tita

Jumat, 05 Agustus 2016

Belajar Mikir

Kadang kalau lagi nggak sholeh, pernah mikir kayak gini nggak? Ngapain ya Allah nyiptain hewan yang kayakanya nggak berguna? Di tempat terpencil sekalipun Allah tetap nyiptain laba-laba atau hewan apapun itu bahkan nggak ada satu manusia yang tahu bahkan peduli. Padahal kalau Allah nggak mengizinkan ilmuwan buat neliti amoeba, mungkin sampe sekarang, nggak ada tuh dalam pikiran kita kenal makhluk bersel satu yang bisa membelah diri yang namanya amoeba itu.
Pas kita lagi sholeh: Allah menciptakan segala sesuatu pasti ada gunanya, bukan sekadar untuk pengakuan –emangnya kita?

Related to: “Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, Maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?." dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik” (Al-Baqarah: 26).
“dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)" (Al-An’am: 59).

Sedih deh, kadang kita masih “jail” dengan ketentuan Allah. Semoga kita menjadi orang yang selalu diberi-Nya pentunjuk. Yaudah, pilihan kita cuma tinggal satu, MOVE ON dari kejahiliyahan menuju hari esok yang lebih terang yeaay! 

Mudiknya Lebaran Ini (1437 H)

Tidak banyak yang berubah...
Saya yang InsyaAllah berubah, menjadi go go power ranger.. eh astagfirulloh. Tidak, bukan itu maksudnya.

Ulangi ya? Tidak banyak yang berubah di kampung ini, seperti masih sekitar tahun 90-an. Yang lumayan berbeda adalah ke ladang atau sawah kendarannya sudah pakai bensin, dulu biasanya bapak atau ibu-ibu berduyun jalan kaki dengan atribut capingnya, bercerita anak maupun tanamannya. Anak mudanya sekarang sudah banyak yang hilir mudik berboncengan tiga, bolak-balik entah dengan tujuan apa? Kerudungnya banyak yang tertinggal di lemari, bercekikik ala sinetron ‘anak perjalanan’.
Yang muda yang mendunia, yang muda yang berkarya. Untuk saat ini saya memilih mendunia dan berkarya di luar kampung saya. Merantau seperti Iko Uwais, Uwais Al-Qorni, Rhoma Irama, atau mungkin besok selayaknya Will Smith yang memilih meninggalkan hingarnya Hollywood dan menjadi orang Sho’id yang sederhana.

Variant of Belajar

Belajar itu melelahkan. Buktinya setelah belajar, saya perlu makan, minum dan seringnya mengantuk hehe.. belajar itu kadang membosankan, apalagi bagi saya versi kecil. Semakin besar, belajar itu semakin berat, tapi untuk versi saya yang seperempat abad sekarang, belajar itu dibutuhkan.
Ada masanya, belajar itu adalah tuntutan dari orang tua, beralih pada orientasi pengumpulan nilai, dan ada masanya belajar itu keharusan demi kelangsungan hidup.  

