 30 hingga sekitar pukul 15.00 atau 15.30 pada hari kerja. Bila ada pelajaran pada hari sabtu, maka biasanya berakhir pada tengah hari. Banyak siswa mengikuti bimbingan belajar di juku, ikut serta dalam kegiatan olahraga atau kegiatan ekstrakurikuler lainnya pada sore hari.
3.      Jenjang dan Lama Pendidikan
                                    Jenjang pendidikan di Jepang pada dasarnya adalah Sekolah Dasar (SD) 6 (enam) tahun, Sekolah Menengah Pertama (SMP) 3 (tiga) tahun, Sekolah Menengah Atas (SMA) 3 (tiga) tahun, Universitas 4 (empat) tahun, dan Lembaga Pendidikan Tinggi 2 (dua) tahun. Wajib belajar adalah dari SD sampai SMP. Untuk masuk SMA dan Universitas pada dasarnya harus mengikuti ujian masuk. Selain sekolah tersebut, ada sekolah kejuruan atau sekolah khusus yang menampung lulusan SD atau SMP. Sekolah ini mengajarkan keterampilan khusus. Di samping beberapa jenjang pendidikan tersebut, di Jepang juga terdapat program pendidikan prasekolah, baik dalam bentuk Taman Kanak-Kanak (TK) maupun Play Group (PG). Jika dilihat dari pengelola sekolah, dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu Sekolah Negeri adalah sekolah yang dikelola pemerintah, Sekolah provinsi adalah sekolah yang dikelola pemerintah daerah, Sekolah Swasta adalah sekolah yang dikelola badan hukum.[6]




Tabel Jenjang Pendidikan di Jepang:[7]
Usia
Kelas
Lembaga pendidikan
3

Prasekolah
4
5
6
1
Sekolah dasar (小学校 shōgakkō)
Wajib Belajar
7
2
8
3
9
4
10
5
11
6
12
7
Sekolah menengah pertama  (中学校 chūgakkō)
13
8
14
9
15
10
Sekolah menengah atas (高等学校 kōtōgakkō) disingkat kōkō (高校)
Sekolah teknik/politeknik (高等専門学校 kōtō senmongakkō) disingkat kōsen (高専)
16
11
17
12
18
Universitas (大学 daigaku) (strata 1: 4 tahun)
Akademi (短期大学 tanki daigaku) (strata 1: 2 tahun)
19
20
21

