Powerpoint
Makalah
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah
Setiap negara tentu
memiliki sistem pendidikan. Melalui sistem pendidikan itu suatu negara dapat
memelihara dan mempertahankan nilai-nilai luhur, serta keunggulan-keunggulan
mereka dari generasi ke generasi.
Studi perbandingan sistem pendidikan
merupakan salah satu cara untuk mengetahui berbagai aspek yang berhubungan
dengan sistem pendidikan negara tertentu, terutama yang berhubungan dengan
kelebihan yang terjadi pada sistem pendidikan negara tersebut. Untuk itulah
pada kesempatan kali ini penulis menguraikan perbandingan pendidikan terhadap negara
Jepang dan Korea Selatan. dikarenakan kedua Negara ini memiliki kemajuan yang
begitu pesat dalam penguasaan sektor teknologi. Kemajuan ini tentunya tidak
terlepas dari kemajuan pendidikannya.
Makalah perbandingan pendidikan di Indonesia,
Jepang, dan Korea Selatan ini bertujuan untuk mengambil manfaat dan mencoba
merekonstruksi pendidikan agar dapat disesuakan apabila diterapkan di
Indonesia. Sebagai tambahan pengetahuan dan lebih jauhnya untuk membangun
pendidikan Indonesia yang lebih baik lagi.
B.
Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah sistem pendidikan di Jepang?
2. Bagaimanakah sistem pendidikan di Korea
Selatan?
3. Bagaimanakah perbandingan pendidikan di
Indonesia, Jepang, dan Korea Selatan?
C. Tujuan
1. Mengetahui sistem pendidikan di Jepang
2. Mengetahui sistem pendidikan di Korea Selatan
3. Mengetahui perbandingan pendidikan di
Indonesia, Jepang, dan Korea Selatan
BAB II
PENDIDIKAN DI JEPANG
A. Gambaran Umum
Negara Jepang
Negara yang beribukota di Tokyo ini secara astronomis
terletak diantara 30o LU-46oLU dan diantara 128oBT-149oBT.
Terletak diwilayah Asia Timur yang terpisah dari daratan Asia. Luas totalnya adalah 377.815 KM persegi. Kepulauan ini terdiri dari
empat pulau utama, honshu, hokkaido, kyushu, dan shikoku (berurut dari besar
sampai kecil), sejumlah gugusan pulau, dan sekitar 3.900 pulau yang lebih kecil
lagi. Jepang mengenal empat musim yaitu musim panas (natsu) Juni, Juli,
Agustus. Musim gugur (aki) September, Oktober, dan november. Musim dingin
(fuyu) Desember, Januari, dan Februari. Musim semi (haru) bulan Maret, April,
dan bulan Mei.[1]
Batas-batas
negara ini adalah sebelah utara : Berbatasan dengan Pulau Sakhalin dan
Laut Okhosk. Sebelah timur : Berbatasan dengan Samudera Pasifik. Sebelah
selatan : Berbatasan dengan Laut Cina Timur dan Samudera pasifik. Sebelah barat
: Berbatasan dengan Laut Jepang (Laut Timur) danselat Korea.
Berdasarkan data dari kementerian dalam negeri, jumlah keseluruhan
penduduk Jepang (belum termasuk warga asing) sekarang mencapai 127,076,183
jiwa. Meningkat sebanyak 10,005 jiwa dibandingkan tahun 2008. Sekitar 76%
rakyat Jepang hidup di kota-kota besar. Dari populasi kota ini, hampir 60%
memadati empat kawasan metropolitan terbesar Jepang, yang mencakup 16 prefektur
yang berpusat pada Tokyo, Osaka, Nagoya, dan Kita Kyushu.
Jepang termasuk negara industri terbesar di dunia. Oleh karena itu,
banyak orang Jepang yang bekerja sebagai karyawan. Para karyawan perusahaan
banyak menghabiskan waktu di kantor, dan seringkali banyak yang menempuh jarak
yang jauh dari rumah ke tempat kerjanya. Meskipun perindustrian sudah sangat
maju, masyarakat Jepang tidak meninggalkan mata pencaharian primer seperti
pertanian dan perikanan. Selain itu ada juga banyak bisnis kecil seperti usaha
milik keluarga, sanggar seni, restoran kecil, serta toko di lingkungan
perumahan.
Di Jepang, kebebasan agama dijamin bagi semua orang berdasarkan
Undang-Undang Dasar. Pasal 20 menyatakan bahwa “tidak satupun organisasi agama
dapat menerima hak istimewa dari negara, dan tidak satupun dapat mempunyai
wewenang politik apapun. Tidak seorangpun dapat dipaksa mengambil bagian dalam
kegiatan, perayaan, upacara, atau praktek agama. Negara dan instansinya harus
membatasi diri tidak melakukan pendidikan agama dan kegiatan agama apapun.”
Agama yang terbesar di Jepang dewasa ini ialah agama Budha, yang
pada akhir tahun 1985 mempunyai 92 juta pemeluk. Agama Kristen juga bergiat,
pada tahun 1985 di jepang terdapat 1,7 juta orang Kristen (Katolik dan
Protestan). Di antara agama-agama lain, orang muslim berjumlah sekitar 155.000,
termasuk orang bukan Jepang yang bermukim sementara di negeri ini. Agama asli
Jepang ialah Shinto, yang berakar pada kepercayaan animis orang Jepang kuno.
Shinto berkembang menjadi agama masyarakat dengan tempat pemujaan setempat
untuk dewa-dewa rumah tangga, dan pada dewa-dewa pelindung setempat. Pahlawan
dan pemimpin-pemimpin masyarakat yang terkemuka didewakan dari generasi ke
generasi, dan arwah nenek moyang juga di sembah.[2]
Hakko Ichiu (Delapan Penjuru Dunia Di Bawah Satu Atap) merupakan
ideologi yang sangat diyakini oleh bangsa Jepang. Menurut ideologi ini, Jepang
ditakdirkan untuk menguasai dunia. Ideologi Hakko Ichiu ditanamkan melalui
pendidikan di sekolah-sekolah dan pertama kali dimulai melalui proses
sosialisasi di kalangan guru. Para guru inilah yang ditugasi untuk menanamkan
dan menyebarkan ideologi ini. Proses pelatihan untuk pemahaman Hakko Ichiu ini
dilakukan di setiap kabupaten dan berlangsung sekitar 3 bulan secara bergiliran
hingga merata.[3]
B.