Teringat pada masa awal saya belajar mengucapkan huruf “R”, mamah secara telaten mengulangi terus kata-kata yang banyak huruf “R”-nya, lalu saya menirukan. Madrasah terbaik buat saya.
Tak selayaknya anak zaman sekarang, yang dari usia 0 tahun pun sudah sekolah, saya baru bisa mencicipi bangku sekolah (bukan berarti njilat-njilat kursi loh) ketika usia saya 6,5 tahun, kelas 1 SD. Karena rumah saya jauh dari peradaban (sengaja dibuat dramatis) TK pada masa itu belum lazim. Baru ketika saya kelas 3 SD, berdirilah TK Al-Qur’an yang tidak jauh dari SD.
Setiap hari jalan kaki bersama teman-teman, jarak dari rumah ke sekolah kira-kira 2 km. Waktu itu, hampir tidak ada anak yang diantar jemput dengan kendaraan. Dan saya lebih suka jalan bersama teman laki-laki karena mereka cepat ketika berjalan, beda sama teteh-teteh sepanjang jalan ngobrolnya terlalu banyak. Kadang saya lebih suka menculat sendiri, biar cepat sampai rumah.
Pulang sekolah sekitar dzuhur, ganti baju lalu makan, shalat dzuhur dan berangkat kembali ke madrasah (TPQ/ Taman Pendidikan Al-Qur’an). Jarang saya berangkat bersama teman-teman, karena kebanyakan dari teman seusia saya mengajinya setelah magrib di masjid (kadang malah nggak ngaji sama sekali). Saya ikut dengan anak-anak yang usianya di bawah saya, mengaji Qiro’ati dan Alhamdulillah kelas 5 sudah mendapat syahadah.
Banyak komentar dari saudara atau tetangga, yang bilang “kasihan”, “capek” baru pulang sekolah kok langsung ngaji? Mainnya kapan? Mungkin, bagi kebanyakan orang tua pada saat itu melihat saya mondar-mandir berangkat sekolah-pulang-berangkat ngaji-pulang, berpikir “kok tega?” orang tua saya sering dicap terlalu streng. Alhamdulillah mau hujan, tak ada teman, mamah atau bapak secara bergiliran mengantar atau menjemput saya ke madrasah. Saya di madrasah juga main kok, saya juga tidak kehilangan masa-masa bahagia ketika itu. Di madrasah,  belajar membaca Al-Qur’an dengan metode Qiro’ati, hafalan juz ‘Amma, ngaji lagam, khot, sedikit bahasa Arab, Shiroh, belajar kitab kuning, dan bersosial bersama teman. Saya juga kadang main karet, main petasan pletokan -mentol istilahnya- yang bunyi ketika dipukul batu, kadang saya main ke sawah dekat madrasah, main air, cari ikan kecil –berenyit. Kayaknya full day school juga deh saya tuh sebenernya hehe, jam setengah 7 sekolah SD negeri lanjut belajar agama di madrasah, pulang ke rumah jam 4. Saya belajar umum, belajar agama, main, dan saya bahagia.

Kamis, 19 Mei 2016

CATATAN RINGKAS

Apabila ditanya anak/cucu tentang Al-Quran: (tanya jawab) 
S : Berapa jumlah Surah dlm al-Quran?
J : 114 Surah 
S : Berapa jumlah Juz dlm al-Quran? 
J : 30 Juz 
S : Berapa jumlah Hizb dlm al-Quran? 
J : 60 Hizb 
S : Berapa jumlah Ayat dlm al-Quran? 

J : 6236 Ayat 
S : Berapa jumlah Kata dlm al-Quran?, dan Berapa Jumlah Hurufnya? 
J : 77437 Kata, atau 77439 Kata dan 320670 Huruf 
S : Siapa Malaikat yang disebut dlm al-Quran?, 
J : Jibril, Mikail, Malik, Malakulmaut, Harut, Marut, Al-Hafazhah, Hamalatul-Arsy, dll. 
S : Berapa Jumlah Sajdah (ayat Sujud) dlm al-Quran? 
J : 14 Sajdah 
S : Berapa Jumlah para Nabi yg disebut dlm Al-Quran? 
J : 25 Nabi S : Berapa Jumlah Surah Madaniyah dlm al-Quran? sebutkan. 
J : 28 Surah, al-Baqoroh, al-Imron, al-Nisa" al-Maidah, al-Anfal, al-Tawbah, al-Ra'd, al-Haj, al-Nur, al-Ahzab, Muhammad, al-Fath, al-Hujurat, al-Rahman, al-Hadid, al-Mujadilah, al-Hasyr, al-Mumtahanah, al-Shaf, al-Jum'ah, al-Munafiqun, al-Taghabun, al-Thalaq, al-Tahrim, al-Insan, al-Bayinah, al-Zalzalah, al-Nashr. 
S : Berapa Jumlah Surah Makiyah dlm al-Quran? sebutkan. 
J : 86 Surat, selain surah tersebut di atas. 
S : Berapa Jumlah Surah yg dimulai dgn huruf dlm al-Quran? 
J : 29 Surah. 