Secara lebih rinci, jenjang pendidikan di Jepang adalah sebagai berikut:[8]
a.    Pendidikan Prasekolah
        Taman kanak-kanak menerima  murid berusia 3 sampai 5 tahun, untuk lama pendidikan 1 sampai 3 tahun. Anak berusia 3 tahun diterima dan mengikuti pendidikan selama 3 tahun, sedangkan anak usia 4 tahun berarti menempuh pendidikan pra sekolah selam 2 tahun, begitu seterusnya. Bagi pendaftar usia 5 tahun berarti menempuh pendidikan hanya selama satu tahun. Lebih dari 50% TK di jepang di kelola oleh swasta, sisanya oleh pemerintah kota dan hanya sebagian kecil yang merupakan TK Negeri.
        Selain TK, ada pula lembaga untuk anak-anak yang di sebut Hoiku-jo (pusat perawatan siang hari). Meskipun termasuk lembaga kesejahteraan sosial, Hoiku-jo juga berfungsi sebagai tempat pendidikan prasekolah. Yang masuk ke Hoiku-jo adalah bayi hingga anak usia 5 tahun yang memerlukan perawatan siang hari karena kedua orang tuanya bekerja atau memiliki kesibukan lainnya. Mereka yang berusia 3 tahun ke atas biasanya mendapat pendidikan sama seperti di TK. Kebanyakan pusat penitipan anak seperti ini di kelola oleh pemerintah Daerah.
b.    Pendidikan Wajib
        Wajib sekolah berlaku bagi anak usia 6-15 tahun, tiap anak di  wajibkan di SD pada usia 6 hingga 12 tahun, lalu di SLTP hingga usia 15 tahun. Pendidikan wajib ini bersifat cuma-cuma atau tanpa bayar bagi semua anak. Anak-anak dari keluarga yang tidak mampu mendapat bantuan khusus dari pemerintah pusat dan daerah untuk biaya makan siang di sekolah, piknik, kebutuhan belajar, perawatan kesehatan, dan lain-lain. Seorang anak yang telah tamat sekolah dasar di wajibkan meneruskan pendidikannya ke sekolah menengah pertama. Sekolah wajib ditempuh selama 9 tahun; 6 tahun di sekolah dasar dan 3 tahun di sekolah menengah pertama, setelah itu diteruskan ke sekolah menengah atas.
c.    Pendidikan Menengah Atas
        Terdapat tiga jenis sekolah menengah atas (SMA), yaitu: full-time, part-time (terutama malam hari), dan tertulis. Sekolah menengah yang full time berlangsung selama 3 tahun, sedangkan kedua jenis sekolah lainnya menghasilkan diploma yang setara. Bagian terbesar siswa mendapat pendidikan menengah atas full-time. Jurusan di SMA dapat dikategorikan ke dalam beberapa jenis berdasarkan pola kurikulum, yaitu jurusan umum (akademis), pertanian, teknik, perdagangan, perikanan, home economic, perawatan dan lain-lain. Untuk masuk ke salah satu jenis sekolah tersebut, siswa harus mengikuti ujian masuk dan membawa surat referensi dari SMP tempat ia lulus sebelumnya.
        Hampir semua SMP dan SMA serta Universitas swasta menentukan penerimaan siswa melalui ujian masuk, dan setiap sekolah menyelenggakan ujian masuk sendiri. Siswa yang ingin masuk sekolah yang bersangkutan harus mengikuti ujian. Karena ujian masuk sangat sulit, siswa kerap mengikuti les tambahan (bimbingan belajar) di juku atau yobiko pada akhir pekan atau pada sore/malam hari biasa, selain pelajaran sekolahnya.
d.   Pendidikan Tinggi
        Pendidikan tinggi di Jepang berada di bawah pengelolaan tiga lembaga, yaitu pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pihak swasta. Terdapat tiga jenis lembaga pendidikan tinggi, yaitu: universitas, junior college (akademi), dan technical college (akademi teknik). Di universitas terdapat pendidikan sarjana (S-1) dan pascasarjana (S-2 dan S-3). Pendidikan S-1 berlangsung selama 4 tahun, menghasilkan sarjana bergelar Bachelor’s degree, kecuali di fakultas kedokteran dan kedokteran gigi yang berlangsung selama 6 tahun. Pendidikan pascasarjana dibagi dalam dua kategori, yakni Master’s degree (S-2) ditempuh selama 2 tahun sesudah tamat S-1dan Doctor’s degree (S-3) ditempuh selama 5 tahun.
Junior college memberikan pendidikan selama dua atau tiga tahun bagi para lulusan SMA. Kredit yang diperlukan di junior college dapat dihitung sebagai bagian dari kredit untuk memperoleh gelar Bachelor’s degree (S-1). Lulusan sekolah menengah (setingkat SMP) dapat masuk ke technical college (akademi teknik). Pendidikan di lembaga ini berlangsung selama 5 tahun (full time) untuk mencetak tenaga teknisi.
4.      Kurikulum
Guru di jepang wajib melaksanakan kurikulum yang sudah ditentukan oleh pemerintah pusat. Kurikulum meliputi pendidikan moral, event-event khusus (seperti upacara, darma wisata, pertandingan olah raga, dan memberikan bimbingan tentang kesehatan, keselamatan dan lain-lain), serta mata pelajaran biasa.[9]
Pembuatan kurikulum pendidikan Jepang diawasi oleh The Board of Education yang terdapat pada tingkat perfectur dan munipal.  Karena kedua lembaga ini masih terkait erat dengan MEXT, maka pengembangan kurikulum Jepang masih sangat kental sifat sentralistiknya.  Namun rekomendasi yang dikeluarkan oleh Central Council for Education (chuuou shingi kyouiku kai) pada tahun 1997 memungkinkan sekolah berperan lebih banyak dalam pengembangan kurikulum di masa mendatang.
Beberapa hal berikut harus diperhatikan ketika sekolah menyusun kurikulumnya :
a.    Mengacu kepada standar kurikulum nasional
b.    Mengutamakan keharmonisan pertumbuhan jasmani dan rohani siswa
c.    Menyesuaikan dengan lingkungan sekitar
d.   Memperhatikan step perkembangan siswa
e.    Memperhatikan karakteristik course pendidikan/jurusan pada level SMA.
Secara garis besar penyusunan kurikulum sekolah adalah sebagai berikut :
a.       Menetapkan tujuan sekolah
b.      Mempelajari standar kurikulum, dan korelasinya dengan tujuan sekolah
c.       menyusun course wajib dan pilihan untuk SMP dan SMA
d.      Mengalokasikan hari efektif sekolah dan jam belajar.[10]
5.      Tenaga Pendidik
          William K.C menjelaskan bahwa perekrutan guru di Jepang dipertimbangkan berdasarkan kualitas, kompetensi, keahlian, profesionalisme dan komitmen mereka dalam pelaksanaan pembelajaran nantinya. Pendidik di Jepang memiliki dedikasi yang tinggi, bersikap profesional dan adil, berusaha menanamkan pendidikan “seutuhnya”, dan tidak merasa takut kehilangan jabatanya karena ketegasanya. Salah satu bentuk kepedulian dan kepribadian yang matang seorang pendidik terhadap siswanya adalah, melakukan komunikasi baik dengan orangtua dengan cara berkunjung ke rumah tiap siswa untuk bertemu dengan orangtua sekurang-kurangnya sekali setahun. Guna mencoba memahami dan melihat kondisi-kondisi siswanya di tempat tiggalnya.[11]
          Gaji guru di Jepang yang dikutip dari link “salary sedunia http://www.educationworld.net/salaries_jp.html  
Grade
Teachers
Yen (a month)
Head-Teachers
Yen (a month)
Principal
Yen(a month)
2
156,500
292,500
422,400
4
184,200
320,900
439,800
6
202,500
348,600
456,200
8
217,900
369,500
471,500
10
237,600
389,000
485,600
12
262,000
406,100
500,100
14
288,200
422,200
512,100
16
315,700
437,300