Sistem Pendidikan
1.
Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan di Jepang adalah mengembangkan kepribadian secara
penuh dengan berupaya keras membangun manusia yang sehat pikiran dan badan, yang
mencintai kebenaran dan keadilan, menghormati perseorangan, menghargai kerja,
mempunyai rasa tanggungjawab yang dalam dan memiliki semangat independen
sebagai pembangun negara dan masyarakat yang damai.[4]
2. Sistem Pembelajaran
Sistem administrasi pendidikan di Jepang
dibangun atas empat tingkat, yaitu: pusat, perfektual (antara Provinsi dan
Kabupaten), municipal (antara Kabupaten dan Kecamatan), dan sekolah.
Sistem administrasi tersebut menerapkan kombinasi antara sentralisasi, desentralisasi,
Manajemen Berbasis Sekolah (School Based Management), dan partisipasi
masyarakat. Di samping itu, terdapat asosiasi-asosiasi kepala sekolah, guru,
murid, dan orang tua yang mendukung pengembangan sekolah. Dalam sistem tersebut
terdapat peran dan hubungan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah,
sekolah, asosiasi-asosiasi tersebut, dan masyarakat yang saling mengisi
sehingga tercipta sinergi yang memungkinkan sistem tersebut menjadi relatif
efisien dan efektif. Hal ini merupakan faktor utama pencapaian mutu pendidikan
di Jepang yang relatif tinggi.[5]
Tahun ajaran jepang mulai pada bulan April. Ada liburan musim
panas selama beberapa minggu, dan
liburan dua minggu waktu tahun baru. Tahun ajaran berakhir pada bulan maret,
kemudian sekolah libur selama dua minggu sebelum mulai tahun ajaran baru
selanjutnya. Siswa biasanya bersekolah lima atau enam hari dalam satu minggu.
Pengajaran memakai metode konvensional ataupun teknik-teknik modern, misalnya
pengajaran dengan media komputer. Pelajaran di kelas berlangsung dari pukul 08.
30 hingga sekitar pukul 15.00 atau 15.30 pada hari kerja. Bila ada pelajaran
pada hari sabtu, maka biasanya berakhir pada tengah hari. Banyak siswa
mengikuti bimbingan belajar di juku, ikut serta dalam kegiatan olahraga
atau kegiatan ekstrakurikuler lainnya pada sore hari.
3.
Jenjang
dan Lama Pendidikan
Jenjang
pendidikan di Jepang pada dasarnya adalah Sekolah Dasar (SD) 6 (enam) tahun,
Sekolah Menengah Pertama (SMP) 3 (tiga) tahun, Sekolah Menengah Atas (SMA) 3
(tiga) tahun, Universitas 4 (empat) tahun, dan Lembaga Pendidikan Tinggi 2
(dua) tahun. Wajib belajar adalah dari SD sampai SMP. Untuk masuk
SMA dan Universitas pada dasarnya harus mengikuti ujian masuk. Selain sekolah
tersebut, ada sekolah kejuruan atau sekolah khusus yang menampung lulusan SD
atau SMP. Sekolah ini mengajarkan keterampilan khusus. Di samping beberapa
jenjang pendidikan tersebut, di Jepang juga terdapat program pendidikan
prasekolah, baik dalam bentuk Taman Kanak-Kanak (TK) maupun Play Group (PG).
Jika dilihat dari pengelola sekolah, dapat dibedakan menjadi tiga kelompok,
yaitu Sekolah Negeri adalah sekolah yang dikelola pemerintah, Sekolah provinsi
adalah sekolah yang dikelola pemerintah daerah, Sekolah Swasta adalah sekolah
yang dikelola badan hukum.[6]
Tabel Jenjang Pendidikan di Jepang:[7]
Usia
|
Kelas
|
Lembaga
pendidikan
|
|
3
|
Prasekolah
|
||
4
|
|||
5
|
|||
6
|
1
|
Sekolah
dasar (小学校 shōgakkō)
|
Wajib
Belajar
|
7
|
2
|
||
8
|
3
|
||
9
|
4
|
||
10
|
5
|
||
11
|
6
|
||
12
|
7
|
Sekolah
menengah pertama (中学校 chūgakkō)
|
|
13
|
8
|
||
14
|
9
|
||
15
|
10
|
Sekolah
menengah atas (高等学校 kōtōgakkō) disingkat kōkō
(高校)
|
Sekolah teknik/politeknik (高等専門学校 kōtō senmongakkō) disingkat kōsen (高専)
|
16
|
11
|
||
17
|
12
|
||
18
|
Universitas
(大学 daigaku) (strata 1: 4 tahun)
Akademi (短期大学 tanki daigaku) (strata
1: 2 tahun)
|
||
19
|
|||
20
|
|||
21
|
|||
Secara lebih rinci, jenjang
pendidikan di Jepang adalah sebagai berikut:[8]
a.
Pendidikan Prasekolah
Taman kanak-kanak menerima
murid berusia 3 sampai 5 tahun, untuk lama pendidikan 1 sampai 3 tahun.
Anak berusia 3 tahun diterima dan mengikuti pendidikan selama 3 tahun,
sedangkan anak usia 4 tahun berarti menempuh pendidikan pra sekolah selam 2
tahun, begitu seterusnya. Bagi pendaftar usia 5 tahun berarti menempuh
pendidikan hanya selama satu tahun. Lebih dari 50% TK di jepang di kelola oleh
swasta, sisanya oleh pemerintah kota dan hanya sebagian kecil yang merupakan TK
Negeri.