Selasa, 10 Mei 2016

MENDOAKAN DALAM DIAM

Menjadi muda itu biasa, menikmati muda itu yang harus ditata. Tidaklah sulit mengikuti arah semena-mena, yang perlu perjuangan adalah menjadi diri sendiri, berlari pada target yang masih tertulis di tembok kamar itu, yang dulu setiap sepertiga malam kuajukan. 100 daftar target pencapaian si tunggal yang berjalan saja terengah-engah tanpa bisa bermegah-megah. Dalam kepasifan dan ketidakpastian, pasti ada titik penyerahan tapi bukan berarti menyerah. Saya sepenuhnya sadar, dunia ini realistis, materialistis pula. Tidak ada tempat pengakuan untuk orang yang ‘nama dan uang’ saja tidak punya, saya tahu itu. Cukuplah Rohmaan dan rohiim-Nya menjadi antusias dalam kerendahan diri dari tekanan realita. An-Nisaa ayat 45: “dan Allah lebih mengetahui (dari pada kamu) tentang musuh-musuhmu. dan cukuplah Allah menjadi pelindung (bagimu). dan cukuplah Allah menjadi penolong (bagimu).” 

Jumat, 05 Februari 2016

AWAL YANG BARU

24 Januari 2016 
Halaman ini masih kosong. Belum ditulisi apapun. Dan ingin menulis, tetapi bingung dari cerita yang mana? 2015 telah berlalu, waktu berjalan mengalir tanpa dirasa. Naik dan turun kehidupan mewarnai keseharian yang dinamis. Pertengahan 2014 saya bekerja, sudah nyaman dan enam bulan kemudian saya resign. Mencari kerja tidak gampang, mendekati banyak pintu, maupun mengetuk pintu yang masih tertutup. November hingga April masih mencoba peluang di kota pelajar ini. Kemudian orang tua menjemput dan mencoba peruntungan di tanah kelahiran, Jawa Barat. Tidak nyaman dengan dilema ketidakenakan, merasa kurang keras mencoba dan berusaha mencari kerja, omongan tetangga dan sanak rese’ (anggap pupuk kandang). Jalan Allah ternyata memang lebih teratur dari planning manusia. Positifnya, beberapa tahun diperantauan dan jarang sekali merasakan Ramadhan dan nikmatnya berbuka juga sahur bersama mamah bapa, akhirnya bisa dirasakan kembali. Ketika kita sudah memberikan proposal kita pada Allah, dan akhirnya memberikan seutuhnya keputusan pada-Nya, toh pintu yang selama ini diketuk bahkan digedor-gedor pun akhirnya terbuka dengan lapang. Bahkan sangat terang hingga menyilaukan, bahagia hingga bersyukur pun sepertinya tidaklah cukup. 
Allah mempertemukan saya dengan orang-orang dan tempat yang semoga menambah keberkahan dan membuat makna jihad itu bisa saya lakoni dengan teratur dan terarah. Setiap serpihan cerita ini, ternyata sangat teratur. Berbalik ke belakang, maupun maju ke depan tidaklah menjadi suatu pilihan yang rumit untuk diterima. Belakang memberikan pengalaman yang membuat saya waspada jika kelak bertemu dengan situasi yang mirip bahkan sama. Depan tetap misteri yang mau tidak mau harus dijalani. Seberat apapun keadaan toh ternyata bisa dilalui. Belajar itu tidak harus dengan cara yang mudah dan menyenangkan. 