18
342,700
451,000

20
362,900
463,800

22
381,400
474,100

24
397,600
482,200

26
411,200
488,400

28
422,400


30
432,300


32
441,300


34
449,700


36
455,900

          Data tersebut adalah gaji guru SD dan SMP, sedangkan gaji guru SMA sedikit lebih tinggi. Grade menggambarkan periode kerja. Seorang guru muda akan memperoleh 156,500 yen per bulan, dengan kurs hari ini (setara dengan 156,500xRp75.295=Rp 11,783,667).
          Rata-rata guru di Jepang mulai bekerja pada usia 22-23 tahun, setamat Universitas. Hasil survey MEXT (Kementerian Pendidikan Jepang) menunjukkan bahwa rata-rata guru di Jepang berumur 42 tahun, dengan kata lain mereka telah bekerja selama 20 tahun. Selama 20 tahun bekerja seorang guru sekolah publik akan memperoleh gaji sebesar 362,900 yen atau setara dengan Rp 27,324,555 per bulan.
          Selain medapatkan gaji bulanan, para guru juga memperoleh extra salary (adjusment allowance) sebesar 4% gaji bulanan, dan juga akan mendapatkan bonus 2 kali dalam setahun yaitu bulan Juni dan Desember sebesar 4.65% gaji bulanan. Sehingga guru yang bekerja selama 20 tahun akan menerima total penghasilan per bulan sebesar 362,900 plus (362,900×4%) = 377,416 yen. Dan akan menerima gaji per tahun sebesar 362,900×12 plus (362,900×4%x12) plus (363,900×4.65%x2)= 4,562,741.7 yen. Kalau dibuat ke rupiah, ya silahkan hitung sendiri.
          Gaji guru di sekolah negeri dibayar oleh pemerintahan di tingkat prefektur (provinsi) sebesar 50% dan pemerintah pusat 50%. Prosentasi ini bisa berubah jika kondisi prefektur tidak begitu kaya.
          Selain gaji, bonus dan extra gaji seperti di atas, terdapat pula beberapa tambahan gaji yang tidak berlaku nasional, misalnya : regional allowance, supporting family allowance, commuting allowance, head teacher allowance and head teacher instructor allowance, club activities instructor allowance.[12]
6.         Pendidikan Islam
          Tahun 1994, jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Jepang, baik dengan status beasiswa pemerintah Jepang, beasiswa pemerintah Indonesia, maupun biaya sendiri, untuk jenjang S-1, S-2, S-3, dan lain-lain, mencapai 1.178 orang. Dibandingkan dengan negara lain dalam periode yang sama, mekipun angka ini tergolong kecil,  yang ditekankan dalam konteks ini adalah bahwa pelajar dan mahasiswa Indonesia yang kebanyakan beragama Islam terus berdatangan ke Jepang, lalu membentuk komunitas muslim tersendiri bersama dengan rekan-rekan seagamanya dari belahan dunia yang lain. Studi keislaman di Jepang juga menunjukkan peningkatan. Di Universitas Tokyo telah didirikan Islamic Area Studies Project di bawah pimpinan Sato Tsugitaka. Masjid dan Islamic Center menjadi tempat rujukan kaum muslim yang tinggal di Jepang untuk saling bertemu.[13]