Selain TK, ada pula lembaga untuk anak-anak yang di sebut Hoiku-jo
(pusat perawatan siang hari). Meskipun termasuk lembaga kesejahteraan sosial, Hoiku-jo
juga berfungsi sebagai tempat pendidikan prasekolah. Yang masuk ke Hoiku-jo
adalah bayi hingga anak usia 5 tahun yang memerlukan perawatan siang hari
karena kedua orang tuanya bekerja atau memiliki kesibukan lainnya. Mereka yang
berusia 3 tahun ke atas biasanya mendapat pendidikan sama seperti di TK.
Kebanyakan pusat penitipan anak seperti ini di kelola oleh pemerintah Daerah.
b.
Pendidikan Wajib
Wajib sekolah berlaku bagi anak usia 6-15 tahun, tiap anak di wajibkan di SD pada usia 6 hingga 12 tahun,
lalu di SLTP hingga usia 15 tahun. Pendidikan wajib ini bersifat cuma-cuma atau
tanpa bayar bagi semua anak. Anak-anak dari keluarga yang tidak mampu mendapat
bantuan khusus dari pemerintah pusat dan daerah untuk biaya makan siang di
sekolah, piknik, kebutuhan belajar, perawatan kesehatan, dan lain-lain. Seorang
anak yang telah tamat sekolah dasar di wajibkan meneruskan pendidikannya ke
sekolah menengah pertama. Sekolah wajib ditempuh selama 9 tahun; 6 tahun di
sekolah dasar dan 3 tahun di sekolah menengah pertama, setelah itu diteruskan
ke sekolah menengah atas.
c.
Pendidikan Menengah Atas
Terdapat tiga jenis sekolah menengah atas (SMA), yaitu: full-time,
part-time (terutama malam hari), dan tertulis. Sekolah menengah yang full time
berlangsung selama 3 tahun, sedangkan kedua jenis sekolah lainnya menghasilkan
diploma yang setara. Bagian terbesar siswa mendapat pendidikan menengah atas
full-time. Jurusan di SMA dapat dikategorikan ke dalam beberapa jenis
berdasarkan pola kurikulum, yaitu jurusan umum (akademis), pertanian, teknik,
perdagangan, perikanan, home economic, perawatan dan lain-lain. Untuk
masuk ke salah satu jenis sekolah tersebut, siswa harus mengikuti ujian masuk
dan membawa surat referensi dari SMP tempat ia lulus sebelumnya.
Hampir semua SMP dan SMA serta Universitas swasta menentukan
penerimaan siswa melalui ujian masuk, dan setiap sekolah menyelenggakan ujian
masuk sendiri. Siswa yang ingin masuk sekolah yang bersangkutan harus mengikuti
ujian. Karena ujian masuk sangat sulit, siswa kerap mengikuti les tambahan
(bimbingan belajar) di juku atau yobiko pada akhir pekan atau
pada sore/malam hari biasa, selain pelajaran sekolahnya.
d.
Pendidikan Tinggi
Pendidikan tinggi di Jepang berada di bawah pengelolaan tiga
lembaga, yaitu pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan pihak swasta. Terdapat
tiga jenis lembaga pendidikan tinggi, yaitu: universitas, junior college
(akademi), dan technical college (akademi teknik). Di universitas
terdapat pendidikan sarjana (S-1) dan pascasarjana (S-2 dan S-3). Pendidikan
S-1 berlangsung selama 4 tahun, menghasilkan sarjana bergelar Bachelor’s
degree, kecuali di fakultas kedokteran dan kedokteran gigi yang berlangsung
selama 6 tahun. Pendidikan pascasarjana dibagi dalam dua kategori, yakni Master’s
degree (S-2) ditempuh selama 2 tahun sesudah tamat S-1dan Doctor’s
degree (S-3) ditempuh selama 5 tahun.
Junior college
memberikan pendidikan selama dua atau tiga tahun bagi para lulusan SMA. Kredit
yang diperlukan di junior college dapat dihitung sebagai bagian dari
kredit untuk memperoleh gelar Bachelor’s degree (S-1). Lulusan sekolah
menengah (setingkat SMP) dapat masuk ke technical college (akademi
teknik). Pendidikan di lembaga ini berlangsung selama 5 tahun (full time)
untuk mencetak tenaga teknisi.
4.
Kurikulum
Guru di jepang wajib melaksanakan
kurikulum yang sudah ditentukan oleh pemerintah pusat. Kurikulum meliputi
pendidikan moral, event-event khusus (seperti upacara, darma wisata,
pertandingan olah raga, dan memberikan bimbingan tentang kesehatan, keselamatan
dan lain-lain), serta mata pelajaran biasa.[9]
Pembuatan kurikulum pendidikan
Jepang diawasi oleh The Board of Education yang terdapat pada tingkat perfectur
dan munipal. Karena kedua lembaga
ini masih terkait erat dengan MEXT, maka pengembangan kurikulum Jepang masih
sangat kental sifat sentralistiknya.
Namun rekomendasi yang dikeluarkan oleh Central Council for Education
(chuuou shingi kyouiku kai) pada tahun 1997 memungkinkan sekolah
berperan lebih banyak dalam pengembangan kurikulum di masa mendatang.
Beberapa hal berikut harus diperhatikan ketika sekolah menyusun
kurikulumnya :
a.
Mengacu kepada standar kurikulum nasional
b.
Mengutamakan keharmonisan pertumbuhan jasmani dan rohani siswa
c.
Menyesuaikan dengan lingkungan sekitar
d.
Memperhatikan step perkembangan siswa
e.
Memperhatikan karakteristik course pendidikan/jurusan pada
level SMA.
Secara garis besar penyusunan kurikulum sekolah adalah sebagai
berikut :
a.
Menetapkan tujuan sekolah
b.
Mempelajari standar kurikulum, dan korelasinya dengan tujuan
sekolah
c.
menyusun course wajib dan pilihan untuk SMP dan SMA
d.