Kamis, 04 Februari 2016

Belajar itu tidak selalu manis

9.6.2015 
Rintangan menuju RI 1 (Rich Interpersonal) SIM C. Motor enggak punya, naik motor aja baru bisa matic, udah gitu lurus doang, giliran belok masih tremor, belajarnya juga kapan? Yang punya pada sibuk sendiri, yang bisa diandalkan memang diri sendiri (note 1). Beberapa loker mengharuskan bisa mengendarai kendaraan, punya kendaraan sendiri dan SIM. Aku mah sepeda aja ngeremnya pake kaki, saking udah lama enggak nyentuh stang. Sinyal, minta dibikinin tower dulu. Eror terus, pulsa mahal, komunikasi tersendat, info sulit. Jarak, jauh dari mana-mana, yang nawarin kerja buat ngajar udah banyak, tapi pertimbangannya juga lebih banyak, ada sekolah baru tapi murid sama bangunannya aja masih belum keliatan, enggak punya motor sendiri berarti harus naik ojek semaju aja 10.000 pp 20000/hari. Sedangkan pendapatan enggak segitu. Lagian kalau WB di sini tuh beda, sok kalah dietah-etah. Semuanya dikebrukeun, dikerjain sendiri. Ada orang deket yang kerjanya di sekolah, boro-boro mau bawa, ngehalang-halangin yang ada juga, kalau enggak inisiatif sendiri, enggak bakalan jalan (note 2). Ke kantor pos harus naek angdes pp 20000, mau ke kabupaten sekali berangkat harus keluar 50000. Orangtua udah buat sehari-hari aja diirit-irit. Pasti ada rasa lebih hati-hati lah buat ngeluarin anggaran. Perjuangan orang beda-beda, yang bisa diterapkan satu orang belum tentu sesuai sama orang yang lainnya (note 3). 

Sabtu, 23 Januari 2016

MAMAH BUKAN PILIHAN

9.9.2014 
Dua puluh hari menjelang ulang tahun mamah yang ke 48. Mamah diundang dalam suatu acara di Bandung sana, dan tiba-tiba beliau meminta saya untuk mengirimkan ungkapan atau penilaian saya terhadapnya lalu saya kirimkan balasan sms yang berisi beberapa perwakilan kata yang sebenarnya masih kurang bisa mewakili semua yang selama ini saya terima. “Mamah itu bukan pilihan, saya tidak pernah memilih Mamah sewaktu lahir. Tapi saya beruntung punya Mamah yang selalu istimewa sebagai ibu, kakak, maupun teman. Mamah itu kuat dan murah hati, Mamah akan melupakan semua yang ia inginkan, agar bisa memberi apa yang saya butuhkan. Mamah selalu bisa membuat saya percaya diri. Dan yang terpenting adalah Mamah tidak pernah menghalangi saya untuk mencintai Allah, bahkan Mamah akan membentangkan seribu jalan agar saya dapat menggapai cinta-Nya, karena Mamahpun mencintai saya karena-Nya. Jazakillah bil jannah untuk setiap peluh dan airmata“. 
Saya dibuat menangis bombay membaca kembali berulang-ulang tulisan saya. Saya selalu ingin berusaha membuat beliau tersenyum, apapun akan saya lakukan. Saya mungkin memang kaku dalam mengungkapkan perasaan sayang saya lewat lisan kepada beliau, tapi tentu cinta saya yang sesungguhnya pada Mamah tertuang alami dalam setiap perjuangan yang saya lakukan setiap detiknya. Semua yang telah saya lalui hingga saya berada di sini saat ini, tidak akan bisa terwujud tanpa sikap demokratis dan pengorbanan Mamah. Tidaklah mudah bagi seorang ibu untuk melepas anak gadis semata wayangnya merantau dan jauh dari sisinya, tapi orangtua saya istimewa, memberikan kepercayaan penuh kepada saya untuk menggapai apapun yang saya inginkan, walaupun itu perlu banyak sekali hal yang harus diperjuangkan. Tidak peduli tekanan dari sisi manapun, lillahita’ala selalu memberikan yang terbaik untuk anaknya. Allah maha melihat perjuangan hamba-Nya, Allah akan selalu ada bersama nafas perjuangan saya dan orangtua.