BAB III
PENDIDIKAN DI KOREA SELATAN
A.      Gambaran Umum Negara Korea Selatan
     Korea Selatan merupakan negara Republik yang dikepalai oleh seorang Presiden. Presiden Korea Selatan saat ini adalah Lee Myung-bak dan Kepala Pemerintahannya PM Han Seung – Soo, dengan ibukota Seoul. Negara Korea Selatan terdiri dari 9 propinsi (Kyonggi-do, Kangwon-do, Chungchongbuk-do, Chungchongnam-do, Kyongsangbuk-do, Chollabuk-do, Kyongsangnam-do, Chollanam-do, Cheju-do), dan 6 Kota Metropolitan setingkat Propinsi (Incheon, Seoul,  Taejon, Pusan, Ulsan, Taegu), dengan luas wilayah kira-kira 99,480 km2. (45% dari luas Semenanjung Korea).
     Sebagian besar penduduk Korea Selatan yang berjumlah + 49,232,844 dari tingkat pertumbuhan penduduk 0.371% hanya 4% Tingkat Pengangguran dari 24.22 juta Jumlah Angkatan Kerja/Tahun. Dapat disampaikan bahwa parlemen Korea Selatan adalah Dewan Nasional (National Assembly atau Kukhoe) mempunyai 299 kursi – anggota dipilih tiap 4 tahun sekali. Terdiri dari 243 kursi elektorat, 56 kursi representasi proporsional.
     Keadaan perekonomian Korea Selatan sangat maju dengan GDP: $969.9 triliun dan tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar $20,045 dengan tingkat Inflasi 2.5% dengan andalan Komoditas Utama Ekspornya antara lain Semikonduktor, peralatan komunikasi nirkabel, kendaraan bermotor, komputer, besi, kapal, petrokimia, kapal laut, tekstil, pakaian jadi, dan hasil laut dengan tingkat income perkapitanya yang mencapai $20,045 dan daya beli sebesar $19,751.[14]
     Ideologi yang dipakai di Korea Selatan adalah Demokrasi dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1.         Demokrasi merupakan bentuk pemerintahan yang lebih baik.
2.         Anggota masyarakat memiliki kebebasan intelektual penuh, termasuk kebebasan berbicara, kebebasan beragama dan kebebasan pers.
3.         Pemerintah hanya mengatur kehidupan masyarakat secara terbatas. Keputusan yang dibuat hanya sedikit untuk rakyat sehingga rakyat dapat belajar membuat keputusan untuk diri sendiri.
4.         Kekuasaan dari seseorang terhadap orang lain merupakan hal yang buruk. Oleh karena itu, pemerintahan dijalankan sedemikian rupa sehingga penyalahgunaan kekuasaan dapat dicegah. Pendek kata, kekuasaan dicurigai sebagai hal yang cenderung disalahgunakan, dan karena itu, sejauh mungkin dibatasi.
5.         Suatu masyarakat dikatakan berbahagia apabila setiap individu atau sebagian besar individu berbahagia. Walau masyarakat secara keseluruhan berbahagia, kebahagian sebagian besar individu belum tentu maksimal. Dengan demikian, kebaikan suatu masyarakat atau rezim diukur dari seberapa tinggi indivivu berhasil mengembangkan kemampuan-kemampuan dan bakat-bakatnya.[15]
B.       Sistem Pendidikan
1.      Tujuan Pendidikan
                       Salah satu keputusan Dewan Nasional Republik Korea tahun 1948 adalah menyusun undang-undang pendidikan. Sehubungan dengan hal ini, maka tujuan pendidikan Korea Selatan adalah untuk menanamkan pada setiap orang rasa Identitas Nasional dan penghargaan terhadap kedaulatan Nasional (menyempurnakan kepribadian setiap warga Negara, mengemban cita-cita persaudaraan yang universal mengembangkan kemampuan untuk hidup mandiri dan berbuat untuk Negara yang demokratis dan kemakmuran seluruh umat manusia) dan menanamkan sifat patriotisme.[16]
2.      Sistem Pembelajaran
                       Di SMP masing-masing kelas mempunyai seorang wali kelas yang akan memperhatikan kehidupan dan mengarahkan siswanya, dan untuk masing-masing pelajaran mempunyai guru yang berbeda-beda. Mata pelajaran mereka terdiri dari Bahasa Korea, Sosial Moral, Matematika, Bahasa Inggris, Ilmu Science, Olahraga, Kesenian dan Keterampilan. Jam belajar dimulai dari jam 9 sampai jam 3 sore.[17]