Mengalokasikan hari efektif sekolah dan jam belajar.[10]
5. Tenaga Pendidik
William K.C menjelaskan bahwa perekrutan guru di Jepang dipertimbangkan berdasarkan
kualitas, kompetensi, keahlian, profesionalisme dan komitmen mereka dalam
pelaksanaan pembelajaran nantinya. Pendidik di Jepang memiliki dedikasi yang
tinggi, bersikap profesional dan adil, berusaha menanamkan pendidikan
“seutuhnya”, dan tidak merasa takut kehilangan jabatanya karena ketegasanya.
Salah satu bentuk kepedulian dan kepribadian yang matang seorang pendidik terhadap
siswanya adalah, melakukan komunikasi baik dengan orangtua dengan cara
berkunjung ke rumah tiap siswa untuk bertemu dengan orangtua sekurang-kurangnya
sekali setahun. Guna mencoba memahami dan melihat kondisi-kondisi siswanya di
tempat tiggalnya.[11]
Gaji guru di Jepang yang dikutip dari
link “salary sedunia” http://www.educationworld.net/salaries_jp.html
Grade
|
Teachers
Yen (a month) |
Head-Teachers
Yen (a month) |
Principal
Yen(a month) |
2
|
156,500
|
292,500
|
422,400
|
4
|
184,200
|
320,900
|
439,800
|
6
|
202,500
|
348,600
|
456,200
|
8
|
217,900
|
369,500
|
471,500
|
10
|
237,600
|
389,000
|
485,600
|
12
|
262,000
|
406,100
|
500,100
|
14
|
288,200
|
422,200
|
512,100
|
16
|
315,700
|
437,300
|
|
18
|
342,700
|
451,000
|
|
20
|
362,900
|
463,800
|
|
22
|
381,400
|
474,100
|
|
24
|
397,600
|
482,200
|
|
26
|
411,200
|
488,400
|
|
28
|
422,400
|
||
30
|
432,300
|
||
32
|
441,300
|
||
34
|
449,700
|
||
36
|
455,900
|
Data tersebut adalah gaji guru SD dan SMP, sedangkan
gaji guru SMA sedikit lebih tinggi. Grade menggambarkan periode kerja.
Seorang guru muda akan memperoleh 156,500 yen per bulan, dengan kurs hari ini
(setara dengan 156,500xRp75.295=Rp 11,783,667).
Rata-rata guru di Jepang mulai bekerja pada usia 22-23
tahun, setamat Universitas. Hasil survey MEXT (Kementerian Pendidikan Jepang)
menunjukkan bahwa rata-rata guru di Jepang berumur 42 tahun, dengan kata lain
mereka telah bekerja selama 20 tahun. Selama 20 tahun bekerja seorang guru
sekolah publik akan memperoleh gaji sebesar 362,900 yen atau setara dengan Rp
27,324,555 per bulan.
Selain medapatkan gaji bulanan, para guru juga
memperoleh extra salary (adjusment allowance) sebesar 4% gaji
bulanan, dan juga akan mendapatkan bonus 2 kali dalam setahun yaitu bulan Juni
dan Desember sebesar 4.65% gaji bulanan. Sehingga guru yang bekerja selama 20
tahun akan menerima total penghasilan per bulan sebesar 362,900 plus
(362,900×4%) = 377,416 yen. Dan akan menerima gaji per tahun sebesar 362,900×12
plus (362,900×4%x12) plus (363,900×4.65%x2)= 4,562,741.7 yen. Kalau dibuat ke
rupiah, ya silahkan hitung sendiri.
Gaji guru di sekolah negeri dibayar oleh pemerintahan
di tingkat prefektur (provinsi)
sebesar 50% dan pemerintah pusat 50%. Prosentasi ini bisa berubah jika kondisi
prefektur tidak begitu kaya.
Selain gaji, bonus dan extra gaji seperti di atas,
terdapat pula beberapa tambahan gaji yang tidak berlaku nasional, misalnya : regional
allowance, supporting family allowance, commuting allowance, head teacher
allowance and head teacher instructor allowance, club activities instructor
allowance.[12]
6.
Pendidikan Islam
Tahun
1994, jumlah mahasiswa Indonesia yang belajar di Jepang, baik dengan status
beasiswa pemerintah Jepang, beasiswa pemerintah Indonesia, maupun biaya
sendiri, untuk jenjang S-1, S-2, S-3, dan lain-lain, mencapai 1.178 orang.
Dibandingkan dengan negara lain dalam periode yang sama, mekipun angka ini
tergolong kecil, yang ditekankan dalam
konteks ini adalah bahwa pelajar dan mahasiswa Indonesia yang kebanyakan
beragama Islam terus berdatangan ke Jepang, lalu membentuk komunitas muslim
tersendiri bersama dengan rekan-rekan seagamanya dari belahan dunia yang lain.
Studi keislaman di Jepang juga menunjukkan peningkatan. Di Universitas Tokyo
telah didirikan Islamic Area Studies Project di bawah pimpinan Sato
Tsugitaka. Masjid dan Islamic Center menjadi tempat rujukan kaum muslim yang
tinggal di Jepang untuk saling bertemu.[13]
BAB III
PENDIDIKAN DI KOREA SELATAN
A. Gambaran Umum
Negara Korea Selatan
Korea Selatan merupakan negara Republik yang
dikepalai oleh seorang Presiden. Presiden Korea Selatan saat ini adalah Lee
Myung-bak dan Kepala
Pemerintahannya PM Han Seung – Soo, dengan ibukota Seoul. Negara Korea Selatan terdiri dari 9 propinsi (Kyonggi-do,
Kangwon-do, Chungchongbuk-do, Chungchongnam-do, Kyongsangbuk-do, Chollabuk-do,
Kyongsangnam-do, Chollanam-do, Cheju-do), dan 6 Kota Metropolitan setingkat Propinsi (Incheon, Seoul, Taejon, Pusan, Ulsan, Taegu), dengan luas wilayah kira-kira 99,480 km2.
(45% dari luas Semenanjung Korea).
Sebagian
besar penduduk Korea Selatan yang berjumlah + 49,232,844 dari tingkat pertumbuhan penduduk 0.371% hanya
4% Tingkat
Pengangguran dari 24.22 juta Jumlah Angkatan Kerja/Tahun. Dapat disampaikan bahwa parlemen Korea Selatan adalah Dewan Nasional
(National Assembly atau Kukhoe)
mempunyai 299 kursi – anggota dipilih tiap 4 tahun sekali. Terdiri dari 243
kursi elektorat, 56 kursi representasi proporsional.
Keadaan
perekonomian Korea Selatan sangat maju dengan GDP: $969.9 triliun dan tingkat pertumbuhan ekonomi sebesar $20,045
dengan tingkat Inflasi 2.5% dengan andalan Komoditas Utama Ekspornya antara lain
Semikonduktor, peralatan komunikasi nirkabel, kendaraan bermotor, komputer,
besi, kapal, petrokimia, kapal laut,
tekstil, pakaian jadi, dan hasil laut dengan tingkat income perkapitanya yang mencapai
$20,045 dan daya beli sebesar $19,751.[14]
Ideologi yang dipakai di Korea Selatan adalah Demokrasi dengan ciri-ciri
sebagai berikut :
1.
Demokrasi merupakan bentuk pemerintahan yang lebih baik.
2.
Anggota masyarakat memiliki kebebasan intelektual penuh, termasuk
kebebasan berbicara, kebebasan beragama dan kebebasan pers.
3.
Pemerintah hanya mengatur kehidupan masyarakat secara terbatas.
Keputusan yang dibuat hanya sedikit untuk rakyat sehingga rakyat dapat belajar
membuat keputusan untuk diri sendiri.
4.
Kekuasaan dari seseorang terhadap orang lain merupakan hal yang
buruk. Oleh karena itu, pemerintahan dijalankan sedemikian rupa sehingga
penyalahgunaan kekuasaan dapat dicegah. Pendek kata, kekuasaan dicurigai
sebagai hal yang cenderung disalahgunakan, dan karena itu, sejauh mungkin
dibatasi.
5.
Suatu masyarakat dikatakan berbahagia apabila setiap individu atau
sebagian besar individu berbahagia. Walau masyarakat secara keseluruhan
berbahagia, kebahagian sebagian besar individu belum tentu maksimal. Dengan
demikian, kebaikan suatu masyarakat atau rezim diukur dari seberapa tinggi
indivivu berhasil mengembangkan kemampuan-kemampuan dan bakat-bakatnya.[15]
B.
Sistem Pendidikan
1.
Tujuan Pendidikan
Salah satu keputusan Dewan Nasional Republik Korea tahun 1948
adalah menyusun undang-undang pendidikan. Sehubungan dengan hal ini, maka
tujuan pendidikan Korea Selatan adalah untuk menanamkan pada setiap orang rasa
Identitas Nasional dan penghargaan terhadap kedaulatan Nasional (menyempurnakan
kepribadian setiap warga Negara, mengemban cita-cita persaudaraan yang
universal mengembangkan kemampuan untuk hidup mandiri dan berbuat untuk Negara yang
demokratis dan kemakmuran seluruh umat manusia) dan menanamkan sifat
patriotisme.[16]
2.
Sistem Pembelajaran
Di SMP masing-masing kelas mempunyai seorang wali
kelas yang akan memperhatikan kehidupan dan mengarahkan siswanya, dan untuk
masing-masing pelajaran mempunyai guru yang berbeda-beda. Mata pelajaran mereka
terdiri dari Bahasa Korea, Sosial Moral, Matematika, Bahasa Inggris, Ilmu
Science, Olahraga, Kesenian dan Keterampilan. Jam belajar dimulai dari jam 9
sampai jam 3 sore.[17]
Para siswa sekolah menengah atas di Korea Selatan
rata-rata memiliki durasi jam pelajaran dimulai dari jam 09.30 atau 10.00,
sampai larut malam. Pemerintah mengatakan, tujuannya adalah agar siswa mampu
masuk ke perguruan tinggi yang baik, setelah melewati kompetisi yang tinggi.
Akibatnya, banyak siswa juga akan menghadiri program pembelajaran lain di luar
jam sekolah. Setelah program sekolah memperkuat pendidikan dan pembelajaran
bahasa Inggris, sehingga ada permintaan yang tinggi bagi mereka, dan bagi
siswa, ini mungkin, satu sarana sosial mereka dan cara untuk bertemu
teman-teman lain. Ini berarti rata-rata remaja Korea tidak pulang ke rumah
sampai tengah malam, dan makan siang hingga makan malam-pun sampai disajikan di
sekolah. Metode pembelajaran dengan waktu "gila-gilaan" seperti ini
sebenarnya sudah mulai menuai kritik dari para pengamat pendidikan di Korea
sendiri.[18]
3.
Lama dan Jenjang Pendidikan
Sekolah menengah atas di Korea
biasanya dibagi menjadi dua jenis, sekolah umum dan kejuruan. Ada juga beberapa sekolah yang disebut sekolah
komprehensif, yaitu sekolah umum dan kejuruan digabung. Sekolah-sekolah khusus
pun ada, misalnya sekolah menengah khusus seni, olahraga, ilmu pengetahuan,
dll.[19]
Secara
umum sistem pendidikan di
korea Selatan terdiri dari empat jenjang pendidikan formal yaitu : Sekolah
dasar, Sekolah Menengah Tingkat Pertama, SLTA dan pendidikan tinggi. Keempat
jenjang pendidikan ini adalah: grade 1-6 (SD), grade 7-9 (SLTP),
10-12 (SLTA), dan grade 13-16 (pendidikan tinggi/program S1), serta
program pasca sarjana (S2/S3).
Visualisasi grade pendidikan
yang dimaksud adalah:
a.
Sekolah
dasar merupakan pendidikan wajib selama 6 tahun bagi anak usia 6 dan 11 tahun,
dengan jumlah lulusan SD mencapai 99,8%, dan putus sekolah SD 0,2%.
b.
SMP
merupakan kelanjutan SD bagi anak usia 12-14 tahun, selama 3 tahun pendidikan.
c.