                       Para siswa sekolah menengah atas di Korea Selatan rata-rata memiliki durasi jam pelajaran dimulai dari jam 09.30 atau 10.00, sampai larut malam. Pemerintah mengatakan, tujuannya adalah agar siswa mampu masuk ke perguruan tinggi yang baik, setelah melewati kompetisi yang tinggi. Akibatnya, banyak siswa juga akan menghadiri program pembelajaran lain di luar jam sekolah. Setelah program sekolah memperkuat pendidikan dan pembelajaran bahasa Inggris, sehingga ada permintaan yang tinggi bagi mereka, dan bagi siswa, ini mungkin, satu sarana sosial mereka dan cara untuk bertemu teman-teman lain. Ini berarti rata-rata remaja Korea tidak pulang ke rumah sampai tengah malam, dan makan siang hingga makan malam-pun sampai disajikan di sekolah. Metode pembelajaran dengan waktu "gila-gilaan" seperti ini sebenarnya sudah mulai menuai kritik dari para pengamat pendidikan di Korea sendiri.[18]
3.      Lama dan Jenjang Pendidikan
                       Sekolah menengah atas di Korea biasanya dibagi menjadi dua jenis, sekolah umum dan kejuruan. Ada juga beberapa sekolah yang disebut sekolah komprehensif, yaitu sekolah umum dan kejuruan digabung. Sekolah-sekolah khusus pun ada, misalnya sekolah menengah khusus seni, olahraga, ilmu pengetahuan, dll.[19]
          Secara umum sistem pendidikan di korea Selatan terdiri dari empat jenjang pendidikan formal yaitu : Sekolah dasar, Sekolah Menengah Tingkat Pertama, SLTA dan pendidikan tinggi. Keempat jenjang pendidikan ini adalah: grade 1-6 (SD), grade 7-9 (SLTP), 10-12 (SLTA), dan grade 13-16 (pendidikan tinggi/program S1), serta program pasca sarjana (S2/S3).
          Visualisasi grade pendidikan yang dimaksud adalah:
a.    Sekolah dasar merupakan pendidikan wajib selama 6 tahun bagi anak usia 6 dan 11 tahun, dengan jumlah lulusan SD mencapai 99,8%, dan putus sekolah SD 0,2%.
b.    SMP merupakan kelanjutan SD bagi anak usia 12-14 tahun, selama 3 tahun pendidikan.
c.    Kemudian melanjutkan ke SLTA pada grade 10-11 dan 12, dengan dua pilihan yaitu: umum dan sekolah kejuruan. Sekolah kejuruan meliputi pertanian, perdagangan, perikanan dan teknik. Selain itu ada sekolah komperhensif yang merupakan gabungan antara sekolah umum dan sekolah kejuruan, yang merupakan bekal untuk melanjutkan ke akademik (Junior College) atau universitas (Senior College).
d.   Pendidikan tinggi/akademik (Junior College) atau universitas program S1 (senior college), pada grade 13-16, dan selanjutnya ke program pasca sarjana (graduate school) gelar master/doktor.[20]
4.      Kurikulum
                        Sampai saat ini, kurikulum di Korea Selatan sudah mengalami revisi sebanyak lima kali sampai versi keenam. Tujuan dari kurikulum versi keenam ini  adalah untuk menghasilkan output yang: 1) sehat, 2) independen; 3) kreatif; dan 4) orang yang bermoral.
                        Prinsip-prinsip untuk penyusunan versi keenam adalah: 1) desentralisasi pengambilan keputusan tentang kurikulum tersebut; 2) keragaman struktur kurikulum; 3) kecukupan isi kurikulum; 4) efisiensi dalam pengelolaan kurikulum.
                        Kurikulum    mengkoordinasikan pembelajaran teknik dalam kelas dan pemanfaatan teknologi, yang dikerjakan oleh guru, meliputi lima langkah yaitu  perencanaan pengajaran, diagnosis murid, membimbing siswa belajar dengan berbagai program, test dan menilai hasil belajar    tingkat satuan pendidikan yang terdiri dari sekolah, guru dan komite sekolah diberikan kewenangan oleh pemerintah untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan potensi yang ada di lingkungannya. Kurikulum ini disebut dengan KTSP.
                        Reformasi kurikulum pendidikan di Korea, dilaksanakan sejak tahun 1970-an dengan mengkoordinasikan pembelajaran teknik dalam kelas dan pemanfaatan teknologi, adapun yang dikerjakan oleh guru, meliputi lima langkah yaitu (1) perencanaan pengajaran, (2) Diagnosis murid (3) membimbing siswa belajar dengan berbagai program, (4) test dan menilai hasil belajar. Di sekolah tingkat menengah tidak diadakan saringan masuk, hal ini dikarenakan adanya kebijakan walikota daerah khusus atau gubernur propinsi, ke sekolah menengah di daerahnya.
Kurikulum pendidikan di Korea Selatan tidak menekankan sisi keyakinan atau keagamaan.[21]