Kemudian
melanjutkan ke SLTA pada grade 10-11 dan 12, dengan dua pilihan yaitu:
umum dan sekolah kejuruan. Sekolah kejuruan meliputi pertanian, perdagangan,
perikanan dan teknik. Selain itu ada sekolah komperhensif yang merupakan
gabungan antara sekolah umum dan sekolah kejuruan, yang merupakan bekal untuk
melanjutkan ke akademik (Junior
College) atau universitas (Senior College).
d.
Pendidikan
tinggi/akademik (Junior
College) atau
universitas program S1 (senior college), pada grade 13-16, dan selanjutnya ke
program pasca sarjana (graduate school) gelar master/doktor.[20]
4. Kurikulum
Sampai
saat ini, kurikulum di Korea Selatan sudah mengalami revisi sebanyak lima kali
sampai versi keenam. Tujuan dari kurikulum
versi keenam ini adalah untuk menghasilkan output yang: 1) sehat, 2) independen; 3) kreatif; dan 4) orang yang bermoral.
Prinsip-prinsip
untuk penyusunan versi keenam adalah: 1) desentralisasi pengambilan keputusan
tentang kurikulum tersebut; 2) keragaman struktur kurikulum; 3) kecukupan isi
kurikulum; 4) efisiensi dalam pengelolaan kurikulum.
Kurikulum mengkoordinasikan
pembelajaran teknik dalam kelas dan pemanfaatan teknologi, yang dikerjakan oleh
guru, meliputi lima langkah yaitu perencanaan pengajaran, diagnosis
murid, membimbing siswa belajar dengan berbagai program, test dan menilai hasil
belajar tingkat satuan pendidikan yang terdiri dari sekolah,
guru dan komite sekolah diberikan kewenangan oleh pemerintah untuk
mengembangkan kurikulum sesuai dengan potensi yang ada di lingkungannya.
Kurikulum ini disebut dengan KTSP.
Reformasi
kurikulum pendidikan di Korea, dilaksanakan sejak tahun 1970-an dengan
mengkoordinasikan pembelajaran teknik dalam kelas dan pemanfaatan teknologi,
adapun yang dikerjakan oleh guru, meliputi lima langkah yaitu (1) perencanaan
pengajaran, (2) Diagnosis murid (3) membimbing siswa belajar dengan berbagai
program, (4) test dan menilai hasil belajar. Di sekolah tingkat menengah tidak
diadakan saringan masuk, hal ini dikarenakan adanya kebijakan walikota daerah
khusus atau gubernur propinsi, ke sekolah menengah di daerahnya.
Kurikulum pendidikan di Korea Selatan tidak menekankan sisi keyakinan atau keagamaan.[21]
Kurikulum pendidikan di Korea Selatan tidak menekankan sisi keyakinan atau keagamaan.[21]
5. Tenaga Pendidik
Terdapat
dua jenis pendidikan guru, yaitu tingkat akademik (grade 13-14) untuk
guru SD, dan pendidikan guru empat tahun untuk guru sekolah menengah. Dengan
biaya ditanggung oleh Pemerintah untuk pendidikan guru negeri. Kemudian guru
mendapat sertifikat yaitu: sertifikat guru pra sekolah, guru SD, dan guru
sekolah menengah. Sertifikat ini diberikan oleh kepala sekolah dengan kategori
guru magang, guru biasa dua (yang telah diselesaikan onjob training) dan
lesensi bagi guru magang dikeluarkan bagi mereka yang telah lulus ujian
kualifikasi lulusan program empat tahun dalam bidang engineering, perikanan,
perdagangan, dan pertanian. Sedangkan untuk menjadi dosen yunior college, harus
berkualifikasi master (S2) dengan pengalaman dua tahun dan untuk menjadi dosen
di Senior College harus berkualifikasi doktor (S3).[22] Guru digilir bertugas di sekolah yang berbeda-beda setiap 5 tahun. Sistem
ini lahir untuk memberikan setiap guru kesempatan yang adil di bekerja di sebuah
sekolah yang baik atau buruk.[23]
6. Pendidikan
Islam
Pada tahun 1962,
pemerintah Malaysia menawarkan hibah
sebesar US$ 33.000 untuk sebuah masjid yang akan dibangun di Seoul. Namun,
rencana itu gagal karena inflasi. Tidak sampai 1970-an,
ketika hubungan ekonomi Korea Selatan dengan banyak negara Timur Tengah
menonjol, menunjukkan bahwa minat terhadap Islam mulai bangkit kembali.
Beberapa warga Korea yang bekerja di Arab
Saudi masuk Islam, ketika mereka menyelesaikan masa
tugas kerja mereka dan kembali ke Korea, mereka didukung sejumlah Muslim
penduduk asli. Masjid Pusat Seoul akhirnya dibangun di
Seoul lingkungan Itaewon pada tahun 1976. Saat
ini ada juga masjid di Busan, Anyang, Gwangju, Jeonju dan Daegu. Menurut Lee Hee-Soo (Yi
Hui-su), Presiden Korea Islam Institute, ada sekitar
40.000 Muslim yang terdaftar di Korea Selatan, dan sekitar 10.000 diperkirakan
penganut yang sangat aktif.
Korea Muslim Federation
(KMF) mengatakan akan membuka sekolah dasar Islam pertama bernama
SD Pangeran Sultan Bin Abdul Aziz pada Maret 2009 dengan tujuan membantu Muslim di Korea belajar tentang agama mereka melalui
kurikulum sekolah resmi. Rencana sedang dilakukan untuk membuka sebuah pusat
budaya, sekolah menengah dan bahkan universitas. Abdullah Al-Aifan, Duta Besar Arab Saudi di Seoul, menyerahkan $500.000
untuk KMF atas nama pemerintah Arab Saudi.
Jauh sebelum
dibentuknya sekolah formal berupa SD, sebuah madrasah bernama Madrasah Sultan
Bin Abdul Aziz, telah berfungsi sejak tahun 1990 dan di situlah anak-anak
diberi kesempatan untuk belajar bahasa Arab, budaya Islam, dan Inggris.[24]
BAB IV
RPERBANDINGAN PENDIDIKAN DI INDONESIA,
JEPANG, DAN KOREA SELATAN
JEPANG, DAN KOREA SELATAN
A. Hasil Wawancara
Sebagai informasi awal, kelompok
VIII melakukan proses wawancara bersama responden dengan cara memanfaatkan
jejaring sosial (Facebook). Pemakalah memberikan setidaknya 12
pertanyaan (kuisioner) kepada responden. Kedua responden adalah teman dari
salah satu pemakalah kelompok VIII.
1.
Hasil Wawancara Mengenai Perkuliahan di Jepang
Hasil Wawancara Mengenai Perkuliahan di Jepang
Responden pertama adalah
seorang mahasiswa yang berkuliah di Tomakomai College of Technology. Ia bernama Wiwit
Anggun Setiawan yang berhasil mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi di
Jepang. Warga Indonesia yang kini tinggal di Nishikioka 433 Tomakomaishi
Hokkaido Japan ini, mengaku beasiswa tersebut didapatkannya dari hasil
rajin belajar. Lalu kemudian ia mendaftar beasiswa dan ia pun memperolehnya.
Jurusan yang diambilnya adalah teknik elektro dan beberapa mata kuliah yang
diambil diantaranya adalah matematika, elektrodinamika dan electric circuit.
“Dalam perkuliahan yang saya ikuti
perkuliahan berpusat pada dosen”, ujar laki-laki yang lahir di Cilacap pada
tanggal 19 Agustus 1991 ini.
Alumni
SMAN 1 Purworejo tahun 2010 ini menambahkan, “Perkuliahan di Japan hampir sama
dengan sistem perkuliahan di Indonesia, tapi bedanya di sini ketika kuliah
siswanya dilatih keras untuk menjungjung tinggi kejujuran. Di Japan gak
ada yang namanya nyontek, ngepek dll, kalo lainnya mungkin
sama aja”.
Pendidikan
agama tidak termasuk dalam kurikulum. Sistem evaluasi yang dilakukan berupa
UTS, dan UAS. Tetapi tidak ada soal pilihan ganda, semuanya berbentuk essai.
Kemudian ketika pemakalah bertanya mengenai etos belajar siswa/mahasiswa di
Jepang, ia pun menjawab dengan santai, “Mereka kebanyakan rajin-rajin, tapi
yang males-malesan juga ada, hehe”. Pertanyaan pamungkas dari pemakalah adalah
mengenai hal yang dapat diadopsi dari sistem pendidikan di Jepang yang sesuai
jika diterapkan di Indonesia, Wiwit dengan tegas menyatakan, “Kejujurannya, kalo
udah dilatih kejujuran, pastinya bakal lebih maju. Junjung tinggi
kejujuran!”.
2. Hasil Wawancara Mengenai Perkuliahan di Korea
Selatan
Responden
kedua bernama Riris Nur Hamidah yang merupakan mahasiswi Universitas Indonesia yang melakukan pertukaran
pelajar ke Korea Selatan. Penuturannya ketika pemakalah bertanya mengenai riwayat perjuangan
hingga dapat melanjutkan studi ke Korea Selatan, Riris menyatakan bahwa tidak
ada yang spesial ketika ternyata Ia dapat melanjutkan studi di Korea Selatan.
Ia pun mengakui bahwa tidak pernah mendapat juara 1 dari SD sampai SMA, hanya
pelajar yang biasa-biasa saja. Alumni SMAN 1 Purworejo 2010 ini menambahkan,
“Tapi saya berjuang untuk dapat masuk UI, walaupun jurusan yang saya dapat di
UI bukanlah jurusan yang terbilang favorit, dan bukan minat awal saya, pilihan
ke-3 dari 3. Tapi karena saya sudah memilih jadi saya harus serius belajar. Tapi di jurusan saya juga saya bukan yang paling
pintar atau mendapat IP paling bagus, IP saya rata-rata. Tapi saya tetap berusaha,
saya pernah apply program pertukaran pelajar sebelumnya dan gagal tapi
saya tidak menyerah, saya coba lagi dan lolos”.
Riris melakukan pertukaran pelajar di Kookmin University, dan tinggal di Kookmin University Dormitory D 681-1,
Jeongneung-3 dong, Seongbuk-gu, Seoul, Korea. Di Kookmin University tersebut Ia mengambil
program pendidikan Korean History. Dengan sistem perkuliahan yang
hampir sama dengan sistem perkuliahan di Indonesia (UI), dosen di Korea
biasanya menyempatkan waktu untuk mengakrabkan diri dengan mahasiswanya dengan
mengajak keluar, makan atau hanya jalan-jalan di luar jam belajar mengajar
walaupun tidak sering, mungkin 1 atau 2 bulan sekali.
Mata kuliah yang sudah dan sedang
Riris ambil adalah kelas bahasa Korea dan geumgang cultural and history. Untuk kelas yang
Riris ambil, proses perkuliahan berpusat pada dosen dan mahasiswa. Dosen mengajar kemudian ada waktunya (biasanya sehabis UTS) mahasiswa yang presentasi perkelompok. “Tapi lebih condong ke dosen”, tambah mahasiswi
yang lahir di Kebumen 13 Mei 1992 ini. Di Korea tidak terdapat pelajaran agama dalam
kurikulum. Mengenai sistem evaluasi atau ujian di Korea Selatan dilakukan
dengan ujian tertulis dan presentasi. Ketika pemakalah bertanya
mengenai etos belajar mahasiswa di Korea Selatan, mahasiswi alumni SDN 2
Tunggalroso dan SMPN 1 Prembun ini
menjawab, “Mereka datang kelas tepat waktu dan keluar kelas tepat waktu, selain
itu sama seperti mahasiswa lainnya, tergantung masing-masing individu, ada yang
rajin, banyak juga yang malas”.