5.      Tenaga Pendidik
                                    Terdapat dua jenis pendidikan guru, yaitu tingkat akademik (grade 13-14) untuk guru SD, dan pendidikan guru empat tahun untuk guru sekolah menengah. Dengan biaya ditanggung oleh Pemerintah untuk pendidikan guru negeri. Kemudian guru mendapat sertifikat yaitu: sertifikat guru pra sekolah, guru SD, dan guru sekolah menengah. Sertifikat ini diberikan oleh kepala sekolah dengan kategori guru magang, guru biasa dua (yang telah diselesaikan onjob training) dan lesensi bagi guru magang dikeluarkan bagi mereka yang telah lulus ujian kualifikasi lulusan program empat tahun dalam bidang engineering, perikanan, perdagangan, dan pertanian. Sedangkan untuk menjadi dosen yunior college, harus berkualifikasi master (S2) dengan pengalaman dua tahun dan untuk menjadi dosen di Senior College harus berkualifikasi doktor (S3).[22] Guru digilir bertugas di sekolah yang berbeda-beda setiap 5 tahun. Sistem ini lahir untuk memberikan setiap guru kesempatan yang adil di bekerja di sebuah sekolah yang baik atau buruk.[23]
6.      Pendidikan Islam
                       Pada tahun 1962, pemerintah Malaysia menawarkan hibah sebesar US$ 33.000 untuk sebuah masjid yang akan dibangun di Seoul. Namun, rencana itu gagal karena inflasi. Tidak sampai 1970-an, ketika hubungan ekonomi Korea Selatan dengan banyak negara Timur Tengah menonjol, menunjukkan bahwa minat terhadap Islam mulai bangkit kembali. Beberapa warga Korea yang bekerja di Arab Saudi masuk Islam, ketika mereka menyelesaikan masa tugas kerja mereka dan kembali ke Korea, mereka didukung sejumlah Muslim penduduk asli. Masjid Pusat Seoul akhirnya dibangun di Seoul lingkungan Itaewon pada tahun 1976. Saat ini ada juga masjid di BusanAnyangGwangjuJeonju dan Daegu. Menurut Lee Hee-Soo (Yi Hui-su), Presiden Korea Islam Institute, ada sekitar 40.000 Muslim yang terdaftar di Korea Selatan, dan sekitar 10.000 diperkirakan penganut yang sangat aktif.
                       Korea Muslim Federation (KMF) mengatakan akan membuka sekolah dasar Islam pertama bernama SD Pangeran Sultan Bin Abdul Aziz pada Maret 2009 dengan tujuan membantu Muslim di Korea belajar tentang agama mereka melalui kurikulum sekolah resmi. Rencana sedang dilakukan untuk membuka sebuah pusat budaya, sekolah menengah dan bahkan universitas. Abdullah Al-Aifan, Duta Besar Arab Saudi di Seoul, menyerahkan $500.000 untuk KMF atas nama pemerintah Arab Saudi.
                       Jauh sebelum dibentuknya sekolah formal berupa SD, sebuah madrasah bernama Madrasah Sultan Bin Abdul Aziz, telah berfungsi sejak tahun 1990 dan di situlah anak-anak diberi kesempatan untuk belajar bahasa Arab, budaya Islam, dan Inggris.[24]
BAB IV
RPERBANDINGAN PENDIDIKAN DI INDONESIA,
JEPANG, DAN KOREA SELATAN
A.      Hasil Wawancara
     Sebagai informasi awal, kelompok VIII melakukan proses wawancara bersama responden dengan cara memanfaatkan jejaring sosial (Facebook). Pemakalah memberikan setidaknya 12 pertanyaan (kuisioner) kepada responden. Kedua responden adalah teman dari salah satu pemakalah kelompok VIII.
1.      Hasil Wawancara Mengenai Perkuliahan di Jepang
          Responden pertama adalah seorang mahasiswa yang berkuliah di Tomakomai College of Technology. Ia bernama Wiwit Anggun Setiawan yang berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di Jepang. Warga Indonesia yang kini tinggal di Nishikioka 433 Tomakomaishi Hokkaido Japan ini, mengaku beasiswa tersebut didapatkannya dari hasil rajin belajar. Lalu kemudian ia mendaftar beasiswa dan ia pun memperolehnya. Jurusan yang diambilnya adalah teknik elektro dan beberapa mata kuliah yang diambil diantaranya adalah matematika, elektrodinamika dan electric circuit.  “Dalam perkuliahan yang saya ikuti perkuliahan berpusat pada dosen”, ujar laki-laki yang lahir di Cilacap pada tanggal 19 Agustus 1991 ini.
          Alumni SMAN 1 Purworejo tahun 2010 ini menambahkan, “Perkuliahan di Japan hampir sama dengan sistem perkuliahan di Indonesia, tapi bedanya di sini ketika kuliah siswanya dilatih keras untuk menjungjung tinggi kejujuran. Di Japan gak ada yang namanya nyontek, ngepek dll, kalo lainnya mungkin sama aja”.
          Pendidikan agama tidak termasuk dalam kurikulum. Sistem evaluasi yang dilakukan berupa UTS, dan UAS. Tetapi tidak ada soal pilihan ganda, semuanya berbentuk essai. Kemudian ketika pemakalah bertanya mengenai etos belajar siswa/mahasiswa di Jepang, ia pun menjawab dengan santai, “Mereka kebanyakan rajin-rajin, tapi yang males-malesan juga ada, hehe”. Pertanyaan pamungkas dari pemakalah adalah mengenai hal yang dapat diadopsi dari sistem pendidikan di Jepang yang sesuai jika diterapkan di Indonesia, Wiwit dengan tegas menyatakan, “Kejujurannya, kalo udah dilatih kejujuran, pastinya bakal lebih maju. Junjung tinggi kejujuran!”.
2.      Hasil Wawancara Mengenai Perkuliahan di Korea Selatan
          Responden kedua bernama Riris Nur Hamidah yang merupakan mahasiswi Universitas Indonesia yang melakukan pertukaran pelajar ke Korea Selatan. Penuturannya ketika pemakalah bertanya mengenai riwayat perjuangan hingga dapat melanjutkan studi ke Korea Selatan, Riris menyatakan bahwa tidak ada yang spesial ketika ternyata Ia dapat melanjutkan studi di Korea Selatan. Ia pun mengakui bahwa tidak pernah mendapat juara 1 dari SD sampai SMA, hanya pelajar yang biasa-biasa saja. Alumni SMAN 1 Purworejo 2010 ini menambahkan, “Tapi saya berjuang untuk dapat masuk UI, walaupun jurusan yang saya dapat di UI bukanlah jurusan yang terbilang favorit, dan bukan minat awal saya, pilihan ke-3 dari 3. Tapi karena saya sudah memilih jadi saya harus serius belajar. Tapi di jurusan saya juga saya bukan yang paling pintar atau mendapat IP paling bagus, IP saya rata-rata. Tapi saya tetap berusaha, saya pernah apply program pertukaran pelajar sebelumnya dan gagal tapi saya tidak menyerah, saya coba lagi dan lolos”.
          Riris melakukan pertukaran pelajar di Kookmin University, dan tinggal di Kookmin University Dormitory D 681-1, Jeongneung-3 dong, Seongbuk-gu, Seoul, Korea. Di Kookmin University tersebut Ia mengambil program pendidikan Korean History. Dengan sistem perkuliahan yang hampir sama dengan sistem perkuliahan di Indonesia (UI), dosen di Korea biasanya menyempatkan waktu untuk mengakrabkan diri dengan mahasiswanya dengan mengajak keluar, makan atau hanya jalan-jalan di luar jam belajar mengajar walaupun tidak sering, mungkin 1 atau 2 bulan sekali.
          Mata kuliah yang sudah dan sedang Riris ambil adalah kelas bahasa Korea dan geumgang cultural and history. Untuk kelas yang Riris ambil, proses perkuliahan berpusat pada dosen dan mahasiswa. Dosen mengajar kemudian ada waktunya (biasanya sehabis UTS) mahasiswa yang presentasi perkelompok. “Tapi lebih condong ke dosen”, tambah mahasiswi yang lahir di Kebumen 13 Mei 1992 ini. Di Korea tidak terdapat pelajaran agama dalam kurikulum. Mengenai sistem evaluasi atau ujian di Korea Selatan dilakukan dengan ujian tertulis dan presentasi. Ketika pemakalah bertanya mengenai etos belajar mahasiswa di Korea Selatan, mahasiswi alumni SDN 2 Tunggalroso  dan SMPN 1 Prembun ini menjawab, “Mereka datang kelas tepat waktu dan keluar kelas tepat waktu, selain itu sama seperti mahasiswa lainnya, tergantung masing-masing individu, ada yang rajin, banyak juga yang malas”.
          Akhir dari poin-poin pertanyaan, pemakalah bertanya mengenai hal yang dapat diadopsi dari sistem pendidikan di Korea Selatan yang sesuai jika diterapkan di Indonesia, dengan lugas mahasiswi yang berasal dari Tunggalroso, Prembun, Kebumen ini mengatakan, “Tepat waktu!”. Pesan bagi para praktisi pendidikan agar pendidikan Indonesia bisa lebih berkembang adalah, “Gunakan waktu semaksimal mungkin, minimalisir keterlambatan pada mahasiswa walaupun itu hanya 1 menit, coba lebih mengakrabkan diri dengan mahasiswa”. Dan terakhir, pesannya untuk kita semua adalah, “Untuk berhasil tidak perlu harus menjadi yang paling baik, tapi jadilah yang terbaik dan teruslah berusaha”.
B.       Rekonstruksi Pendidikan
     Secara garis besar, sistem pendidikan di Indonesia, Jepang, maupun Korea Selatan hampir sama.   Tetapi yang membedakan adalah karakter yang dimiliki oleh setiap siswa seperti kejujuran dan tepat waktu. Kedua hal tersebut patut ditanamkan di Indonesia, karena sebaik apapun kurikulum pendidikan di suatu negara, tidak akan berjalan dengan baik apabila tidak didukung oleh kesadaran pribadi pelaku pendidikan untuk menciptakan kultur yang mendukung kelancaran pendidikan itu sendiri.