Akhir dari poin-poin pertanyaan,
pemakalah bertanya mengenai hal yang dapat diadopsi dari sistem pendidikan di
Korea Selatan yang sesuai jika diterapkan di Indonesia, dengan lugas mahasiswi
yang berasal dari Tunggalroso, Prembun, Kebumen ini mengatakan, “Tepat waktu!”.
Pesan bagi para praktisi pendidikan agar pendidikan Indonesia bisa lebih
berkembang adalah, “Gunakan waktu semaksimal mungkin, minimalisir keterlambatan
pada mahasiswa walaupun itu hanya 1 menit, coba lebih mengakrabkan diri dengan
mahasiswa”. Dan terakhir, pesannya untuk kita semua adalah, “Untuk berhasil tidak perlu harus menjadi
yang paling baik, tapi jadilah yang terbaik dan teruslah berusaha”.
B.
Rekonstruksi
Pendidikan
Secara
garis besar, sistem pendidikan di Indonesia, Jepang, maupun Korea Selatan
hampir sama. Tetapi yang membedakan
adalah karakter yang dimiliki oleh setiap siswa seperti kejujuran dan tepat
waktu. Kedua hal tersebut patut ditanamkan di Indonesia, karena sebaik apapun
kurikulum pendidikan di suatu negara, tidak akan berjalan dengan baik apabila
tidak didukung oleh kesadaran pribadi pelaku pendidikan untuk menciptakan
kultur yang mendukung kelancaran pendidikan itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
[1]
Rachman Assegaf, Internasionalisasi
Pendidikan, (Yogyakarta: Gama Media, 2003), hal. 169-167.
[2] Muhammad Satria Ajk, “Gambaran Umum Jepang”, diakses pada
hari Selasa, 7 Mei pukul 21.00 WIB pada situs http://remodonline.blogspot.com/2011/10/gambaran-umum-jepang.html
[3] Bintang Nusa, “Ideologi negara Jepang”, diakses pada
hari Selasa, 7 Mei pukul 21.00 WIB pada situs http://bintangnusa.blogspot.com/2012/08/ideologi-negara-jepang.html
[4]Masrofi, “Sistem Pendidikan di Jepang”, diakses pada
hari Selasa, 7 Mei pukul 21.00 WIB pada situs http://masrofi.blogspot.com/2012/04/sistem-pendidikan-di-jepang.html
[6]
Ibrahim, “ Perbandingan Pendidikan”, diakses pada
hari Selasa 07 Mei 2013 pukul 12.00 WIB pada situs http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/04/perbandingan-pendidikan-sistem.html
[7] Wikipedia,
“Pendidikan di Jepang”, diakses pada hari Rabu 08 Mei 2013 pukul 09.30 WIB pada
situs http://id.wikipedia.org/wiki/Pendidikan_di_Jepang
[10]
Vicke, “Kurikulum Jepang”, diakses pada hari Rabu 08 Mei 2013 pukul 14.15 WIB
pada situs http://vicke.blogdetik.com/2009/10/31/kurikulum-jepang/
[11] Elsa, “Pendidikan Komparatif~~Perbandingan
Sistem Pendidikan Jepang Dengan Indonesia” diakses pada hari Minggu 12 Mei 2013 pukul 11.44 WIB
pada situs http://study-elearning.blogspot.com/2011/12/pendidikan-komparatifperbandingan.html
[12] Murni Ramli, “Gaji Guru di Jepang”, diakses pada tanggal 08 Mei
2013 pukul 13.44 WIB pada situs http://murniramli.wordpress.com/2007/02/15/gaji-guru-di-jepang/
[14] DPR RI, “Laporan Kunjungan Delegasi Komisi I DPR-RI ke
Negara Korea Selatan Tanggal 26 Juni-21 Juli 2009”, diakses pada hari Selasa 7
Mei pukul 21.00 WIB pada situs http://www.dpr.go.id/complorgans/commission/commission1/visit/K1_kunjungan_Kunker_Komisi_I_DPR_RI_ke_Korea_Selatan.doc
[15] Yuli, “Ideologi Korea Selatan”, diakses pada hari Selasa, 7 Mei
pukul 21.00 WIB pada situs
http://yulikorsel.wordpress.com/2008/03/05/ideologi-korea-selatan/
[17]
http://kyucicitcuit.blogspot.com/2011/11/sistem-pendidikan-di-korea-selatan.html. Diunduh pada tanggal 8 maret 2013
[18] http://infobimo.blogspot.com/2012/10/fakta-seputar-sekolah-di-korea-selatan.html. Diunduh pada tanggal 8 maret 2013
[19]http://lukitaelva1.blogspot.com/2013/02/sistem-pendidikan-korea-selatan_6176.html . Diunduh pada
tanggal 8 maret 2013
[20] http://dwyaza.weebly.com/perbandingan-kurikulum.html. Diunduh pada
tanggal 8 maret 2013
[21]Dyah Titik Febriana dkk., http://sinaukimiablog.wordpress.com/2012/12/02/kurikulum-indonesia-dan-korea-selatan-dalam-mata-pelajaran-kimia/.
Diunduh pada tanggal 8 maret 2013
[22] http://infobimo.blogspot.com/2012/10/fakta-seputar-sekolah-di-korea-selatan.html.
Diunduh pada tanggal 8 maret 2013
[23] http://infobimo.blogspot.com/2012/10/fakta-seputar-sekolah-di-korea-selatan.html.
Diunduh pada tanggal 8 maret 2013

thx ifonya sangat membantu.....?
BalasHapusMakasih ya sob udah share ..............
BalasHapusbisnistiket.co.id
Kalau untuk masalah jenjang pendidikan dll memang setiap negara tersebut hampir sama bahkan sama persis.
BalasHapusSaran saya untuk makalah ini, coba gali lagi masalah kurikulum dan cara mendidik (terutama karakter) pada setiap negara untuk yang TK-sma nya. Pasti perbedaannya akan nampak. Dari situ nanti kita akan sama sama tahu kekurangan dan kelebihan dr setiap negara. Dari situ pula kita akan belajar bagaimana mereka bisa lebih unggul dr segi mental dan pendikiakn
Tapi overall tulisannya bagus. Nice info 😁