DAFTAR PUSTAKA



[1] Rachman Assegaf, Internasionalisasi Pendidikan, (Yogyakarta: Gama Media, 2003), hal. 169-167.
[2] Muhammad Satria Ajk, “Gambaran Umum Jepang”, diakses pada hari Selasa, 7 Mei pukul 21.00 WIB pada situs http://remodonline.blogspot.com/2011/10/gambaran-umum-jepang.html
[3] Bintang Nusa, “Ideologi negara Jepang”, diakses pada hari Selasa, 7 Mei pukul 21.00 WIB pada situs http://bintangnusa.blogspot.com/2012/08/ideologi-negara-jepang.html
[4]Masrofi, “Sistem Pendidikan di Jepang”, diakses pada hari Selasa, 7 Mei pukul 21.00 WIB pada situs http://masrofi.blogspot.com/2012/04/sistem-pendidikan-di-jepang.html
                [5] Abd. Rachman Assegaf, Internasionalisasi Pendidikan: Sketsa Perbandingan Pendidikan di Negara-Negara Islam dan Barat, (Yogyakarta: Gama Media, 2003), hal. 175-176.
                [6] Ibrahim, “ Perbandingan Pendidikan”, diakses pada hari Selasa 07 Mei 2013 pukul 12.00 WIB pada situs http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/04/perbandingan-pendidikan-sistem.html
                [7] Wikipedia, “Pendidikan di Jepang”, diakses pada hari Rabu 08 Mei 2013 pukul 09.30 WIB pada situs http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_di_Jepang 
                [8] Abd. Rachman Assegaf, Internasionalisasi Pendidikan....., hal. 176 – 179.
                [9] William K. Chummings, Pendidikan dan Kualitas Manusia di Jepang, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1984), hal 155.
                [10] Vicke, “Kurikulum Jepang”, diakses pada hari Rabu 08 Mei 2013 pukul 14.15 WIB pada situs http://vicke.blogdetik.com/2009/10/31/kurikulum-jepang/ 
                [11] Elsa, “Pendidikan Komparatif~~Perbandingan Sistem Pendidikan Jepang Dengan Indonesia” diakses pada hari Minggu 12 Mei 2013 pukul 11.44 WIB pada situs http://study-elearning.blogspot.com/2011/12/pendidikan-komparatifperbandingan.html
                [12] Murni Ramli, “Gaji Guru di Jepang”, diakses pada tanggal 08 Mei 2013 pukul 13.44 WIB pada situs http://murniramli.wordpress.com/2007/02/15/gaji-guru-di-jepang/  
                [13] Abd. Rachman. Assegaf, Internasionalisasi Pendidikan...., hal.190-191.
                [14] DPR RI, “Laporan Kunjungan Delegasi Komisi I DPR-RI ke Negara Korea Selatan Tanggal 26 Juni-21 Juli 2009”, diakses pada hari Selasa 7 Mei pukul 21.00 WIB pada situs  http://www.dpr.go.id/complorgans/commission/commission1/visit/K1_kunjungan_Kunker_Komisi_I_DPR_RI_ke_Korea_Selatan.doc 
[15] Yuli, “Ideologi Korea Selatan”, diakses pada hari Selasa, 7 Mei pukul 21.00 WIB pada situs  http://yulikorsel.wordpress.com/2008/03/05/ideologi-korea-selatan/
                [16]Ali Muhatadi, “Studi Komparatif Sistem Pendidikan di Jerman, dan Korea Selatan”, diakses pada hari Selasa, 7 Mei pukul 21.00 WIB pada situs
[17] http://kyucicitcuit.blogspot.com/2011/11/sistem-pendidikan-di-korea-selatan.html. Diunduh pada tanggal 8 maret 2013
[18] http://infobimo.blogspot.com/2012/10/fakta-seputar-sekolah-di-korea-selatan.html. Diunduh pada tanggal 8 maret 2013
[20] http://dwyaza.weebly.com/perbandingan-kurikulum.html. Diunduh pada tanggal 8 maret 2013
[21]Dyah Titik Febriana dkk., http://sinaukimiablog.wordpress.com/2012/12/02/kurikulum-indonesia-dan-korea-selatan-dalam-mata-pelajaran-kimia/. Diunduh pada tanggal 8 maret 2013


[22] http://infobimo.blogspot.com/2012/10/fakta-seputar-sekolah-di-korea-selatan.html. Diunduh pada tanggal 8 maret 2013
[23] http://infobimo.blogspot.com/2012/10/fakta-seputar-sekolah-di-korea-selatan.html. Diunduh pada tanggal 8 maret 2013
                [24]http://id.wikipedia.org/wiki/Islam_di_Korea

3 komentar:

  1. thx ifonya sangat membantu.....?

    BalasHapus
  2. Kalau untuk masalah jenjang pendidikan dll memang setiap negara tersebut hampir sama bahkan sama persis.

    Saran saya untuk makalah ini, coba gali lagi masalah kurikulum dan cara mendidik (terutama karakter) pada setiap negara untuk yang TK-sma nya. Pasti perbedaannya akan nampak. Dari situ nanti kita akan sama sama tahu kekurangan dan kelebihan dr setiap negara. Dari situ pula kita akan belajar bagaimana mereka bisa lebih unggul dr segi mental dan pendikiakn

    Tapi overall tulisannya bagus. Nice info 😁

    BalasHapus